Tempus

mengingat  kelahirannya, ia terduduk sesaat
tiga kelahiran yang ia tinggalkan
serupa lingkaran-lingkaran per yang sepertinya
meluncur—melesatkan

tapi kiranya semua berpaut
cerita baru adalah sederetan kisah lawas
yang terbangun dari tidur—dan bertingkah
seolah-olah bayi merah yang baru lahir

lalu jarum jam berputar melawan arah
serpihan-serpihan gambar bersebaran dan
melekat. kembali ke tempat semula
rapi dan rata seperti dinding putih yang gagah
memasang dada bagi segala yang harus dituliskan

jarum jam memutar haluan dinding kembali berhamburan
berputar—menyerpih dalam lingkar angin taufan
yang lampau terlepas sudah. jauh di depan adalah bayangan.
kini, cengkeramlah ia sekuat tangan!

2009

Kau Lelaki Bunga dan Aku Penyulam yang Keras Kepala

untuk temanku P

dari kursi besi teras rumahmu
aku bersandar dan memandangimu
merawat bunga-bunga
anthurium, mawar, dan aglaonema
sambil sesekali menengok ke arahku
tak bicara apa-apa

jarak adalah kau—yang pernah mencoba
menempatiku—dan aku—yang memainkan pintu
ketika kau mencoba memasukinya.
kubuka dan kututup semaunya
hingga terkadang suaramu hanya separuh terdengar
separuh lagi tertinggal di luar
aku biarkan kau terbakar

sekali waktu ingin kuajak kau melompati pagar
keluar dari halamanmu yang sesak
tapi kakimu keras menahan
matamu merapat tak mau melihat
telingamu hanya mendengar dirimu

kau lelaki bunga dengan banyak benang
jalin menjalin di benakmu
dan aku penyulam yang keras kepala
ingin mengurai dan menjadikannya sebuah
kristik yang (bagiku) sama eloknya di mata kita
tapi selalu; kau lelaki bunga dengan banyak
jalinan benang di benakmu
dan aku penyulam yang keras kepala
bicara dengan bahasa yang paling kita pahami
: tanpa suara

2009

Episode Perjalanan

kau menanam pohon randu
yang terus saja berbuah
seyba berkepala payung, berlengan panjang
dan berjari-jari banyak
tumbuh subur dalam rentang tahun-tahun
di tubuhnya burung-burung kecil lahir
anak-anak katak berenang dalam lingkar air

tapi, mengapa ada jejak-jejak tangan
pada patah dahan-dahan
pecah bola lampu taman, dan coretan di bangku-bangku
mengapa jalan tak pernah lurus–lengang
dalam panjang waktu?
menyisakan sesuatu yang ingin kaupungut kembali
tapi seseorang telah mencuri
dan membawanya pergi

di atas lintasan tak berbatas
kau berdiri dengan sepasang mata
menatap tajam jauh ke depan
mungkin dalam perjalanan, ada saatnya kita diam
ada saatnya–berjalan–dan berpaling
dari yang menyeru-nyeru di kejauhan

2009

Sesuatu yang Terlepas dari Tangannya

bola kaca menyala ketika ujung telunjuk menyentuh permukaannya
seperti bohlam yang mendadak menerangi kepalanya
yang penuh gambar, wajah-wajah tak dikenal
: ia drosera yang ingin melumat habis serangga-serangga
yang licin, dandy, dan modis!

(ia tidak lagi bisa bicara. matanya terpaku-diam, tanpa aksara
: tumpukan air hujan tertahan dam yang siap pecah kapan saja)

menjajakan boneka-boneka kayu murahan
—serupa dongeng masa kecilnya yang muram
jari-jari mungil milik bunga-bunga jalanan yang lusuh
bermain ikat rambut sambil tertawa-tawa di trotoar jalan
gigi-giginya adalah putih susu yang terlalu cepat dewasa
lalu ketika lelah, mereka bersandar pada graffiti durjana
—dengan taring berkilat yang siap menerkam

(benih-benih pemilik warisan terkulai ditelan malam
ada yang terlepas dari telapak tangannya. bergulir jauh
menembus hitam awan)

2009

Sepasang Kunang-Kunang di Dalam Tasku

aku menyimpan diam-diam waktu
yang kubekukan di sepanjang rel itu
sebuah rel menuju kota yang kubawa
ke mana-mana
di dalam tasku

kadang ia beradu dengan pengukur
yang tak lagi pandai menghitung jarak
atau penghapus
yang tak lagi lentur melenyapkan kenangan

tapi
kau tahu
ada sepasang kunang-kunang saling berkejaran
di situ. di dalam tasku

2009