Sketsa

March 16th, 2010

paviliun, di ruang rendah cahaya itu, kau menelan waktu demi waktu yang terhidang di meja penuh buku. di mana di antaranya terselip selembar sketsa roman muka yang tak pernah puas menggambarkan dirinya. mungkin karena ia selalu merasa ada yang belum selesai. berliter tinta telah habis. serupa darah, ia tergenang di banyak kenangan. peperangan demi peperangan. kehilangan demi kehilangan.

tiga pohon asam di halaman depan yang kau tanam berpuluh tahun lalu, kini telah tinggi. sepulang dari kerja kau selalu berhenti sejenak dan menatap ke pucuk-pucuk mereka; begitu rindang meneduhkan. diajarkannya padamu kesabaran, agar tak tumbuh tergesa-gesa. sebab hidup semestinya perkara menyempurnakan dari waktu ke waktu. tapi musim tak pernah satu. tak setia. atau datang tak pada tempatnya. bulan meninggi. kau rebahkan diri seraya menatap kembali sketsa wajah yang mungkin tak akan pernah selesai. meletakkannya hati-hati di dadamu. membawanya jauh-jauh ke dalam mimpi.

Dentang Lonceng yang Mengingatkan

January 20th, 2010

pertunjukan di dalam panggung kaca menelan habis jam meja dan susu rendah lemak di kamarmu. udara terpolusi keberangan yang terkunci. tak bisu. ia ada. hanya terpaku ditekan pegas dadamu–yang kian terlatih menjinakkan radang. para pelaku di pementasan cerita memakai banyak peran. awalnya serupa sekelompok pengayom bijak, di mana para jelata menggantungkan pundi-pundi keadilan; menunggu kabar baik dari medan perang (begitu kata mereka kepada yang mereka sebut pahlawan). matahari jatuh dan bulan menggantikan. panggung tak juga purna. para pelaku berganti peran lalu saling menyebut diri binatang (padahal kau ingin orang-orang itu tahu, bahwa sebagai hewan pun mereka tak punya tempat. hewan tak pernah berpura-pura. tak ada yang disembunyikan).

dentang lonceng jam jangkung di ruang tamu mengingatkanmu akan penunjuk waktu baru di pergelangan tangan. kau bangkit untuk menyiapkan panggungmu sendiri. kau bakar lagi jiwa dengan doa dan butir-butir kecemasan. juga beribu aksara sebagai penerang jalan. di sepanjang kepergian, takkan kau biarkan awan hitam pemanggul hujan memadamkan. mengalahkan.

Sebuah Kapal dan Mercusuar

November 23rd, 2009

terkadang kau membiarkan saja ke arah mana kakimu ingin menceburkan dirinya. seonggok kapal yang menutup telinganya dari teriakan mercusuar hingga arah membuka semua mata baginya. laut dangkal berkarang terjal. sesuatu yang disembunyikan malam. kau hanya berusaha menggerakkan ketetapan. sesuatu yang telah ditanam saat pertama tubuhmu penuh. sepenuh kitab pertama yang dituliskan. satu-satunya kitab dengan neraca di penghujung jalan.

penetapan membasahi sekujur tubuhmu dan jalan-jalan. riuh suara-suara saling bertabrakan. ada yang diam-diam menyelinap meniup-niupkan–mencoreng. ada yang sepakat dengan yang kau pertahankan. sebuah kapal terombang-ambing di tengah laut menantang. di tengah kabut kedua lututmu bergerak maju menghantam pedas ombak. sesekali kau mencuri pandang ke arah rumah terang. turunlah kirana turunlah. berumahlah engkau di kelima indera dan kalbu. agar terang. agar lapang menakar kejadian yang ditimpakan.

Jembatan yang Lahir dari Bibirmu

November 20th, 2009

saat pertama aku dilahirkan, dari sepasang bibirmu mengalir potongan-potongan papan yang kemudian tersusun menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan antara dua masa, dan kanak-kanak telingaku. ibarat sebuah cerita dan palu yang sewaktu-waktu siap dijatuhkan. merangkai usia dengan sederet pagar dan benih dosa-dosa.

di tubuh bumi yang tampak kian compang camping, aku tumbuh dewasa. kau mulai kehilangan daya dan aku semakin menajam–melenting–hinggap di mana-mana. juga tak sengaja diterbangkan angin yang memaksaku ikut bersamanya. ujung-ujung jariku kerap mencari ujung-ujung jarimu. peredam getar dan anak panah yang meluncur seperti diperintahkan. kau mulai kehilangan daya dan hujan membuatku gemetar. cahaya meredup di ujung malam. di pucuk kedua jalan, kita memadu badan. menata getar di ribuan bilah-bilah papan.

Setelahnya, di Sebuah Teras

October 29th, 2009

untuk g

sore telah lepas
menyerpih ia di atas tuts tuts
mesin ketikku
seperti remah-remah roti
menunggu sekelompok merpati
kubereskan meja dan kubersihkan
sisa-sisa kegaduhan semalam
dan beribu-ribu jam yang telah lalu

jari-jariku luka–berdarah
juga telapak tanganku
begitu tajam yang ingin kugenggam
sedang yang remah, terlepas sudah
dengan apa kutuliskan esok
sedang sesaat serambi terasa kosong

di antara angka-angka itu
aku ingin berhenti sejenak
menutup telinga dari suara-suara
yang hendak menjemput
dan memaksaku pergi
aku ingin diam. sesaat diam.
memasuki lubang-lubang kecil
di tubuh malam
dan mencair di keheningannya

12 Oktober

October 12th, 2009

bersandarlah padaku
pada kulit yang belajar darimu
bagaimana menyentuh
dan meredam
ombak-ombak kecil
yang menghempas dinding-dinding
jantung

di tepi matamu, ibu, matahari meredup
jalanan sepi dan jalur-jalur kereta
kehilangan suara nyaring peluitnya
bantalan-bantalan kayu tergolek
ditinggalkan roda-roda besi yang
dulu kerap mengguncangnya

perjalanan tak lagi menyakiti pecah
tapak-tapak kakimu
di mana aku berumah dan mengabadikan
cahaya yang berlepasan dari langkah-langkahmu

dinding-dinding bergetar di dadamu yang lapang
rapatkan baju hangatmu, ibu
mendekatlah, selalu. biarkan aku
meminum airmatamu.

Monolog Pagi

June 30th, 2009

ramainya kesunyian malam
kerap membuatku terjaga
angka-angka tumpah melampaui
batas-batas almanakmu
makin sempit tempatku fana
sedang tak banyak yang kubawa
di saku baju
lubang yang kujahit
acap kali melonggarkan ikatannya
hingga tercecer yang sudah
remah-remah itu

tetapi pagi mengoleskan rasa yang berbeda
wanginya menghambur di ruang tamu
mengendap di secangkir kopi
dan bising koran pagi
jarum jam dan sikat gigi kembali berpesta
meski tak sepenuhnya, kurasa tubuh
seperti berjalan sia-sia.

Tempus

April 22nd, 2009

mengingat  kelahirannya, ia terduduk sesaat.
tiga kelahiran yang ia tinggalkan
serupa lingkaran-lingkaran per yang sepertinya
meluncur—melesatkan.

tapi kiranya semua berpaut
cerita baru adalah sederetan kisah lawas
yang terbangun dari tidur—dan bertingkah
seolah-olah bayi merah yang baru lahir

lalu jarum jam berputar melawan arah
serpihan-serpihan gambar bersebaran dan
melekat. kembali ke tempat semula.
rapi dan rata seperti dinding putih yang gagah
memasang dada bagi segala yang harus dituliskan.

jarum jam memutar haluan dinding kembali berhamburan
berputar—menyerpih dalam lingkar angin taufan
yang lampau terlepas sudah. jauh di depan adalah bayangan.
kini, cengkeramlah ia sekuat tangan!

Kau Lelaki Bunga dan Aku Penyulam yang Keras Kepala

April 18th, 2009

untuk temanku P

dari kursi besi teras rumahmu
aku bersandar dan memandangimu
merawat bunga-bunga
anthurium, mawar, dan aglaonema
sambil sesekali menengok ke arahku
tak bicara apa-apa

jarak adalah kau—yang pernah mencoba
menempatiku—dan aku—yang memainkan pintu
ketika kau mencoba memasukinya.
kubuka dan kututup semaunya
hingga terkadang suaramu hanya separuh terdengar
separuh lagi tertinggal di luar
aku biarkan kau terbakar

sekali waktu ingin kuajak kau melompati pagar
keluar dari halamanmu yang sesak
tapi kakimu keras menahan
matamu merapat tak mau melihat
telingamu hanya mendengar dirimu

kau lelaki bunga dengan banyak benang
jalin menjalin di benakmu
dan aku penyulam yang keras kepala
ingin mengurai dan menjadikannya sebuah
kristik yang (bagiku) sama eloknya di mata kita
tapi selalu; kau lelaki bunga dengan banyak
jalinan benang di benakmu
dan aku penyulam yang keras kepala
bicara dengan bahasa yang paling kita pahami
: tanpa suara.

Episode Perjalanan

April 2nd, 2009

kau menanam pohon randu
yang terus saja berbuah
seyba berkepala payung, berlengan panjang
dan berjari-jari banyak
tumbuh subur dalam rentang tahun-tahun
di tubuhnya burung-burung kecil lahir
anak-anak katak berenang dalam lingkar air

tapi, mengapa ada jejak-jejak tangan
pada patah dahan-dahan
pecah bola lampu taman, dan coretan di bangku-bangku
mengapa jalan tak pernah lurus–lengang
dalam panjang waktu?
menyisakan sesuatu yang ingin kau pungut kembali
tapi seseorang telah mencuri
dan membawanya pergi

di atas lintasan tak berbatas
kau berdiri dengan sepasang mata
menatap tajam jauh ke depan
mungkin dalam perjalanan, ada saatnya kita diam
ada saatnya–berjalan–dan berpaling
dari yang menyeru-nyeru di kejauhan