Sajak Gunawan Maryanto: yang selalu terjadi di hari minggu

September 8th, 2008

:inez dikara

ia mengacungkan kuas itu persis ke mukaku
mungkin bertanya atau hanya menggerutu:
apa aku berusaha menghapus jejak di dinding
sebagaimana dulu kerap kumatikan lampu
untuk mengakhiri pertunjukannya
tapi nyatanya ia justru bertanya,
“di mana kausimpan album kita
yang dulu ada di meja itu?”

aku hanya memegang dadaku
tak menunjuk sesuatu, selain rasa sakitku

lalu ia menempelkan telinga
ke televisi. entah merekam apa
“kau dengar detak jantungku?”

kubenamkan wajahku ke dalam bantal
dalam-dalam. jadi bulan-bulanan ingatan

ceritaku, anakku, tak pernah berakhir dalam sebuah botol. layaknya hujan, ia menjelma selokan yang melintas di bawah jendela kamarmu, menyaru kabut di kaca rumahmu.
meski kadang berhenti menjadi kursi bagi tidurmu yang tak nyenyak

ia tertawa, keras dan menggelikan. juga mengerikan
luar biasa, ia bisa dengan cepat menggulung ingatan
aku mesti berlama-lama menunggu,
memilih waktu dengan jitu
: ini bukan sekadar mencuci kenangan
atau memasaknya dengan cara lain

sudahlah,
kami lantas membelah sepi;
kendaraan meluncur kesetanan
tak perlu mengerling di tiap tikungan
atau menguras senyuman
mereka toh telah menutup daun pintunya
begitu sepi yang tengah kauhayati itu
: menjadi dan susah dimengerti

jogjakarta, 2008

Ruang Istirah dalam Sajak Inez Dikara oleh Al-Muzzammil

November 27th, 2007

Kita banyak menemukan penyair yang lihai bersajak pendek, namun sering kali terjungkal dalam guratan sajak-sajak panjang. Sebaliknya pun begitu.

Menulis sebuah sajak pendek lebih mudah ketimbang membuat yang panjang, inilah kesalahan yang telah lama kaprah dalam benak masyarakat awam. Sajak pendek bagaimanapun memiliki sisi-sisi yang tak dapat diabaikan. Menuliskannya tak berarti lepas dari bahaya. Salah-salah, penyair dapat terjebak dalam kedangkalan berbahasa. Secara gamblang saya berpendapat, kekuatan sajak panjang ada pada narasi, sedang kekuatan sajak pendek terletak dalam susunan kontemplasi. Sekali lagi, kalimat yang baru saja saya sampaikan tadi adalah sebuah pendapat yang belum layak dijadikan patokan.

Dalam ranah persajakan kontemporer indonesia, cukup ramai nama-nama penyair yang dikenal terampil menggunakan majas dan matra dalam berbagai metode, guna mencipta sajak-sajak pendek yang gurih. Beberapa, seperti Joko Pinurbo, gemar menggunakan ironi-ironi segar. Sementara Ook Nugroho atau Raudhal Tanjung Banua misalnya, aktif mencipta kesan-kesan metafisik. Di lini terakhir, segelintir penyair lainnya masih belum bosan mengolah tema-tema lama. Lanskap.

Inez dikara adalah salah satu dari segelintir itu. Sajak-sajaknya kebanyakan berawal atas kekaguman terhadap situasi alam sekitar. Saya memang belum sempat mewawancarainya secara langsung, tapi kesan itu acap saya tangkap lewat beberapa sajaknya.

Misalnya satu sajak di bawah ini:

sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan

malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan

(Sogan Village, Inez Dikara)

Rasakan usaha sang penyair memindahkan suasana malam yang visual dalam sepotong sajak yang literal. Penyair benar-benar bicara soal galeri di sudut kota, bukan yang lain. Tentang sesuatu, bukan seseorang. Sebuah sajak pendek yang kembali pada fitrahnya; tidak antroposentris, melainkan kosmosentris.

sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan

Tak perlu bertanya, sajak ini tentang ‘kota’ mana. Sebab selanjutnya, ‘gending jawa’ telah memberitahukan pembaca tempatnya. ‘Galeri’ kemudian menyempitkan mata pembaca sebelum liar meraba-raba. Semakin sempit ketika Inez menyajikan ‘kursi-kursi’, ‘halaman’, berikut ‘lampu-lampu’ lengkap dengan ‘kurungan’-nya.

Sekarang, pembaca tinggal memilih, benda mana yang ingin disentuh. Saya pribadi akan memilih kursi sebagai perlambang rasa nyaman, tempat perenungan, atau wahana istirah yang damai. Ingin memilih lampu-lampu yang redup pun tak mengapa, meski ia terlihat suram. Jelasnya, inez membebaskan pembaca. Inez menghadirkan segala yang pernah tampak di matanya.

Lantas, di mana letak kontemplasi sajak ini? Simak lanjutannya:

malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan

Anda telah duduk? Sudah merasa nyaman dengan kesunyian? Dengan keremangan? Sekarang waktunya bersulang bersama malam. Malam yang dahaga. Malam yang haus akan ingatan. Apapun warna ingatan itu. Silahkan duduk dan merenung-renung sendiri. Gali kembali sumur ingatan anda sedalam-dalamnya. Sekarang, bagilah kenangan dan ingatan itu dengan malam. Malam yang dahaga.

Alih-alih memunculkan sebuah kontemplasi penting dalam sajak, Inez malah mengajak pembaca berkontemplasi lebih dalam. Bukan sesuatu yang disodorkannya matang-matang, tapi sebuah jalan untuk mencapai titik puncak perenungan. Itulah salah satu fungsi sajak atau puisi. Sebuah sajak mestinya rendah hati. Tidak sok berilmu dan menggurui (atau membodohi) pembacanya. Dengan mengikuti gaya inez bercerita lewat sajak, kita terdorong untuk merenungkan sesuatu melalui jalur yang sudah dibangun. Semuanya, termasuk para pemalas yang apriori.

Tak perlu saya berkoar-koar banyak soal rapihnya struktur fisik sajak ini. Seakan sengaja, semua benda-benda kongkret diletakkan larik per larik pada bait pertama, /1/ galeri, /2/ gending jawa, /3/ kursi-kursi, /4/ halaman, /5/ lampu-lampu. Lantas menumpuk kesan malam yang bersinestesia dengan indera lidah (dahaga) pada bait kedua. Dengan bentuk seperti ini, pembaca benar-benar diberikan jeda untuk setelahnya merenung lagi lebih dalam.

Jelasnya, sajak-sajak inez bukan sebuah pergulatan yang melelahkan, melainkan peristirahatan yang menenangkan. Tak perlu berpikir rumit untuk mencerna sajak-sajaknya. Cukup merenunglah di suasana paling nyaman. Lebih dalam.

(selengkapnya tentang Al- Muzzammil dapat dilihat di http://kuasajak.blogspot.com/)

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (10-selesai) oleh JJ Kusni

February 5th, 2007
Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [10]
Bertele-tele sudah ocehan ini, yang tentu saja bukan suatu kritik, ulasan atau pun resensi, tapi lebih bersifat “berbincang-bincang” tentang kesan subyektif, setelah membaca puisi-puisi Inez yang berhasil kuhimpun, sambil melirik ke kanan-ke kiri puisi-puisi lain. Ketika menulis perbincangan ini, saya mencoba merenungi kata-kata Jean Bollack, philolog dan filosof Perancis yang banyak mempelajari penulis-penulis Yunani seperti Empédocle, Héraclitus, Epicurus, Parménidus dan …. juga tentang penyair Paul Celan. Berkata Jean Bollack, semacam menyimpulkan pengalamannya: “… teks adalah suatu masalah sentral. Ketika membacanya kita bisa dengan gampang terjerumus oleh hal-hal semu, diganggu oleh penyimpangan-penyimpangan. Karena itu pada setiap pekerjaan [baca: pengkajian -- JJK], saya senantiasa membiasakan diri untuk berdialog dengan suatu tradisi: Sebelum memulainya, harus terlebih dahulu mengenal penulis yang kita mau tulis. Harus mengkaji sang pengarang tersebut dengan bertanya: Apa yang mau ia katakan? Dan mengapa ia berkata demikian?” [Lihat: Le Monde Livre, Paris, 02 Februari 2007].
Barangkali kata-kata Bollack ini mau mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya, untuk menulis tentang seorang sastrawan/penyair, ia mengawali kegiatannya dengan mengenal para sastrawan tersebut sebagai langkah awal mengenal “teks” yang ia sebut sebagai “masalah sentral”. “Agar memahami apa yang mau dikatakan oleh sang sastrawan/penyair, mengapa ia berkata demikian”. Sebagai contoh Jean Bollack menuturkan pengalamannya saat menulis empat jilid buku tentang penyair Paul Celan. “Saya memang mengenal baik Paul Celan dan saya membacanya selagi ia masih hidup… Tapi, terusterang, saya lama tidak memahaminya. Lalu saya berkata pada diri saya, mengapa saya tidak melakukan usaha ke arah itu sebagaimana yang saya lakukan terhadap sastrawan-sastrawan Yunani Kuno? Kemudian, selang sepuluh tahun, setelah Celan meninggal, saya mulai belajar membaca Celan lagi”. “Saya berketetapan hati untuk mempelajarinya lebih teliti, karena agaknya pada penulis ini terdapat suatu bahasa di dalam bahasa. Saya juga mempelajari ungkapan-ungkapan yang dia ciptakan. Saya mempelajari Celan selama dua puluh tahun. Tapi ingin juga saya katakan, bahwa seandainya saya tidak mempelajari penyair-penyair lama seakan-akan mereka itu adalah penyair-penyair kekinian, rasanya saya tak akan mungkin melihat tempat mereka dalam sejarah. Demikian juga terhadap Celan” [Ibid]. Jika cara kerja Jean Bollack ini bisa disebut sebagai suatu metode, maka apa yang kulakukan ketika membaca Inez sangatlah jauh dari metode demikian karena itu kukatakan tulisan ini hanyalah kesan subyektif dan perbincangan yang kemudian kucantumkan sebagai sebuah “jurnal seorang awam sastra. Lebih merepotkan lagi, karena proses Inez sebagai penyair masih jauh dari selesai. Apalagi berdasarkan catatan di bawah puluhan puisinya, tertanda tahun 2006 sebagai tahun paling awal. Karena itu pula, saya mendapat kesulitan besar untuk membuat suatu kesimpulan, kecuali membatasi diri pada pembacaan gejala. Hanya saya merasa beruntung karena tulisan ini tidak lebih dari sebuah “jurnal”. Metode Bolllac pun tidak bisa saya terapkan. Jika benar bahwa Inez baru mulai bersyair pada tahun 2006, dalam perjalanan panjangnya “mengembarai sebuah dunia” , jika menggunakan istilah Inez sendiri, apabila ia tidak jera dan cepat lelah serta tidak tergesa-gesa, berdasarkan apa yang saya baca, bukan tidak mungkin ia ditunggu esok kepenyairan yang bercahaya. Sekali pun ia juga tak punya pretensi macam-macam dalam berpuisi, kecuali mengungkapkan diri. Perjalanan panjang “di sebuah dunia” [ in a world], sekali lagi istilah yang ia gunakan, akan membuat Inez menjadi dirinya sendiri. Menemukan dirinya sendiri sebagai penyair. “Menjadi lain” dalam pengungkapan, jika meminjam istilah almarhum penyair asal Aceh, Agam Wispi. “Menjadi lain” yang wajar serta alami tentu saja. Menjadi diri sendiri, saya kira, adalah suatu keniscayaan. Karena jalan epigon agaknya suatu jalan macet ke depan. Epigon tak pernah melebihi yang ditiru. Kerja keras tak mengenal lelah dari Jean- Bollack selama 40 tahun lebih memperlihatkan suatu teladan sehingga ia menemukan metode sendiri. Dengan kerja keras menggunakan metode pendekatannya, Bollack antara lain sudah menerbitkan karya-karyanya tentang Jean Beaufret [1955], Denis O’Brien [1987], Marcel Conche [1996], Barbara Cassin [ 2998], A.H. Coxon [1986], Sumbangan Reinhardt Tahun 1916, Pelajaran Dari Heidgger, dan lain-lain…
Sekali pun banyak syair sudah ditulis, tapi kukira, kehidupan tidak pernah kelebihan syair dan penyair. Apalagi penyair yang seperti dikatakan Inez, ingin mengajak “kita terbangun dari tidur yang teramat panjang” yang “kejar mengejar dengan waktu” , memburu “makna”, seperti “kereta berlari mengejar masa depan” di “tanahairku/ ingin harakiri”.***
Paris, Januari 2007
———— ——— - —-

JJ. Kusni

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (9) oleh JJ Kusni

February 5th, 2007
Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [9]
Perihal tema yang diolah oleh Inez, seperti saya tuturkan di atas, adalah masalah-masalah keseharian yang dekat dengan dirinya. Kecintaannya kepada sang Ibu, masalah dapur, yang mungkin dikarenakan  ia  suka masak-memasak, pemandangan alam dan musim Chicago di mana ia pernah tinggal dan belajar selama bertahun-tahun, perjalanannya di dalam metro [kereta di bawah tanah] serta kenangan-kenangannya. Bagi saya sendiri,  karena dipengaruhi oleh nasehat Rendra semasa remajaku, saya tidak pernah membatasi diri dengan tema. Maksudku tema apa pun bisa diangkat dan diolah. Tinggal bagaimana kita menggarap tema itu. Dalam mengolahnya, seorang penulis akan sangat dipengaruhi oleh pola pikir dan pandangan hidupnya. Dengan pandangan hidup inilah si penulis mengolah tema-tema yang ia angkat.  Karena penyair berkarya ditemani oleh imajinasinya, maka apa yang ia tulis belum tentu suatu kenyataan yang benar-benar ada walau pun imajinasi itu berkembang dan dikembangkan atas dasar kenyataan lingkungan di mana ia hidup ditambah dengan acuan-acuan melalui bacaan dan berbagai sumber lainnya. Dengan imajinasi beginilah, sambil membayangkan suatu kemungkinan,  kukira Karl May  menulis, Jules Verne menulis karya-karya mereka. Jika menggunakan lukisan Lu Sin, pengarang Tiongkok pada tahun 1930an, tokoh-tokoh yang ia gambarkan kakinya berasal dari Nanking, kepalanya dari Beijing, tangannya ia pungut dari Shanghai. Lalu ia gabungkan dan melahirkan tokohnya sendiri sesuai dengan pandangan hidup dan apa tujuannya menulis. Artinya, imajinasi itu mempunyai dasar sosial atau kenyataannya. Karena itu,  karya sastra bisa menjadi salah satu sumber penuntun penelitian bagi para ilmuwan sosial untuk memahami keadaan masyarakat pada suatu zaman.  Keadaan begini sering dikatakan bahwa “sastra adalah cerminan atau anak zaman”.  Perkembangan lebih lanjut dari pandangan ini, para sejarawan  bahkan menganggap cerita rakyat, legenda merupakan salah satu sumber sejarah. Cerita Dracula atau  Frankenstein pun sebenarnya ditulis tidak lepas dari keadaan sejarah pada waktu itu. Yang lebih sederhana adalah filem Charles Chaplin seperti “Sang Diktator” yang dengan tajam mengkritik Hitler.  Tidak berbeda halnya dengan Marquis de Sade yang umum dikenal secara dangkal sebagai penulis erotik. Padahal jika diusut secara  lebih jauh, Sade dengan karya-karyanya mempunyai maksud tertentu yang tersembunyi.  Sade mengutuk  kerakusan dan keangkuhan kekuasaan yang menimbulkan malapetaka pada orang lain [lihat: Geoffrey Gorer, "The Life and Ideas of the Marquis de Sade", Panther Books Ltd, London, 1934, 203 hlm].
Pemilihan tema, pemilihan masalah yang diangkat dan diolah, saya sendiri menganggapnya sebagai suatu pilihan bersikap yang bukan kebetulan. Lepas dari pada bagaimana si penulis mengolah tema  tersebut.  Barangkali bisa diambil suatu analogi: Ketika seorang juru potret membidik suatu obyek, tentu pengambilan obyek itu dibarengi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu. Yang menarik dari puisi-puisi Inez, ia tidak berhenti pada pemotretan keadaan, tapi mencoba mencari makna. Keadaan masyarakat yang mengundahkannya karena ketiadaan kepastian hukum,  ia lukiskan misalnya  dalam kata-kata:
terowongan bawah tanah
musim dingin
[Dari: Windy City Dalam Kenangan"]

Tentu saja ini adalah penafsiranku atas sebuah puisi yang umumnya berwayuh arti.  Bahwa seandainya Inez tidak menulis dengan maksud demikian, tentu saja bisa saja terjadi. Tapi ketika puisi disiarkan ia sudah dilepaskan kehadapan pembaca yang berdaulat. Sehingga bisa saja terjadi maksud penyair berbeda dengan pemahaman pembaca.  Pembaca yang berdaulat tidak niscaya mengikuti apa yang dimaksudkan penyair. Penyair, kiranya  sudah kehilangan  kewenangan mendikte pembaca mengenai tafsiran tulisannya.  Kritik, resensi dalam hal ini pun paralel dengan kedaulatan pembaca. Memahami kritik sebagai keniscayaan memahami alur pikir penyair atau penulis, dan memandang penulis sebagai sejenis “dewa” tak bercela,  tidak sepenuhnya bisa diterima. Memahami adalah satu soal, tapi setuju dan tidak setuju adalah soal lain. Benar dan tidak benar lebih lain lagi.
Jika dalam konteks film, Garin Nugroho pernah berkata, “nilailah sebuah karya berdasarkan pretensi pembuatnya”, pertanyaan saya:  Apa penonton tidak berhak berpendapat dan niscaya memahami  si pembuat filem? Apakah filem Arifin C Noer, G30S/PKI” tidak boleh dikritik, semata-mata karena  alasan harus “berdasarkan pretensi pembuatnya”? [baca:Arifin C. Noer. Mengenai filem ini saya pernah bicara langsung pada Arifin dan Jajang ketika mereka di Paris ]. Pendapat seperti ini terkesan pada saya, seakan menyirat adanya keinginan memahami pembuat filem dan atau penulis, dan mengelak kebebasan serta kedaulatan pembaca dan penonton. Apa gerangan  nama dan artinya sikap begini?! Lalu diapakan dan di mana tempat kritik serta atau resensi? Apakah kritik dan resensi hanya diminta untuk memuja-muji belaka? Apa bedanya pandangan begini dengan pembungkaman kritik dan resensi? “Pretensi” dan “dampak”, apalagi penafsiran, bisa mempunyai jarak besar. Nama tidak menjamin makna. Penafsiran merupakan bagian dari kedaulatan pembaca dan penonton. Mengapa kedaulatan ini harus “berdasarkan pretensi pembuatnya”? Inikah yang disebut apresiasi?
Sehubungan dengan masalah ini, saya menghargai sikap Inez yang tanpa “pretensi” dalam bersyair. Membiarkan pembaca syairnya menilai puisi-puisinya.  Barangkali sikap inilah yang sekaligus  membebaskan Inez dari segala beban psikhologis dan membuka pintu ke jalan maju lebih jauh. Nama agaknya bukan menjadi tujuan Inez, karena puisi baginya  merupakan sarana pengungkap diri dan berlayar sadar di samudera sastra.***
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]

 

Lampiran:
Puisi-puisi Inez Dikara
1. DI SEPANJANG MICHIGAN AVENUE
daun daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue

gerbang sekolah
besi besi dingin
tempat kau selalu menungguku
pusat belanja dan jendela besar toko buku
di sana,
kau dan aku menghitung butir butir hujan yang jatuh

gegas kaki kaki kejar mengejar dengan waktu
riuh suara kendaraan
menambah ramai benak orang orang
tenggelam mereka dalam masing masing pikiran
: orang orang kesepian

di sepanjang michigan avenue
ada getar yang tertinggal
seransel kenangan letih di pundakmu

[Milis Apsas, 26 Januari 2007]
2.TANAHKU INGIN HARAKIRI
bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin.

musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyi

tanahku
ingin harakiri.

[Milis Apsas, 02 Desember 2006]
3. Winter Song 
dari balik jendela kamar
kulihat pohon pohon berbunga salju
di bawahnya seekor tupai
melompat kian kemari mencari kenari

di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan

angin bertiup kencang mendorong
tubuh para pejalan
begitu gigil baju hangat mereka rapatkan
lalu kulihat ada butir butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku

[Apsas, 27 Januari 2007]
4. PAGI YANG BERTAMU DENGAN DUA KWATRIN

mentari selalu mencari ibu
kala pagi datang bertamu
dibisikannya pada bunga bunga
agar sabar menunggu

mawar merah dan kana
tumbuh secantik hati ibu
tempat aku berkaca
berharap kutemu wajahku d
i sana

[Apsas, 13 Desember 2006]
5. SUMBU
tali sumbu hampir habis
terbakar masa
entah apa dimasak
oleh tungku di atasnya
begitu tebal jelaga
adakah tertinggal makna?
[Apsas, 21 Desember 2006]
6. YANG TUMPAH DI MANGKUK MALAM

hangat airmata tumpah di mangkuk malam
entah siapa yang hendak meminum sepi
jeda yang tak berisi
tawa anak dan kecipak air

doa berhambur memenuhi udara
pada-Nya kau dan aku mencoba bercerita
tentang kata kata yang terbang tinggi
lalu jatuh di pucuk pucuk batu
terberai dan menyatu kembali dengan ragu
begitu berulang
hingga penantian usai
dan kita tak lagi berselisih dengan waktu

[Apsas, 02 Januari 2007]
 by  inezdikara
rindu yang biru
di bibir malam yang bisu
29 November 2006
by  inezdikara
ingin kulipat hari
lalu kubentangkan malam
tempat lelah aku sandarkan
dari panjang perjalanan
lalu aku letakkan pundipundi doa di sisi
berharap malam nanti
Kau datang sebagai pencuri
27 November 2006

9. Yang Tertinggal di Kursi Kereta

by  inezdikara
laju kereta di sepanjang rel dua kota
kau dan aku pernah ada di dalamnya
mencoreti diari dengan banyak rencana
hingga peluit berbunyi di akhir perhentian
dan kita terbangun dari tidur yang teramat panjang
(tertinggal di kursi
lembar lembar diari menunduk
basah dengan airmata)
22 November 2006
 10. Windy City Dalam Kenangan
by Inezdikara
terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan
08 November 2006
11. Musim Di Dadamu
by  inezdikara
hanya ada satu musim di dadamu
aku bangun tenda dan berpiknik di sana sepanjang hari
lalu aku tinggalkan remah remah roti sebagai tanda
agar bisa kau kunjungi aku bila musim hatiku berganti
07 November 2006

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (8) oleh JJ Kusni

February 3rd, 2007
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [8]
Sekarang, saya sampai ke masalah terakhir: pengamatan dan tema. 
Ketika memperhatikan puisi-puisi Inez, nampak bahwa penyair, [yang kukira di hari-hari mendatang dinanti oleh sekian kemungkinan asalkan ia bisa bertahan di jalan panjang perjalanan kepenyairan], akrab dengan alam, keluarga — terutama ibunya,  soal-soal keseharian seperti dapur, sendok-garpu, dan soal-soal sederhana yang luput dari perhatian. Soal-soal sederhana dan umum inilah yang agaknya banyak diangkat oleh Inez sebagai tema olahan. Pada kemampuan menyerap nilai hakiki dari hal-hal keseharian, sederhana  dan umum dikenal oleh semua orang, justru terletak keunggulan penyair. Memberi yang biasa, umum dan keseharian itu, suatu makna universal. Dengan mengangkat tema-tema ini, saya melihat sekali lagi dan lagi-lagi kesederhanaan Inez. Kesederhanaan tanpa bombasme dan ambisi berkelebihan tanpa niat membuat suatu gebrakan apalagi yang disebut inovasi atau pembaharuan.   Ia bersyair secara alami sesuai suara nurani sambil tanpa lalai menggulati pencapaian puitisitas. 
Soal dapur, sendok, garpu, meja makan, pemandangan alam yang diangkatnya ke dalam puisi, selain barangkali karena ia memang termasuk seorang yang suka masak, mengingatkan saya pada anjuran Rendra ketika kami serumah di Yogya pada masa remaja Yogyaku. Rendra pada waktu itu menasehati saya agar mengamati segala sesuatu, memperhatikan dengan indra segala apa saja dengan penuh ketelitian. Pengamatan ini, ujar Rendra, pada suatu saat akan muncul dengan sendirinya dan berguna ketika kita menulis sesuatu. Membantu kita melengkapi pelukisan imajinasi kita, memperkaya metafora alias perbandingan-perbandingan yang perlu. Misalnya: Jika ada seorang perempuan lewat di depanmu, amatilah dia secermat mungkin. Bagaimana gincu dan bibirnya, tubuhnya,  tatanan rambutnya, dan sebagainya. Amati meja, kursi, sendok, garpu, batu, sungai, air yang mengalir, warna langit dan sebagainya… Amati, amati, amati segalanya dengan teliti, di samping berlatih, berlatih, mencoba dan mencoba dalam segala macam bentuk perpuisian untuk mematangkan serta meningkatkan taraf tekhnik berpuisi, adalah inti nasehat Rendra yang selalu kuingat sampai sekarang. Puisi  yang puisi tidak lain dari hasil kerja keras tak kenal lelah. Pengamatan dan hasil pengamatan cermat ini akhirnya mengendap di ingatan kita diam-diam dan menjadi bagian dari diri kita sehingga pada suatu ketika, saat kita menulis,  ia akan muncul secara alami.  Hal inilah yang kemudian yang kunamakan sebagai kesadaran berpuisi dari segi tekhnik. Karena tekhnik berpuisi tentu berbeda dengan tekhnik berpidato, tekhnik menulis artikel, esai atau cerpen. Puisi seniscayanya tetap puisi, jika menggunakan istilah penyair Amarzan Ismail Hamid dari Majalah Tempo, Jakarta ketika berbicara tentang alm. penyair Agam Wispi di dalam Majalah Medium, Jakarta.
Ketika Inez berbicara tentang sendok, garpu, meja makan, pemandangan alam musim dingin,  musim gugur di Chicago di mana ia pernah bertahun-tahun tinggal, gejala “memperhatikan segala sesuatu dengan cermat” ini, sempat kutangkap pada Inez [Lihat: Lampiran puisi-puisi Inez di tulisan terdahulu]. Masalahnya: Apakah pengamatan ini dilakukan dengan sadar atau masih bertingkat naluri? Pertanyaan yang hanya Inez saja bisa menjawabnya dengan pasti. Apa yang kutulis ini pun, sama sekali bukan suatu nasehat, tapi lebih bersifat penuturan pengalaman dari seniorku dalam perjalan mereka atau dia untuk mengungkapkan diri menggunakan puisi tanpa perduli apakah ia akan menjadi penyair, diakui sebagai penyair atau tidak. Yang masih dan melekat dalam di ingatanku adalah pernyataan Rendra di Gampingan kepadaku di depan Mbak Soenarti alm. bahwa “mengungkapkan diri adalah hak dasar anak manusia”. Karena itu Mbak Ken Zuraida dan Rendra sangat marah ketika mengetahui dari teman-teman Ikatan Sastrawan Indonesia, Kalimantan Tengah di Palangka Raya,  bahwa di akhir masa kerjaku di Palangka Raya, Kalteng, kampung kelahiranku, aku sempat dilarang berbicara di depan publik, dicekal untuk menulis dan bahkan memberi makalah di seminar-seminar publik. Kemarahan besar Rendra dan Mbak Ken ini, mereka ungkapkan dalam suatu percakapan telpon jarak jauh Paris-Jakarta. Pelarangan begini, kupahami sebagai kekuatan kata dan sastra. Kata yang membuat Cak Durasim, dibunuh oleh fasis Jepang dan sekarang di Turki, Orhan Pamuk diancam kematian.  Kata dan pena yang sangat ditakuti oleh Napoleon Bonaparte. Kata dan sastra hadap-hadapan dengan ajal. Bertarung dengan ajal. Tanda bahwa sastra adalah sebuah republik berdaulat di mana para warganya bebas berpikir dan menyetiai kebebasan berpikir ini. Cara para pengguna kata memainkan peran pengawasan sosial dan tanggungjawab kemanusiaannya. Sastra adalah sebuah dunia yang tak pernah usai dijelajahi karena ia seluas kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang selalu menyimpan misteri, buhul kemelut tak usai diurai. Starting point, point de départ, dermaga keberangkatan Inez ketika melauti dunia puisi, adalah dermaga yang mengena. Ini pun kalau pengamatanku atas puisi-puisinya yang berhasil kuhimpun, benar dan apakah Inez benar-benar mau menjadi penyair atau sebatas suatu keisengan mengisi waktu senggang di antara kesibukan-kesibukan lainnya.  Keisengan akhirnya berujung dengan ketenggalaman dan kelenyapan tanpa gaung dan gema seperti yang dikatakan oleh Chairil Anwar: “aku mati iseng sendiri”.  *** 
Paris, Januari 2007

————————–

JJ. Kusni
[Bersambung...]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (7) oleh JJ Kusni

February 2nd, 2007
Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [7]
Saya tidak tahu, sejak kapan Inez mulai menulis puisi. Saya tidak mempunyai dokumen yang lengkap tentang hal ini. Hanya sekali lagi dari bahan-bahan yang saya miliki, nampak bahwa Inez sudah biasa menggunakan puisi sebagai sarana pengungkap diri. Bisa saja, selain Inez memang lama menulis, bisa juga di samping menulis, Inez pun biasa membaca puisi-puisi dari berbagai sumber. Sehingga dengan acuan-acuan itu, ia mempunyai suatu gambaran bagaimana berpuisi. Jika benar dugaan ini, maka dugaan ini  menunjukkan arti penting membaca serta mendapatkan acuan-acuan luas bagi perkembangan diri seorang penyair. Ia juga memperlihatkan bahwa bersandar pada yang disebut bakat saja tidak memadai untuk menjadi penyair “berkaliber” .  Apalagi jika kita sepakat bahwa puisi selain bergelut dengan permasalah tekhnik pengungkapan, ia pun sesungguhnya menggulati soal-soal wawasan, masyarakat dan kehidupan seutuhnya.  Kalau seorang penyair berbicara tentang dirinya sendiri, tidak jarang pembicaraan yang seakan tentang diri sendiri itu sesungguhnya bukanlah bersifat narsistik tetapi lebih bersifat medium atau perantara atau jalaran untuk melukiskan keadaan masyarakat masa hidupnya, baik langsung atau pun tidak langsung. Agar mampu mencerminkan keadaan yang tak terlalu jauh dari kenyataan serta bisa melakukan suatu analisa padan, maka penyair akan sangat baik jika melengkapi dengan suatu metode berpikir serta analisa, mempelajari secara dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sosiologi, sejarah, geografi, psikhologi, antropologi, fisika, kimia, komunikasi, tatabahasa, seksologi, dan lain-lain… .   Pandangan begini, pada tahun 1960-an di Indonesia, pernah dirumuskan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra], dalam kata-kata: “tahu segala tentang sesuatu, tahu sesuatu tentang segala” dan “manusia bersegi banyak”. Makin seorang penyair melengkapi diri secara pengetahuan dan wawasan, makin karya-karyanya patut diperhitungkan tanpa menuntut diperhatikan. Makin pula ia mempunyai syarat untuk  berdiri selangkah di depan perkembangan peristiwa serta mempunyai harapan dalam memberikan  sumbangan bagi pemanusiawian manusia, kehidupan dan masyarakat — yang kuanggap sebagai mimpi universal. Dari segi tujuan, tujuan ini barangkali memberi ciri universal pada sastra. Sementara egoisme dan mencari pengejaran nama akhirnya  bukan menjadi target. Karena nama dan bernama, termasuk masalah diperhitungkan masyarakat adalah hasil dan akibat dari sebab pekerjaan serta usaha. Ketenaran bisa mempunyai  macam-macam arti. Di dalamnya ada ketenaran promosi perdagangan berpedoman pada uang, tapi di samping itu ada pula ketenaran karena pengaruh-pengaruh ide yang diketengahkan, tanpa meniadakan unsur bisnis dari suatu karya. Ketenaran pertama kupandang tidak memberikan apa-apa bagi pemanusiaan manusia, kehidupan dan masyarakat karena pada galibnya penulis tipe ini mencoba melawan kenyataan bahwa dirinya adalah bagian dari kebersamaan hidup bermasyarakat  serta lebih menjadikan diri sebagai mataair segala kegiatan narsistis. Narsisme tidak segan menjadikan diri sebagai budak kapital alias hamba sahaya dari uang sang raja. Manusia dan pemanusiaan manusia ditempatkan oleh para narsis pada urutan nomor terakhir. Salah satu ujud dari hal ini adalah eksploatasi seks di dalam sastra serta cara menulis dan melihat masalah seks. Eksploatasi seks serta kata-kata yang berbau “lendir”,  agaknya juga sudah tidak asing di dunia sastra Indonesia, termasuk di dalam puisi. Penggunaan kata-kata “setubuh”, “vagina”, “sperma” , “penis”, “jumbut”, dan kata-kata lain sejenis tidak jarang kita dapatkan. Bahkan saya pernah mendengar adanya genre sastra yang disebut “sastra wangi”. Adanya arus sastra yang mengeksploatasi soal seks begini, beberapa tahun lalu, telah mendorong sebuah universitas di Yogyakarta untuk membahasnya secara serius dalam seminar sehari. Saya sendiri tidak menginginkan pelarangan terhadap arus sastra model begini, sesuai dengan prinsip “biar bunga mekar bersama seribu aliran bersaing suara”. Berangkat dari prinsip ”bunga” atau kebhinekaan ini dan prinsip percaya pada pembaca yang berdaulat, sekaligus untuk menumbuhkembangkan apresiasi sastra, untuk menghadapi keadaan begini saya kira peranan kritik sastra akan menjadi sangat penting. Berkembangnya kritik sastra, bukan tidak mungkin, akan berperan meningkatkan taraf kualitas sastra itu sendiri.
Berdasarkan  sejumlah puisi Inez yang berhasil kukumpulkan selama ini, nampak bahwa Inez tidak terbawa oleh arus “sastra seks” ini.  Boleh jadi sample yang kugunakan tidak padan sehingga konstatasiku pun menjadi keliru. Dari sejumlah sanjak-sanjak Inez yang bisa kuhimpun, masalah yang banyak direnungi oleh Inez adalah soal “ibu”nya. Misalnya dalam sanjaknya “Winter Song”:
“di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan”

atau dalam puisinya “Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin”

mentari selalu mencari ibu
kala pagi datang bertamu
dibisikannya pada bunga bunga
agar sabar menunggu

mawar merah dan kana
tumbuh secantik hati ibu
tempat aku berkaca
berharap kutemu wajahku d
i sana

[Apsas, 13 Desember 2006]
Dari puisi “Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin” ini nampak pada Inez bahwa “ibu” sebagai lambang “kecantikan” . Tentu “kecantikan” dalam arti luas.  Dan “kecantikan” inilah yang selalu diburu, dirindui  serta diharapkan oleh penyair.
Untuk mengungkapkan diri dengan kesadaran bahwa ia dibatasi oleh kekayaan kosakata bahasa Indonesia, Inez tidak mempunyai keraguan menggunakan kata-kata baru pinjaman dari kosakaga bahasa lain, seperti “harakiri”, “rotasi”, “avenue”, “winter”, “song” [kukira, Inez memilih kata "song" dari pada menggunakan "nyanyian", tentu dengan maksud tertentu, misalnya mendapatkan irama kalimat serta kepantasan kata menemani kata "winter"]. Penggunaan kata-kata pinjaman begini, termasuk pembentukan kata atau penciptaan kata-kata baru, bisa dipertanggungjawabk an dari segi adanya “kebebasan penyair”. Dari segi pengembangan bahasa Indonesia, barangkali merupakan cara memperkaya kosakata bahasa, sebagai sumbangan penyair pada bahasa. Dalam usaha ini dan memudahkan diri menulis serta membebaskan diri dari keterbatasan kosakata, Anjar, novelis dari Bandung, selain meminjam kosakata asing, juga secara sadar menggali kosakata-kosakata lama. Untuk itu Anjar dengan tekun membuka kamus-kamus. Di Perancis usaha menghidupkan kosakata yang hampir hilang ini dilakukan secara sadar pula oleh Bernard Pivot,  budayawan yang mendapat bintang jasa Legion d’Honneur dari pemerintah atas jasanya memelihara dan mengembangkan bahasa Perancis. Bernard Pivot memandang kosakata sebagai batang-batang pohon di hutan tropika. Setiap pohon harus dijaga dan dilindungi, ujar Pivot dalam bukunya “Menyelamatkan Seratus Kata Yang Hampir Hilang” [Gallimard, Paris, 2006].  Dalam sejarah sastra Indonesia, terutama pada tahun  1960an, Lekra pernah mendorong pengembangan bahasa Indonesia melalui pengangkatan kosakata-kosakata bahasa lokal. Menurut pandangan Lekra,  “bahasa lokal dan bahasa Indonesia mempunyai kecenderungan saling mendekati dan saling mengisi”. Di dalam konteks ini, usaha Ajip Rosidi dalam mengembangkan sastra daerah melalui sistem Hadiah Rancage, merupakan usaha berharga. Sama berharganya dengan konsep Halim HD dkk, tentang “sastra-seni kepulauan” sebagai politik pembangunan budaya Indonesia.  Sastra lokal adalah bagian dari sastra-seni Indonesia. Sebab bagiku yang dimaksudkan dengan sastra Indonesia bukan hanya terdiri dari sastra berbahasa Indonesia, tetapi juga semua karya sasatra yang dihasilkan  dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lokal Indonesia. Benar, bahwa dengan perkembangan tekhnologi yang melaju, dunia kita menjadi “desa dunia” yang kecil saja, tapi mengapa pertama-tama berorientasi ke luar, jika kosakata lokal masih cukup padan mengungkapkan  ide dan perasaan guna memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Barangkali, masalahnya terletak pada pengenalan kita akan budaya lokal kita sendiri. Apalagi dengan adanya sistem pendidikan yang menjurus ke corak Amerika sehingga berdampak lahirnya suatu kompleks tertentu [entah terselubung atau tidak] dan keterasingan diri di tanahair sendiri. Jika menggunakan kosakata daerah dan bukan bahasa Inggris, terasa si pemakai bahasa merasa taraf dan prestisenya turun.  Dari segi ini, apa yang dilakukan oleh Federico Garcia Lorca  sangat menarik. Lorca berangkat dari puisi orang-orang Gitana dan Andalusia yang indah. Bahkan Victor Hugo dalam karyanya “Si Bongkok Dari Notre Dame” berangkat dari permasalahan kaum Gitana juga. Hugo menggantikan para hulubalang [chevaliers] dengan Asmaralda, tokoh Gitana dan Si Bongkok, sebagaimana Molière dalam ceritanya “Si Buruk Muka dan Si Cantik”. Yang ingin kukatakan dengan uraian di atas bahwa sastra lokal bisa memperkaya dan menyuburkan serta kian memberi warna unik pada kreativitas sastra-seni kita, tanpa menutup pintu pada dunia luar.  Menghargai dan memperhatikan keunikan inilah maka penerbit Actes Sud, Paris, tahun ini telah menerbitkan karya Kunzang Choden, seorang perempuan pengarang asal Bhutan: “Le Cercle du Karma” [Siklus Karma, 430 hlm. ].
Sekarang, saya sampai ke masalah terakhir: pengamatan dan tema. 
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (6) oleh JJ Kusni

February 1st, 2007
Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [6]
Yang ajeg terdapat pada puisi-puisi Inez adalah pengangkatan faktor alam sebagai perbandingan. Sehingga gampang diindrakan. Pengindraan menjadi lebih gampang lagi, karena umumnya perbandingan-perbandingan itu dilukiskan secara runtun. Dari puisi-puisi Inez yang kumuliki, jarang kudapatkan ada loncatan mendadak dalam pelukisan serta perbandingan. Loncatan mendadak yang mempersonakan terdapat pada saat Inez menutup puisinya dengan suatu renungan kesimpulan. Misalnya pada puisi berikut :
Winter Song 
dari balik jendela kamar
kulihat pohon pohon berbunga salju
di bawahnya seekor tupai
melompat kian kemari mencari kenari

di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan

angin bertiup kencang mendorong
tubuh para pejalan
begitu gigil baju hangat mereka rapatkan
lalu kulihat ada butir butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku

[Apsas, 27 Januari 2007]
Dari baik pertama hingga ketiga, Inez melukiskan keadaan musim dingin secara runtun. Tanpa dadakan. Dadakan itu terjadi ketika Inez menutup puisinya secara liris:
“lalu kulihat ada butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku”
Keadaan di atas juga misalnya terdapat pada puisi berikut:
Windy City Dalam Kenangan
 by  inezdikara
terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan
08 November 2006
“kereta belari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan”
adalah kalimat-kalimat kesimpulan dan renungan. Kata-kata bersayap atau berwayuh arti, jika menggunakan istilah alm.  Prof. Djojodiguno, pengajar sosiologi dan hukum pada Universitas  Gadjahmada di tahun 60-an. Penutupan puisi dengan suatu kesimpulan renungan dengan kalimat-kalimat berwayuh arti, agaknya sering dilakukan dilakukan oleh Inez. Berwayuh arti, barangkali adalah ciri dan kekuatan suatu puisi, seperti kata-kata Paul Elouard, penyair Perancis, dalam “La Vie Immédiate”:
“kekuatan cinta
penaka raksasa tanpa raga”
atau kata-kata Chairil Anwar  yang mengingatkan kita pada nasib Sysiphus, bahwa:
“hidup hanyalah menunda kekalahan” 
atau baris-baris Ramadhan KH yang seakan paralel dengan nasib Eros yang dikutuksumpahi Ahaseros:
“ternyata aku
hanyalah seorang pengembara”
Kata-kata dan kalimat-kalimat berwayuh arti, membuka pintu selaksa tafsir, memberi sayap-sayap perkasa pada imajinasi dan pikir untuk terbang  ke cakrawala-cakrawala jauh.  Kata-kata dan kalimat-kalimat berwayuh arti ini pun mengajak kita merenungi gejala guna menyelamati hakekat. Barangkali, pada saat ini, puisi menjadi jembatan pelangi yang mempertemukan  makna dan pesan di bumi kehidupan.
Sekali pun puisi berbeda dengan esai atau artikel, apalagi tesis atau skripsi,  tapi jika pengamatanku benar, puisi-puisi Inez agaknya mempunyai suatu pola atau sistematik tertentu.  Mula-mula ia mengetengahkan masalah, kemudian masalah itu ia urai [tentu saja secara pusi] dan akhirnya ia simpulkan. Bagan atau sistematik ini kunamakan semacam piramida terbalik.  Adanya bagan piramida terbalik pada puisi-puisi Inez, menumbuhkan suatu hipotesa pada diriku, bahwa penyair ini agaknya biasa berpikir secara sistematik. Biasa berpikir runtun.  Kebiasaan berpikir runtun, kukira akan membantu penyair lebih cermat memilih kata. Karena kata adalah cerminan pikiran dan perasaan. Yang tidak biasa berpikir runtun, apalagi mengabaikan nalar [logika] akan tercermin pula pada bahasa dan kata-kata yang ia pilih dan gunakan. Selesai tidak pemikiran seseorang terungkap dalam bahasa dan pilihan katanya. Jika hipotesa dan penglihatanku benar, maka kukira, kebiasaan berpikir runtun ini pun merupakan modal penting bagi Inez dalam bersyair lebih jauh.
Selanjutnya saya ingin menyentuh kembali sedikit lagi soal pemilihan kata dan tema yang diolah oleh Inez.
Paris, Januari 2007
————————–
JJ. Kusni
[Bersambung...]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (5) oleh JJ Kusni

February 1st, 2007
Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [5]
Dengan kesederhanaannya, Inez memulai kepneyairannya secara wajar dan alami. Puisi-puisi Inez merupakan ungkapan langsung dari renungan dan isihatinya. Puisi-puisinya serupa arus yang mengalir dari mataair jiwa dan pikirannya. Barangkali hal ini pulalah yang menyebabkan ia nampak tidak terlalu produktif. Ia berpuisi tanpa target, misalnya harus menulis seribu puisi dalam sekian kurun waktu . Tanpa rencana. Sekali pun, seperti kukatakan di atas, barangkali saja, ia diam-diam terus melakukan latihan-latihan dan percobaan-percobaan dalam berbagai bentuk — tapi tidak ia siarkan dan tidak pula sebagai keniscayaan jumlah yang harus ia penuhi. Penjatahan jumlah puisi yang harus ditulis, kukira mengandung kemungkinan monotonisme dan pengulangan- pengulangan yang tak perlu, sehingga sepuluh puisi yang ditulis, sebenarnya bisa dirangkumpadatkan ke dalam satu sanjak saja. Kemungkinan begini, kudasarkan pada batas bacaan atas teks-teks yang Inez siarkan. Dari teks-teks tersebut, nampak bahwa Inez sadar benar bahwa ia sedang menulis puisi. Menggunakan puisi sebagai sarana pengungkap diri. Kesadaran ini mendorongnya menggulati bentuk. Memperhitungkan cara pengungkapan. Mengindahkan irama, persamaan bunyi, perbandingan dan pilihan kata. Misalnya pada sanjak berikut:

Yang Tertinggal

by inezdikara
rindu yang biru
di bibir malam yang bisu
29 November 2006
Di puisi dua baris ini, saya melihat pergulatan Inez mendapatkan puitisitas, bukan hanya melalui persamaan bunyi pada kata “rindu” dan “biru” serta “bisu”, tetapi juga pada pemilihan kata “rindu”, “biru”, “bibir” yang mengandung huruf-huruf “r” — huruf yang mengandung getar. Getar yang ditimbulkan oleh huruf “r” , barangkali bisa disambungkan pada keinginan penyair menggambarkan betapa sepi dan rindu itu membuat yang sedang didera jadi gemetaran. Sementara huruf “b” pada “bibir” dan bisu” — suatu aliterasi — melukiskan orang yang gemetar karena sepi dan rindu itu berada di suatu ruang pengap. Penuh dengan asap kesumpekan. Sedangkan penggadaan kata “yang”, barangkali dimaksudkan oleh Inez untuk membayangkan, betapa rindu dan sepi itu menggaung jauh berkepanjangan sejauh seluas malam. Pemilihan kata “bibir malam”, menggambarkan di mana yang sedang di dera “rindu” dan sepi itu berada. Yang didera “rindu” belum dikunyah-kunyah, belum dikeremus, tapi kedudukannya tak obah seperti orang yang sedang berada di “bibir” jurang yang dalam. Sedikit saja lagi bergeser maka ia bisa terjungkal ke lembah dalam hanya disambut oleh gaunggema dukanya sendiri.
Dua baris sanjak di atas, mungkin nampaknya sederhana. Tapi kukira, untuk sampai bisa menulis dua baris demikian dari si penulis memerlukan renungan dan pergulatan bentuk yang tak sederhana. Prosesnya mungkin saja menggunakan waktu seminggu bahkan lebih hingga akhirnya menyembur wajar dari hati seperti halnya air mengalir dari sumbernya. Keadaan beginilah yang kusebut sebagai “momentum puitis”. “Momentum puitis” ini jika dilewatkan akan hilang dan barangkali tak akan kembali.
Pergulatan mendapatkan bentuk serta mempertahankan puitisitas ini kembali nampak pada puisi Inez “Di Sepanjang Michigan Avenue”, Winter Song”, dan sanjak-sanjak Inez lainnya.
“daun- daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue”

[Di Sepanjang Michigan Avenue]
Dari larik ini, saya melihat bagaimana mencoba menggunakan sajak tengah untuk menimbulkan dampak emosional dan melalui pelukisan suasana musim gugur. Yang kumaksudkan dengan sanjak tengah adalah adanya “i” pada kata “begitu” dan “i” pada kata “ingin”. Bunyi “i” bagiku menggambarkan suasana kesendirian dan kegamangan. Sajak tengah ini pun kita saya dapatkan juga pada huruf “u” di kata-kata “menyentuh”, “ujung” dan “sepatuku” hingga kata “avenue”. Bunyi yang digaungkan oleh huruf “u”, kukira juga bukan bunyi yang ceria. Sehingga pemilihan kata dengan adanya huruf-huruf tersebut, agaknya Inez mencoba membayangkan suasana hati yang sejajar dengan suasana musim gugur di Michigan Avenue.
Kalau penglihatanku benar, maka dari dua contoh di atas saja, saya menyaksikan pergulatan sadar dan kerja keras Inez dalam mencari dan menciptakan bentuk puitis untuk mengungkapkan diri. Pergulatan sadar dan kerja keras begini, kukira merupakan modal sangat berharga bagi perkembangan lebih lanjut Inez sebagai penyair. ***
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (4) oleh JJ Kusni

January 31st, 2007
Jurnal Seorang Apsasian:

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [4]

Dari segi cara pengungkapan diri, saya dapatkan bahwa Inez menuturkan perasaan dan pikirannya secara sederhana, tanpa bombasme. Apalagi ambisi melakukan suatu pembaruan dalam berpuisi. Kesederhaan Inez mengingatkan saya akan kesederhanaan penyair Ho Chi Minh dari Viêt Nam yang menulis baris-baris berikut:

“bulan memancing syair

tunggu sampai besok

aku sibuk dengan urusan perang”

[Dari kusanjak Ho Chi Minh: Catatan Harian Dalam Penjara".

Kesederhanaan Inez misalnya nampak dari bait-bait berikut, yang melukiskan suasana musim gugur:

"daun daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue"

[Dari: Di Sepanjang Michigan Avenue]


Sehubungan dengan kesederhanaan ini, saya jadi teringat akan kata-kata alm. penyair Agam Wispi bahwa keindahan, kebenaran dan puitisitas saling berkaitan. Karena itu menjadi sederhana yang puitis itu tidaklah sederhana. Kekuatan kesederhanaan yang puitis akan meningkat jika ia ditopang oleh renungan sehingga meninggalkan permukaan permasalahan. Kekuatan haiku atau puisi-puisi para penyair Dinasti Thang, barangkali terletak pada kesederhanaan ini. Juga terdapat pada penyair tipe Walt Whitman atau Longfellow dari Amerika Serikat, atau Shelley dari Inggris. Tapi dengan kesederhanaan yang bahkan bisa dikatakan “lugu” tanpa ambisi atau pretensi menjadi pelopor pembaharuan, Inez secara wajar mengungkapkan apa yang mengejolak di dalam nuraninya. Sehingga dengan kesederhanaan “lugu” ini, pada puisi-puisi Inez, terdapat suatu kejujuran yang polos. Pretensi menjadi pembaharu atau tidak di dunia perpuisian, agaknya jauh dari pemikiran Inez. Sehingga ia bebas dalam bersyair. Barangkali yang tak lepas dari perhitungan Inez bahwa ia mencoba selalu mendapatkan dan menjaga puitisitas dalam puisi-puisi sederhananya. Karena itu kukatakan bahwa kesederhanaan adalah pengungkapan nurani dan kesimpulan pengalaman secara puitis, seperti yang sejak lama ditunjukkan oleh misalnya pantun atau pepatah-petitih tetua kita:

“ke pulau sama ke pulau

ke pulau menangguk udang

merantau sama merantau

kalau mati mati seorang”

atau pepatah-petitih para tetua kita:

“menepuk air di dulang

tepercik ke muka sendiri”

atau :

“tangan mencencang

bahu memikul”

Pantun dan pepatah-petitih, kukira menjadi langgeng karena sari pengalaman yang tersimpulkan secara sederhana dengan menjaga puitisitas bentuk pengungkapan. Keserdahanaan membuat kesimpulan ini menjadi sangat komunikatif , dan tidak mendiami ruang-ruang gelap — ciri utama dari puisi-puisi lisan dan rakyat. Sifat komunikatif ini membuat puisi tidak terasing dari kehidupan. Tidak menjadi milik sebatas kelompok kecil yang mengeluh jika puisi atau karya-karyanya tidak dipahami sementara mereka , para penyair merasa karya-karya mereka sudah demikian canggih bahkan merasa telah melakukan pembaharuan. Mau komunikatif atau tidak, kukira, memang pilihan masing-masing. Mengenai pilihan, siapa pun tidak bisa menggugat hak dasar ini. Kalau pemahamanku benar, agaknya Inez berkecenderungan memilih puisi-puisi sederhana dan terang, bukan memilih jalan samar dan apalagi gelap. Kesederhanaan yang dicanangkan oleh Agam Wispi hingga bisa menulis sesederhana Ho Chi Minh, Shelley, Longfellow atau pantun serta pepatah-petitih, agaknya memang banyak dimungkinkan oleh kematangan jiwa serta kedalaman renungan. Perenung yang didewasakan oleh badai pengalaman akan bersikap rendah hati, mendalami hakekat peristiwa-peristiwa yang menggebrak hidupnya. Puisi akhirnya langsung lahir dari rahim nurani dan renungan sebagai suatu kesimpulan. Kebenaran yang disimpulkan dari gegap-gempita hidup inilah yang membuat karya-karya tersebut menjadi tahan panas dan dingin waktu. Bentuk pun muncul secara alami tanpa ambisi dan pretensi. Yang menyedihkan, bahwa atas nama modernisasi atau pembaharuan, sering kita menyaksikan para kritikus tidak memahami budaya-budaya lokal yang melatari suatu karya, serta membatasi pertimbangan mereka terhadap suatu karya berdasarkan pengetahuan dan latar pendidikan mereka — yang lebih berorientasi ke Barat. Seakan Barat adalah standar keunggulan dan kebenaran. Jika konstatasi ini benar, maka kritisi sastra kita, apakah bukan menjadi orang asing di negeri sendiri dan secara membuta menterapkan patokan asing atas yang terdapat di negeri sendiri?

Kesederhanaan yang menyatu dengan kebenaran dan puitisitas, kukira, merupakan tanda dari sastra di wilayah negeri yang bernama Indonesia sekarang. Apakah dengan kesederhanaan komunikatif- refleksif yang muncul tiba-tiba dan sering sangat menyentuh dalam puisinya, Inez memang sadar menggunakan cara pengungkapan begini? Jika ia memang sadar melakukannya, kukira, bukan tidak mungkin kemudian kita melihat bahwa Inez bisa melangkah lebih jauh dibandingkan dengan para pendahulunya, misalnya Toety Heraty. Bagiku, pergulatan pikiran akan mendorong seseorang penyair ke pergulatan bentuk. Alasanku: Pergulatan pikiran dan isi pergulatan itu akan mencari cara penuangannya yang khas. Perbedaan dan inovasi tidak usah dicari-cari sehingga mempertontokan diri terkadang sangat bombas. Pembebasan kata atau mantra sebagai suatu penemuan, masih sangat kuragukan. Apalagi mantra itu sebenarnya sudah lama ada dalam di berbagai etnik masyarakat kita. Masalahnya apakah benar kita memahami arti mantra, ataukah para kritisi saja yang kurang paham sehingga mengangkatnya sebagai suatu kesalahpahaman sejarah sastra. Suatu pertanyaan saja. Berbeda dengan Chairil Anwar baik dalam bentuk atau pun isi pemikirannya. Dengan kesederhanaannya, saya melihat Inez memulai kepenyairannya secara wajar dan alami.

Paris, Januari 2007

———— ——— —–

JJ. Kusni

[Bersambung. ..]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (3) oleh JJ Kusni

January 30th, 2007
Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [3]
Di bidang isi, ide dan wawasan puisi ini, sekali lagi jika menggunakan pemilahan Budi Darma, saya tidak ingin mengatakan sesuatu yang terlalu prematur, kecuali membaca gejala atau tanda-tanda, tentang puisi-puisi Inez , yang dengan rendah hati mengatakan dirinya sebagai pemula. Sekali pun mengaku “sebagai pemula”, Inez sudah memperlihatkan ciri-ciri dirinya dalam bersyair. Baik dalam isi mau pun dalam bentuk. Kerendahan hati adalah jalan lebar bagi seseorang untuk melangkah ke depan yang jauh di luar ukuran dugaan.
Dari segi isi, bagaimana Inez memperlakukan tema-tema olahannya? Menjawab pertanyaan ini, saya mengambil contoh puisi Inez berikut:
SUMBU
tali sumbu hampir habis
terbakar masa
entah apa dimasak
oleh tungku di atasnya
begitu tebal jelaga
adakah tertinggal makna?
[Apsas, 21 Desember 2006]
Melalui puisi enam baris ini, saya melihat usaha yang menggejala dari Inez untuk merenungi sesuatu hingga ke hakekat yang lebih lebih jauh dan dalam dari tema-tema olahannya. Dengan kata menggejala, saya ingin memebedakan dengan suatu ciri, atau belum menjadi corak atau tanda. Tema-tema yang ia pilih, umumnya adalah masalah-masalah sederhana keseharian. Usaha ini barangkali hampir menjadi ciri dari syair-syair Inez. Seandainya Inez meneruskan usaha ini secara sadar, barangkali puisi-puisi Inez akan lebih mendalam dan menjawab pertanyaannya sendiri: “adakah tertinggal makna?” dari baris-baris yang goreskan? “Makna” apa dan untuk siapa? Ketika seorang penyair mulai berbicara sadar tentang “makna”, maka pertanyaannya akan seperti sebuah pinisi melayari samudera luas tanpa dermaga, seperti ombak menggulung menderu menggugat pantai mencari jawab. Seperti sebuah perjalanan yang tak punya sampai. Gejala begini pun, saya lihat misalnya dari puisi Inez di bawah ini:

TANAHKU INGIN HARAKIRI
bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin.
musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyi

tanahku
ingin harakiri.

[Milis Apsas, 02 Desember 2006]
Melalui kata-kata “tanahku/ingin harakiri”, saya menangkap banyak soal mendasar yang diajukan penyair, termasuk masalah kerusakan lingkungan hidup. Jika soal ini dikembangkan lebih lanjut, maka ia akan merambah ke banyak bidang. Karena Inez berbicara menggunakan puisi sebagai bahasa, maka soal-soal mendasar dan urgen ini dia ungkapkan hanya dengan dua baris: “tanahku/ingin harakiri”.
Contoh lain adalah puisi berikut:

Windy City Dalam Kenangan

by inezdikara
terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan
08 November 2006
Renungan-renungan adalah salah satu wahana penyair guna memberikan sumbangan kepada masyarakatnya dalam menuju yang disebut oleh penyair Chile, Pablo Neruda “The Splendid City”, “La Ciudad Espléndida” [Lihat: Pablo Neruda, Toward The Splendid City", The Noonday Press, New York, 1972, 35 hlm].
Dengan istilah “renungan”, saya pun ingin membedakannya dengan masalah keberpihakan. Keberpihakan [engagement, commitment] adalah pilihan masing-masing seperti halnya dengan bertanggungjawab atau tidak. Juga adalah pilihan masing-masing. Dan kukira, tidak seniscayanya siapa pun memaksa seseorang untuk memilih sesuatu di luar kesadarannya. Melalui pilihan masing-masing ini, masing-masing secara langsung menunjukkan apa-siapa diri masing-masing. Mau menjadi seorang sastrawan atau cendekiawan organik atau tidak, juga adalah pilihan dan keputusan serta pertimbangan masing-masing. Adanya macam-macam pilihan ini pun, kulihat sekaligus telah mencerminkan keadaan masyarakat di suatu masa tertentu. Renungan agaknya lebih menjurus ke usaha memahami hakekat hal-ikhwal, sedangkan “engagement” cenderung ke partisanisme. Renungan lebih dekat pada “makna”, sedangkan engagement bertetangga, kalau bukan serumah, dengan ” pesan”. Baik “makna” atau pun “pesan” tetap bernilai sastra jika keduanya menjaga kaidah-kaidah sastra. Puisi akan tetap puisi sejauh ia mempertahankan standar puisi, apa pun “pesan” dan “makna” dikandungnya. Antara “makna” dan “pesan” , bukanlah sesuatu yang mustahil terdapat sebuah jembatan. Barangkali cendekiawan organik, di mana sastrawan termasuk di dalamnya, tergolong orang yang memiliki kemungkinan berfungsi sebagai jembatan antara “makna” dan “pesan” [Bandingkan dengan pendekatan New Historicism in the History of Western Literary Criticism". Lihat: Aram Veeser, "The New Historicisme" in: "The New Historicisml Reader", New York and London, Routledge, 1944].
Tanda-tanda renungan ada kudapatkan pada puisi-puisi Inez, walau pun tidak ajeg, terutama dalam kualitas atau intensitas. Ketidakajegan ini, menimbulkan pertanyaan pada saya: Seberapa jauh Inez melakukan renungan sadar? Di samping itu, pertanyaan lain pun muncul pada diri saya: apakah renungan ini perlu dan diperlukan oleh penyair? Kalau perlu mengapa perlu? Kalau tidak perlu, mengapa tidak perlu? Apakah benar bahwa sastra hanyalah wadah pelampiasan rataptangis dan gundahgulana individual yang lagi dirundung malang karena pata cinta, tanpa perlu memahami untuk apa rataptangis dan gundahgulana ini bagi diri yang bersangkutan itu sendiri , terutama dalam menanggulangi kemelut yang sedang mendera? Contoh dari ketidakajegan ini, kalau pemahamanku benar, ada puisi ini:
Yang Tertinggal
by inezdikara
rindu yang biru
di bibir malam yang bisu
29 November 2006
Barangkali puisi ini pun mempunyai makna sebagai buah renungan tentang rindu dan hakekatnya. Malam yang bisu membiarkan si perindu menggelepar- gelepar sendiri tanpa sudah, seperti seekor ikan terlempar di pantai pasir kencana. Tersiksa sendiri tanpa penyelesaian. Tapi dibandingkan dengan baris-baris Inez “tanahku/ingin harakiri”, kukira pesannya jauh lebih mendalam dan berarti, sekali pun tanpa menyampaikan “pesan” khusus, apalagi seruan. Kecuali pernyataan urgen tentang keadaan “tanahku”. Ketidakajegan, saya anggap hal yang lumrah, seperti halnya tidak semua puisi selalu sama mutu keberhasilannya. Sehingga ketidakajegan bukanlah kelemahan yang terlalu fatal. Tanda-tanda adanya renungan ini, saya kira, bisa menjadi kekuatan bagi Inez untuk mengimbangi tekhnik pengungkapan yang agaknya memang ia gulati secara sadar. Dengan ini saya sampai ke masalah “bentuk”, jika menggunakan istilah dan pemilahan Budi Darma.
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]