Sketsa

paviliun, di ruang rendah cahaya itu, kau menelan waktu demi waktu yang terhidang di meja penuh buku. di mana di antaranya terselip selembar sketsa roman muka yang tak pernah puas menggambarkan dirinya. mungkin karena ia selalu merasa ada yang belum selesai. berliter tinta telah habis. serupa darah, ia tergenang di banyak kenangan. peperangan demi peperangan. kehilangan demi kehilangan.

tiga pohon asam di halaman depan yang kau tanam berpuluh tahun lalu, kini telah tinggi. sepulang dari kerja kau selalu berhenti sejenak dan menatap ke pucuk-pucuk mereka; begitu rindang meneduhkan. diajarkannya padamu kesabaran, agar tak tumbuh tergesa-gesa. sebab hidup semestinya perkara menyempurnakan dari waktu ke waktu. tapi musim tak pernah satu. tak setia. atau datang tak pada tempatnya. bulan meninggi. kau rebahkan diri seraya menatap kembali sketsa wajah yang mungkin tak akan pernah selesai. meletakkannya hati-hati di dadamu. membawanya jauh-jauh ke dalam mimpi.

One Response to “Sketsa”

Leave a Reply for ardy kresna crenata