Dentang Lonceng yang Mengingatkan

pertunjukan di dalam panggung kaca menelan habis jam meja dan susu rendah lemak di kamarmu. udara terpolusi keberangan yang terkunci. tak bisu. ia ada. hanya terpaku ditekan pegas dadamu–yang kian terlatih menjinakkan radang. para pelaku di pementasan cerita memakai banyak peran. awalnya serupa sekelompok pengayom bijak, di mana para jelata menggantungkan pundi-pundi keadilan; menunggu kabar baik dari medan perang (begitu kata mereka kepada yang mereka sebut pahlawan). matahari jatuh dan bulan menggantikan. panggung tak juga purna. para pelaku berganti peran lalu saling menyebut diri binatang (padahal kau ingin orang-orang itu tahu, bahwa sebagai hewan pun mereka tak punya tempat. hewan tak pernah berpura-pura. tak ada yang disembunyikan).

dentang lonceng jam jangkung di ruang tamu mengingatkanmu akan penunjuk waktu baru di pergelangan tangan. kau bangkit untuk menyiapkan panggungmu sendiri. kau bakar lagi jiwa dengan doa dan butir-butir kecemasan. juga beribu aksara sebagai penerang jalan. di sepanjang kepergian, takkan kau biarkan awan hitam pemanggul hujan memadamkan. mengalahkan.


About this entry