Sebuah Kapal dan Mercusuar

terkadang kau biarkan saja
ke arah mana kakimu
seperti seonggok kapal
yang menutup telinganya
dari teriakan mercusuar
hingga arah membuka semua mata baginya
: laut dangkal berkarang terjal
—sesuatu yang disembunyikan malam

kau hanya berusaha menggerakkan
sesuatu yang telah ditanam
saat pertama tubuhmu penuh
sepenuh kitab pertama yang dituliskan
—satu-satunya kitab dengan neraca di ujung jalan

penetapan membasahi sekujur tubuhmu
dan jalan-jalan
riuh suara-suara saling bertabrakan
ada yang diam-diam menyelinap
meniup-niupkan–mencoreng
ada yang sepakat dengan yang kau pertahankan

seperti sebuah kapal terombang-ambing
di tengah laut
di tengah kabut kedua lututmu
bergerak maju menghantam pedas ombak
sesekali kau mencuri pandang ke arah rumah terang
“turunlah, cahaya, turunlah.
berumahlah engkau di tubuhku
agar terang. agar lapang menakar kejadian.”


Leave a Reply