Monolog Pagi

ramainya kesunyian malam
kerap membuatku terjaga
angka-angka tumpah melampaui
batas-batas almanakmu
makin sempit tempatku fana
sedang tak banyak yang kubawa
di saku baju
lubang yang kujahit
acap kali melonggarkan ikatannya
hingga tercecer yang sudah
remah-remah itu

tetapi pagi mengoleskan rasa yang berbeda
wanginya menghambur di ruang tamu
mengendap di secangkir kopi
dan bising koran pagi
jarum jam dan sikat gigi kembali berpesta
meski tak sepenuhnya, kurasa tubuh
seperti berjalan sia-sia

2009

Leave a Reply