Sajak Gunawan Maryanto: yang selalu terjadi di hari minggu

:inez dikara

ia mengacungkan kuas itu persis ke mukaku
mungkin bertanya atau hanya menggerutu:
apa aku berusaha menghapus jejak di dinding
sebagaimana dulu kerap kumatikan lampu
untuk mengakhiri pertunjukannya
tapi nyatanya ia justru bertanya,
di mana kausimpan album kita
yang dulu ada di meja itu?

aku hanya memegang dadaku
tak menunjuk sesuatu, selain rasa sakitku

lalu ia menempelkan telinga
ke televisi. entah merekam apa
kau dengar detak jantungku?

kubenamkan wajahku ke dalam bantal
dalam-dalam. jadi bulan-bulanan ingatan

ceritaku, anakku, tak pernah berakhir dalam sebuah botol.
layaknya hujan, ia menjelma selokan yang melintas di bawah jendela kamarmu,
menyaru kabut di kaca rumahmu.

meski kadang berhenti menjadi kursi bagi tidurmu yang tak nyenyak

ia tertawa, keras dan menggelikan. juga mengerikan
luar biasa, ia bisa dengan cepat menggulung ingatan
aku mesti berlama-lama menunggu,
memilih waktu dengan jitu
: ini bukan sekadar mencuci kenangan
atau memasaknya dengan cara lain

sudahlah,
kami lantas membelah sepi;
kendaraan meluncur kesetanan
tak perlu mengerling di tiap tikungan
atau menguras senyuman
mereka toh telah menutup daun pintunya
begitu sepi yang tengah kauhayati itu
: menjadi dan susah dimengerti

jogjakarta, 2008

5 Responses to “Sajak Gunawan Maryanto: yang selalu terjadi di hari minggu”

Leave a Reply