Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (10-selesai) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [10]

Bertele-tele sudah ocehan ini, yang tentu saja bukan suatu kritik, ulasan atau pun resensi, tapi lebih bersifat “berbincang-bincang” tentang kesan subyektif, setelah membaca puisi-puisi Inez yang berhasil kuhimpun, sambil melirik ke kanan-ke kiri puisi-puisi lain. Ketika menulis perbincangan ini, saya mencoba merenungi kata-kata Jean Bollack, philolog dan filosof Perancis yang banyak mempelajari penulis-penulis Yunani seperti Empdocle, Horaclitus, Epicurus, Parmanidus dan …. juga tentang penyair Paul Celan. Berkata Jean Bollack, semacam menyimpulkan pengalamannya: “… teks adalah suatu masalah sentral. Ketika membacanya kita bisa dengan gampang terjerumus oleh hal-hal semu, diganggu oleh penyimpangan-penyimpangan. Karena itu pada setiap pekerjaan [baca: pengkajian -- JJK], saya senantiasa membiasakan diri untuk berdialog dengan suatu tradisi: Sebelum memulainya, harus terlebih dahulu mengenal penulis yang kita mau tulis. Harus mengkaji sang pengarang tersebut dengan bertanya: Apa yang mau ia katakan? Dan mengapa ia berkata demikian?” [Lihat: Le Monde Livre, Paris, 02 Februari 2007].

Barangkali kata-kata Bollack ini mau mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya, untuk menulis tentang seorang sastrawan/penyair, ia mengawali kegiatannya dengan mengenal para sastrawan tersebut sebagai langkah awal mengenal “teks” yang ia sebut sebagai “masalah sentral”. “Agar memahami apa yang mau dikatakan oleh sang sastrawan/penyair, mengapa ia berkata demikian”. Sebagai contoh Jean Bollack menuturkan pengalamannya saat menulis empat jilid buku tentang penyair Paul Celan. “Saya memang mengenal baik Paul Celan dan saya membacanya selagi ia masih hidup… Tapi, terusterang, saya lama tidak memahaminya. Lalu saya berkata pada diri saya, mengapa saya tidak melakukan usaha ke arah itu sebagaimana yang saya lakukan terhadap sastrawan-sastrawan Yunani Kuno? Kemudian, selang sepuluh tahun, setelah Celan meninggal, saya mulai belajar membaca Celan lagi”. “Saya berketetapan hati untuk mempelajarinya lebih teliti, karena agaknya pada penulis ini terdapat suatu bahasa di dalam bahasa. Saya juga mempelajari ungkapan-ungkapan yang dia ciptakan. Saya mempelajari Celan selama dua puluh tahun. Tapi ingin juga saya katakan, bahwa seandainya saya tidak mempelajari penyair-penyair lama seakan-akan mereka itu adalah penyair-penyair kekinian, rasanya saya tak akan mungkin melihat tempat mereka dalam sejarah. Demikian juga terhadap Celan” [Ibid]. Jika cara kerja Jean Bollack ini bisa disebut sebagai suatu metode, maka apa yang kulakukan ketika membaca Inez sangatlah jauh dari metode demikian karena itu kukatakan tulisan ini hanyalah kesan subyektif dan perbincangan yang kemudian kucantumkan sebagai sebuah “jurnal seorang awam sastra. Lebih merepotkan lagi, karena proses Inez sebagai penyair masih jauh dari selesai. Apalagi berdasarkan catatan di bawah puluhan puisinya, tertanda tahun 2006 sebagai tahun paling awal. Karena itu pula, saya mendapat kesulitan besar untuk membuat suatu kesimpulan, kecuali membatasi diri pada pembacaan gejala. Hanya saya merasa beruntung karena tulisan ini tidak lebih dari sebuah “jurnal”. Metode Bolllac pun tidak bisa saya terapkan. Jika benar bahwa Inez baru mulai bersyair pada tahun 2006, dalam perjalanan panjangnya “mengembarai sebuah dunia” , jika menggunakan istilah Inez sendiri, apabila ia tidak jera dan cepat lelah serta tidak tergesa-gesa, berdasarkan apa yang saya baca, bukan tidak mungkin ia ditunggu esok kepenyairan yang bercahaya. Sekali pun ia juga tak punya pretensi macam-macam dalam berpuisi, kecuali mengungkapkan diri. Perjalanan panjang “di sebuah dunia” [ in a world], sekali lagi istilah yang ia gunakan, akan membuat Inez menjadi dirinya sendiri. Menemukan dirinya sendiri sebagai penyair. “Menjadi lain” dalam pengungkapan, jika meminjam istilah almarhum penyair asal Aceh, Agam Wispi. “Menjadi lain” yang wajar serta alami tentu saja. Menjadi diri sendiri, saya kira, adalah suatu keniscayaan. Karena jalan epigon agaknya suatu jalan macet ke depan. Epigon tak pernah melebihi yang ditiru. Kerja keras tak mengenal lelah dari Jean- Bollack selama 40 tahun lebih memperlihatkan suatu teladan sehingga ia menemukan metode sendiri. Dengan kerja keras menggunakan metode pendekatannya, Bollack antara lain sudah menerbitkan karya-karyanya tentang Jean Beaufret [1955], Denis O’Brien [1987], Marcel Conche [1996], Barbara Cassin [ 2998], A.H. Coxon [1986], Sumbangan Reinhardt Tahun 1916, Pelajaran Dari Heidgger, dan lain-lain…

Sekali pun banyak syair sudah ditulis, tapi kukira, kehidupan tidak pernah kelebihan syair dan penyair. Apalagi penyair yang seperti dikatakan Inez, ingin mengajak “kita terbangun dari tidur yang teramat panjang” yang “kejar mengejar dengan waktu” , memburu “makna”, seperti “kereta berlari mengejar masa depan” di “tanahairku/ ingin harakiri”.***

Paris, Januari 2007
———— ——— – —-
JJ. Kusni

Leave a Reply