Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (9) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [9]

Perihal tema yang diolah oleh Inez, seperti saya tuturkan di atas, adalah masalah-masalah keseharian yang dekat dengan dirinya. Kecintaannya kepada sang Ibu, masalah dapur, yang mungkin dikarenakan ia  suka masak-memasak, pemandangan alam dan musim Chicago di mana ia pernah tinggal dan belajar selama bertahun-tahun, perjalanannya di dalam metro [kereta di bawah tanah] serta kenangan-kenangannya. Bagi saya sendiri,  karena dipengaruhi oleh nasehat Rendra semasa remajaku, saya tidak pernah membatasi diri dengan tema. Maksudku tema apa pun bisa diangkat dan diolah. Tinggal bagaimana kita menggarap tema itu. Dalam mengolahnya, seorang penulis akan sangat dipengaruhi oleh pola pikir dan pandangan hidupnya. Dengan pandangan hidup inilah si penulis mengolah tema-tema yang ia angkat.  Karena penyair berkarya ditemani oleh imajinasinya, maka apa yang ia tulis belum tentu suatu kenyataan yang benar-benar ada walau pun imajinasi itu berkembang dan dikembangkan atas dasar kenyataan lingkungan di mana ia hidup ditambah dengan acuan-acuan melalui bacaan dan berbagai sumber lainnya. Dengan imajinasi beginilah, sambil membayangkan suatu kemungkinan, kukira Karl May  menulis, Jules Verne menulis karya-karya mereka. Jika menggunakan lukisan Lu Sin, pengarang Tiongkok pada tahun 1930an, tokoh-tokoh yang ia gambarkan kakinya berasal dari Nanking, kepalanya dari Beijing, tangannya ia pungut dari Shanghai. Lalu ia gabungkan dan melahirkan tokohnya sendiri sesuai dengan pandangan hidup dan apa tujuannya menulis. Artinya, imajinasi itu mempunyai dasar sosial atau kenyataannya. Karena itu,  karya sastra bisa menjadi salah satu sumber penuntun penelitian bagi para ilmuwan sosial untuk memahami keadaan masyarakat pada suatu zaman.  Keadaan begini sering dikatakan bahwa “sastra adalah cerminan atau anak zaman”.  Perkembangan lebih lanjut dari pandangan ini, para sejarawan  bahkan menganggap cerita rakyat, legenda merupakan salah satu sumber sejarah. Cerita Dracula atau  Frankenstein pun sebenarnya ditulis tidak lepas dari keadaan sejarah pada waktu itu. Yang lebih sederhana adalah filem Charles Chaplin seperti “Sang Diktator” yang dengan tajam mengkritik Hitler.  Tidak berbeda halnya dengan Marquis de Sade yang umum dikenal secara dangkal sebagai penulis erotik. Padahal jika diusut secara  lebih jauh, Sade dengan karya-karyanya mempunyai maksud tertentu yang tersembunyi.  Sade mengutuk  kerakusan dan keangkuhan kekuasaan yang menimbulkan malapetaka pada orang lain [lihat: Geoffrey Gorer, "The Life and Ideas of the Marquis de Sade", Panther Books Ltd, London, 1934, 203 hlm].

Pemilihan tema, pemilihan masalah yang diangkat dan diolah, saya sendiri menganggapnya sebagai suatu pilihan bersikap yang bukan kebetulan. Lepas dari pada bagaimana si penulis mengolah tema  tersebut.  Barangkali bisa diambil suatu analogi: Ketika seorang juru potret membidik suatu obyek, tentu pengambilan obyek itu dibarengi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu. Yang menarik dari puisi-puisi Inez, ia tidak berhenti pada pemotretan keadaan, tapi mencoba mencari makna. Keadaan masyarakat yang mengundahkannya karena ketiadaan kepastian hukum,  ia lukiskan misalnya dalam kata-kata:
terowongan bawah tanah
musim dingin

[Dari: Windy City Dalam Kenangan"]

Tentu saja ini adalah penafsiranku atas sebuah puisi yang umumnya berwayuh arti.  Bahwa seandainya Inez tidak menulis dengan maksud demikian, tentu saja bisa saja terjadi. Tapi ketika puisi disiarkan ia sudah dilepaskan kehadapan pembaca yang berdaulat. Sehingga bisa saja terjadi maksud penyair berbeda dengan pemahaman pembaca.  Pembaca yang berdaulat tidak niscaya mengikuti apa yang dimaksudkan penyair. Penyair, kiranya sudah kehilangan  kewenangan mendikte pembaca mengenai tafsiran tulisannya.  Kritik, resensi dalam hal ini pun paralel dengan kedaulatan pembaca. Memahami kritik sebagai keniscayaan memahami alur pikir penyair atau penulis, dan memandang penulis sebagai sejenis “dewa” tak bercela, tidak sepenuhnya bisa diterima. Memahami adalah satu soal, tapi setuju dan tidak setuju adalah soal lain. Benar dan tidak benar lebih lain lagi.

Jika dalam konteks film, Garin Nugroho pernah berkata, “nilailah sebuah karya berdasarkan pretensi pembuatnya”, pertanyaan saya:  Apa penonton tidak berhak berpendapat dan niscaya memahami  si pembuat filem? Apakah filem Arifin C Noer, G30S/PKI” tidak boleh dikritik, semata-mata karena  alasan harus “berdasarkan pretensi pembuatnya”? [baca:Arifin C. Noer. Mengenai filem ini saya pernah bicara langsung pada Arifin dan Jajang ketika mereka di Paris ]. Pendapat seperti ini terkesan pada saya, seakan menyirat adanya keinginan memahami pembuat filem dan atau penulis, dan mengelak kebebasan serta kedaulatan pembaca dan penonton. Apa gerangan  nama dan artinya sikap begini?! Lalu diapakan dan di mana tempat kritik serta atau resensi? Apakah kritik dan resensi hanya diminta untuk memuja-muji belaka? Apa bedanya pandangan begini dengan pembungkaman kritik dan resensi? “Pretensi” dan “dampak”, apalagi penafsiran, bisa mempunyai jarak besar. Nama tidak menjamin makna. Penafsiran merupakan bagian dari kedaulatan pembaca dan penonton. Mengapa kedaulatan ini harus “berdasarkan pretensi pembuatnya”? Inikah yang disebut apresiasi?

Sehubungan dengan masalah ini, saya menghargai sikap Inez yang tanpa “pretensi” dalam bersyair. Membiarkan pembaca syairnya menilai puisi-puisinya. Barangkali sikap inilah yang sekaligus  membebaskan Inez dari segala beban psikhologis dan membuka pintu ke jalan maju lebih jauh. Nama agaknya bukan menjadi tujuan Inez, karena puisi baginya  merupakan sarana pengungkap diri dan berlayar sadar di samudera sastra.***

Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]


Lampiran:
Puisi-puisi Inez Dikara

1. Di Sepanjang Michigan Avenue

daun daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue gerbang sekolah
besi besi dingin
tempat kau selalu menungguku
pusat belanja dan jendela besar toko buku
di sana,
kau dan aku menghitung butir butir hujan yang jatuhgegas
kaki kaki kejar mengejar dengan waktu
riuh suara kendaraan
menambah ramai benak orang orang
tenggelam mereka dalam masing masing pikiran
: orang orang kesepiandi sepanjang michigan avenue
ada getar yang tertinggal
seransel kenangan letih di pundakmu

[Milis Apsas, 26 Januari 2007]

2.Tanahku Ingin Harakiri

bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin. musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyitanahku
ingin harakiri.

[Milis Apsas, 02 Desember 2006]

3. Winter Song

dari balik jendela kamar
kulihat pohon pohon berbunga salju
di bawahnya seekor tupai
melompat kian kemari mencari kenari
di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakanangin bertiup kencang mendorong
tubuh para pejalan
begitu gigil baju hangat mereka rapatkan
lalu kulihat ada butir butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku

[Apsas, 27 Januari 2007]

4. Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin

mentari selalu mencari ibu
kala pagi datang bertamu
dibisikannya pada bunga bunga
agar sabar menunggu mawar merah dan kana
tumbuh secantik hati ibu
tempat aku berkaca
berharap kutemu wajahku di sana

[Apsas, 13 Desember 2006]

5. Sumbu

tali sumbu hampir habis
terbakar masa
entah apa dimasak
oleh tungku di atasnya
begitu tebal jelaga
adakah tertinggal makna?

[Apsas, 21 Desember 2006]

6. Yang Tumpah Di Mangkuk Malam

hangat airmata tumpah di mangkuk malam
entah siapa yang hendak meminum sepi
jeda yang tak berisi
tawa anak dan kecipak airdoa berhambur memenuhi udara
pada-Nya kau dan aku mencoba bercerita
tentang kata kata yang terbang tinggi
lalu jatuh di pucuk pucuk batu
terberai dan menyatu kembali dengan ragu
begitu berulang
hingga penantian usai
dan kita tak lagi berselisih dengan waktu

[Apsas, 02 Januari 2007]

7. Yang Tertinggal

rindu yang biru
di bibir malam yang bisu

29 November 2006

8. Senandung Hari

ingin kulipat hari
lalu kubentangkan malam
tempat lelah aku sandarkan
dari panjang perjalanan
lalu aku letakkan pundipundi doa di sisi
berharap malam nanti
Kau datang sebagai pencuri

27 November 2006

9.Yang Tertinggal di Kursi Kereta

laju kereta di sepanjang rel dua kota
kau dan aku pernah ada di dalamnya
mencoreti diari dengan banyak rencana
hingga peluit berbunyi di akhir perhentian
dan kita terbangun dari tidur yang teramat panjang
(tertinggal di kursi
lembar lembar diari menunduk
basah dengan airmata)

22 November 2006

 10. Windy City Dalam Kenangan

terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan

08 November 2006

11. Musim Di Dadamu

hanya ada satu musim di dadamu
aku bangun tenda dan berpiknik di sana sepanjang hari
lalu aku tinggalkan remah remah roti sebagai tanda
agar bisa kau kunjungi aku bila musim hatiku berganti

07 November 2006

One Response to “Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (9) oleh JJ Kusni”

  • onee:

    mbak, bisa buatin puisi yg mempunyai inti dimna untuk mengingat hal-hal besar, kita harus mencoba untuk mengingat hal-hal kecil..

Leave a Reply