Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (8) oleh JJ Kusni

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [8]

Sekarang, saya sampai ke masalah terakhir: pengamatan dan tema. Ketika memperhatikan puisi-puisi Inez, nampak bahwa penyair, [yang kukira di hari-hari mendatang dinanti oleh sekian kemungkinan asalkan ia bisa bertahan di jalan panjang perjalanan kepenyairan], akrab dengan alam, keluarga — terutama ibunya, soal-soal keseharian seperti dapur, sendok-garpu, dan soal-soal sederhana yang luput dari perhatian. Soal-soal sederhana dan umum inilah yang agaknya banyak diangkat oleh Inez sebagai tema olahan. Pada kemampuan menyerap nilai hakiki dari hal-hal keseharian, sederhana  dan umum dikenal oleh semua orang, justru terletak keunggulan penyair. Memberi yang biasa, umum dan keseharian itu, suatu makna universal. Dengan mengangkat tema-tema ini, saya melihat sekali lagi dan lagi-lagi kesederhanaan Inez. Kesederhanaan tanpa bombasme dan ambisi berkelebihan tanpa niat membuat suatu gebrakan apalagi yang disebut inovasi atau pembaharuan.  Ia bersyair secara alami sesuai suara nurani sambil tanpa lalai menggulati pencapaian puitisitas. Soal dapur, sendok, garpu, meja makan, pemandangan alam yang diangkatnya ke dalam puisi, selain barangkali karena ia memang termasuk seorang yang suka masak, mengingatkan saya pada anjuran Rendra ketika kami serumah di Yogya pada masa remaja Yogyaku. Rendra pada waktu itu menasehati saya agar mengamati segala sesuatu, memperhatikan dengan indra segala apa saja dengan penuh ketelitian. Pengamatan ini, ujar Rendra, pada suatu saat akan muncul dengan sendirinya dan berguna ketika kita menulis sesuatu. Membantu kita melengkapi pelukisan imajinasi kita, memperkaya metafora alias perbandingan-perbandingan yang perlu. Misalnya: Jika ada seorang perempuan lewat di depanmu, amatilah dia secermat mungkin. Bagaimana gincu dan bibirnya, tubuhnya, tatanan rambutnya, dan sebagainya. Amati meja, kursi, sendok, garpu, batu, sungai, air yang mengalir, warna langit dan sebagainya… Amati, amati, amati segalanya dengan teliti, di samping berlatih, berlatih, mencoba dan mencoba dalam segala macam bentuk perpuisian untuk mematangkan serta meningkatkan taraf tekhnik berpuisi, adalah inti nasehat Rendra yang selalu kuingat sampai sekarang. Puisi  yang puisi tidak lain dari hasil kerja keras tak kenal lelah. Pengamatan dan hasil pengamatan cermat ini akhirnya mengendap di ingatan kita diam-diam dan menjadi bagian dari diri kita sehingga pada suatu ketika, saat kita menulis, ia akan muncul secara alami. Hal inilah yang kemudian yang kunamakan sebagai kesadaran berpuisi dari segi tekhnik. Karena tekhnik berpuisi tentu berbeda dengan tekhnik berpidato, tekhnik menulis artikel, esai atau cerpen. Puisi seniscayanya tetap puisi, jika menggunakan istilah penyair Amarzan Ismail Hamid dari Majalah Tempo, Jakarta ketika berbicara tentang alm. penyair Agam Wispi di dalam Majalah Medium, Jakarta.
Ketika Inez berbicara tentang sendok, garpu, meja makan, pemandangan alam musim dingin,  musim gugur di Chicago di mana ia pernah bertahun-tahun tinggal, gejala “memperhatikan segala sesuatu dengan cermat” ini, sempat kutangkap pada Inez [Lihat: Lampiran puisi-puisi Inez di tulisan terdahulu]. Masalahnya: Apakah pengamatan ini dilakukan dengan sadar atau masih bertingkat naluri? Pertanyaan yang hanya Inez saja bisa menjawabnya dengan pasti. Apa yang kutulis ini pun, sama sekali bukan suatu nasehat, tapi lebih bersifat penuturan pengalaman dari seniorku dalam perjalan mereka atau dia untuk mengungkapkan diri menggunakan puisi tanpa perduli apakah ia akan menjadi penyair, diakui sebagai penyair atau tidak. Yang masih dan melekat dalam di ingatanku adalah pernyataan Rendra di Gampingan kepadaku di depan Mbak Soenarti alm. bahwa “mengungkapkan diri adalah hak dasar anak manusia”. Karena itu Mbak Ken Zuraida dan Rendra sangat marah ketika mengetahui dari teman-teman Ikatan Sastrawan Indonesia, Kalimantan Tengah di Palangka Raya,  bahwa di akhir masa kerjaku di Palangka Raya, Kalteng, kampung kelahiranku, aku sempat dilarang berbicara di depan publik, dicekal untuk menulis dan bahkan memberi makalah di seminar-seminar publik. Kemarahan besar Rendra dan Mbak Ken ini, mereka ungkapkan dalam suatu percakapan telpon jarak jauh Paris-Jakarta. Pelarangan begini, kupahami sebagai kekuatan kata dan sastra. Kata yang membuat Cak Durasim, dibunuh oleh fasis Jepang dan sekarang di Turki, Orhan Pamuk diancam kematian. Kata dan pena yang sangat ditakuti oleh Napoleon Bonaparte. Kata dan sastra hadap-hadapan dengan ajal. Bertarung dengan ajal. Tanda bahwa sastra adalah sebuah republik berdaulat di mana para warganya bebas berpikir dan menyetiai kebebasan berpikir ini. Cara para pengguna kata memainkan peran pengawasan sosial dan tanggungjawab kemanusiaannya. Sastra adalah sebuah dunia yang tak pernah usai dijelajahi karena ia seluas kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang selalu menyimpan misteri, buhul kemelut tak usai diurai. Starting point, point de part, dermaga keberangkatan Inez ketika melauti dunia puisi, adalah dermaga yang mengena. Ini pun kalau pengamatanku atas puisi-puisinya yang berhasil kuhimpun, benar dan apakah Inez benar-benar mau menjadi penyair atau sebatas suatu keisengan mengisi waktu senggang di antara kesibukan-kesibukan lainnya. Keisengan akhirnya berujung dengan ketenggalaman dan kelenyapan tanpa gaung dan gema seperti yang dikatakan oleh Chairil Anwar: “aku mati iseng sendiri”.
Paris, Januari 2007
————————–
JJ. Kusni
[Bersambung...]

Leave a Reply