Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (7) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [7]
Saya tidak tahu, sejak kapan Inez mulai menulis puisi. Saya tidak mempunyai dokumen yang lengkap tentang hal ini. Hanya sekali lagi dari bahan-bahan yang saya miliki, nampak bahwa Inez sudah biasa menggunakan puisi sebagai sarana pengungkap diri. Bisa saja, selain Inez memang lama menulis, bisa juga di samping menulis, Inez pun biasa membaca puisi-puisi dari berbagai sumber. Sehingga dengan acuan-acuan itu, ia mempunyai suatu gambaran bagaimana berpuisi. Jika benar dugaan ini, maka dugaan ini  menunjukkan arti penting membaca serta mendapatkan acuan-acuan luas bagi perkembangan diri seorang penyair. Ia juga memperlihatkan bahwa bersandar pada yang disebut bakat saja tidak memadai untuk menjadi penyair “berkaliber” .  Apalagi jika kita sepakat bahwa puisi selain bergelut dengan permasalah tekhnik pengungkapan, ia pun sesungguhnya menggulati soal-soal wawasan, masyarakat dan kehidupan seutuhnya.  Kalau seorang penyair berbicara tentang dirinya sendiri, tidak jarang pembicaraan yang seakan tentang diri sendiri itu sesungguhnya bukanlah bersifat narsistik tetapi lebih bersifat medium atau perantara atau jalaran untuk melukiskan keadaan masyarakat masa hidupnya, baik langsung atau pun tidak langsung. Agar mampu mencerminkan keadaan yang tak terlalu jauh dari kenyataan serta bisa melakukan suatu analisa padan, maka penyair akan sangat baik jika melengkapi dengan suatu metode berpikir serta analisa, mempelajari secara dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sosiologi, sejarah, geografi, psikhologi, antropologi, fisika, kimia, komunikasi, tatabahasa, seksologi, dan lain-lain… .   Pandangan begini, pada tahun 1960-an di Indonesia, pernah dirumuskan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra], dalam kata-kata: “tahu segala tentang sesuatu, tahu sesuatu tentang segala” dan “manusia bersegi banyak”. Makin seorang penyair melengkapi diri secara pengetahuan dan wawasan, makin karya-karyanya patut diperhitungkan tanpa menuntut diperhatikan. Makin pula ia mempunyai syarat untuk  berdiri selangkah di depan perkembangan peristiwa serta mempunyai harapan dalam memberikan  sumbangan bagi pemanusiawian manusia, kehidupan dan masyarakat — yang kuanggap sebagai mimpi universal. Dari segi tujuan, tujuan ini barangkali memberi ciri universal pada sastra. Sementara egoisme dan mencari pengejaran nama akhirnya  bukan menjadi target. Karena nama dan bernama, termasuk masalah diperhitungkan masyarakat adalah hasil dan akibat dari sebab pekerjaan serta usaha. Ketenaran bisa mempunyai  macam-macam arti. Di dalamnya ada ketenaran promosi perdagangan berpedoman pada uang, tapi di samping itu ada pula ketenaran karena pengaruh-pengaruh ide yang diketengahkan, tanpa meniadakan unsur bisnis dari suatu karya. Ketenaran pertama kupandang tidak memberikan apa-apa bagi pemanusiaan manusia, kehidupan dan masyarakat karena pada galibnya penulis tipe ini mencoba melawan kenyataan bahwa dirinya adalah bagian dari kebersamaan hidup bermasyarakat  serta lebih menjadikan diri sebagai mataair segala kegiatan narsistis. Narsisme tidak segan menjadikan diri sebagai budak kapital alias hamba sahaya dari uang sang raja. Manusia dan pemanusiaan manusia ditempatkan oleh para narsis pada urutan nomor terakhir. Salah satu ujud dari hal ini adalah eksploatasi seks di dalam sastra serta cara menulis dan melihat masalah seks. Eksploatasi seks serta kata-kata yang berbau “lendir”,  agaknya juga sudah tidak asing di dunia sastra Indonesia, termasuk di dalam puisi. Penggunaan kata-kata “setubuh”, “vagina”, “sperma” , “penis”, “jumbut”, dan kata-kata lain sejenis tidak jarang kita dapatkan. Bahkan saya pernah mendengar adanya genre sastra yang disebut “sastra wangi”. Adanya arus sastra yang mengeksploatasi soal seks begini, beberapa tahun lalu, telah mendorong sebuah universitas di Yogyakarta untuk membahasnya secara serius dalam seminar sehari. Saya sendiri tidak menginginkan pelarangan terhadap arus sastra model begini, sesuai dengan prinsip “biar bunga mekar bersama seribu aliran bersaing suara”. Berangkat dari prinsip ”bunga” atau kebhinekaan ini dan prinsip percaya pada pembaca yang berdaulat, sekaligus untuk menumbuhkembangkan apresiasi sastra, untuk menghadapi keadaan begini saya kira peranan kritik sastra akan menjadi sangat penting. Berkembangnya kritik sastra, bukan tidak mungkin, akan berperan meningkatkan taraf kualitas sastra itu sendiri.
Berdasarkan  sejumlah puisi Inez yang berhasil kukumpulkan selama ini, nampak bahwa Inez tidak terbawa oleh arus “sastra seks” ini.  Boleh jadi sample yang kugunakan tidak padan sehingga konstatasiku pun menjadi keliru. Dari sejumlah sanjak-sanjak Inez yang bisa kuhimpun, masalah yang banyak direnungi oleh Inez adalah soal “ibu”nya. Misalnya dalam sanjaknya “Winter Song”:
“di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan”

atau dalam puisinya “Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin”

mentari selalu mencari ibu
kala pagi datang bertamu
dibisikannya pada bunga bunga
agar sabar menunggu

mawar merah dan kana
tumbuh secantik hati ibu
tempat aku berkaca
berharap kutemu wajahku d
i sana

[Apsas, 13 Desember 2006]
Dari puisi “Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin” ini nampak pada Inez bahwa “ibu” sebagai lambang “kecantikan” . Tentu “kecantikan” dalam arti luas.  Dan “kecantikan” inilah yang selalu diburu, dirindui  serta diharapkan oleh penyair.
Untuk mengungkapkan diri dengan kesadaran bahwa ia dibatasi oleh kekayaan kosakata bahasa Indonesia, Inez tidak mempunyai keraguan menggunakan kata-kata baru pinjaman dari kosakaga bahasa lain, seperti “harakiri”, “rotasi”, “avenue”, “winter”, “song” [kukira, Inez memilih kata "song" dari pada menggunakan "nyanyian", tentu dengan maksud tertentu, misalnya mendapatkan irama kalimat serta kepantasan kata menemani kata "winter"]. Penggunaan kata-kata pinjaman begini, termasuk pembentukan kata atau penciptaan kata-kata baru, bisa dipertanggungjawabk an dari segi adanya “kebebasan penyair”. Dari segi pengembangan bahasa Indonesia, barangkali merupakan cara memperkaya kosakata bahasa, sebagai sumbangan penyair pada bahasa. Dalam usaha ini dan memudahkan diri menulis serta membebaskan diri dari keterbatasan kosakata, Anjar, novelis dari Bandung, selain meminjam kosakata asing, juga secara sadar menggali kosakata-kosakata lama. Untuk itu Anjar dengan tekun membuka kamus-kamus. Di Perancis usaha menghidupkan kosakata yang hampir hilang ini dilakukan secara sadar pula oleh Bernard Pivot,  budayawan yang mendapat bintang jasa Legion d’Honneur dari pemerintah atas jasanya memelihara dan mengembangkan bahasa Perancis. Bernard Pivot memandang kosakata sebagai batang-batang pohon di hutan tropika. Setiap pohon harus dijaga dan dilindungi, ujar Pivot dalam bukunya “Menyelamatkan Seratus Kata Yang Hampir Hilang” [Gallimard, Paris, 2006].  Dalam sejarah sastra Indonesia, terutama pada tahun  1960an, Lekra pernah mendorong pengembangan bahasa Indonesia melalui pengangkatan kosakata-kosakata bahasa lokal. Menurut pandangan Lekra,  “bahasa lokal dan bahasa Indonesia mempunyai kecenderungan saling mendekati dan saling mengisi”. Di dalam konteks ini, usaha Ajip Rosidi dalam mengembangkan sastra daerah melalui sistem Hadiah Rancage, merupakan usaha berharga. Sama berharganya dengan konsep Halim HD dkk, tentang “sastra-seni kepulauan” sebagai politik pembangunan budaya Indonesia.  Sastra lokal adalah bagian dari sastra-seni Indonesia. Sebab bagiku yang dimaksudkan dengan sastra Indonesia bukan hanya terdiri dari sastra berbahasa Indonesia, tetapi juga semua karya sasatra yang dihasilkan  dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lokal Indonesia. Benar, bahwa dengan perkembangan tekhnologi yang melaju, dunia kita menjadi “desa dunia” yang kecil saja, tapi mengapa pertama-tama berorientasi ke luar, jika kosakata lokal masih cukup padan mengungkapkan  ide dan perasaan guna memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Barangkali, masalahnya terletak pada pengenalan kita akan budaya lokal kita sendiri. Apalagi dengan adanya sistem pendidikan yang menjurus ke corak Amerika sehingga berdampak lahirnya suatu kompleks tertentu [entah terselubung atau tidak] dan keterasingan diri di tanahair sendiri. Jika menggunakan kosakata daerah dan bukan bahasa Inggris, terasa si pemakai bahasa merasa taraf dan prestisenya turun.  Dari segi ini, apa yang dilakukan oleh Federico Garcia Lorca  sangat menarik. Lorca berangkat dari puisi orang-orang Gitana dan Andalusia yang indah. Bahkan Victor Hugo dalam karyanya “Si Bongkok Dari Notre Dame” berangkat dari permasalahan kaum Gitana juga. Hugo menggantikan para hulubalang [chevaliers] dengan Asmaralda, tokoh Gitana dan Si Bongkok, sebagaimana Molière dalam ceritanya “Si Buruk Muka dan Si Cantik”. Yang ingin kukatakan dengan uraian di atas bahwa sastra lokal bisa memperkaya dan menyuburkan serta kian memberi warna unik pada kreativitas sastra-seni kita, tanpa menutup pintu pada dunia luar.  Menghargai dan memperhatikan keunikan inilah maka penerbit Actes Sud, Paris, tahun ini telah menerbitkan karya Kunzang Choden, seorang perempuan pengarang asal Bhutan: “Le Cercle du Karma” [Siklus Karma, 430 hlm. ].
Sekarang, saya sampai ke masalah terakhir: pengamatan dan tema. 
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni

3 Responses to “Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (7) oleh JJ Kusni”

Leave a Reply