Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (6) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [6]
Yang ajeg terdapat pada puisi-puisi Inez adalah pengangkatan faktor alam sebagai perbandingan. Sehingga gampang diindrakan. Pengindraan menjadi lebih gampang lagi, karena umumnya perbandingan-perbandingan itu dilukiskan secara runtun. Dari puisi-puisi Inez yang kumuliki, jarang kudapatkan ada loncatan mendadak dalam pelukisan serta perbandingan. Loncatan mendadak yang mempersonakan terdapat pada saat Inez menutup puisinya dengan suatu renungan kesimpulan. Misalnya pada puisi berikut :
Winter Song 
dari balik jendela kamar
kulihat pohon pohon berbunga salju
di bawahnya seekor tupai
melompat kian kemari mencari kenari

di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan

angin bertiup kencang mendorong
tubuh para pejalan
begitu gigil baju hangat mereka rapatkan
lalu kulihat ada butir butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku

[Apsas, 27 Januari 2007]
Dari baik pertama hingga ketiga, Inez melukiskan keadaan musim dingin secara runtun. Tanpa dadakan. Dadakan itu terjadi ketika Inez menutup puisinya secara liris:
“lalu kulihat ada butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku”
Keadaan di atas juga misalnya terdapat pada puisi berikut:
Windy City Dalam Kenangan
 by  inezdikara
terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan
08 November 2006
“kereta belari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan”
adalah kalimat-kalimat kesimpulan dan renungan. Kata-kata bersayap atau berwayuh arti, jika menggunakan istilah alm.  Prof. Djojodiguno, pengajar sosiologi dan hukum pada Universitas  Gadjahmada di tahun 60-an. Penutupan puisi dengan suatu kesimpulan renungan dengan kalimat-kalimat berwayuh arti, agaknya sering dilakukan dilakukan oleh Inez. Berwayuh arti, barangkali adalah ciri dan kekuatan suatu puisi, seperti kata-kata Paul Elouard, penyair Perancis, dalam “La Vie Immédiate”:
“kekuatan cinta
penaka raksasa tanpa raga”
atau kata-kata Chairil Anwar  yang mengingatkan kita pada nasib Sysiphus, bahwa:
“hidup hanyalah menunda kekalahan” 
atau baris-baris Ramadhan KH yang seakan paralel dengan nasib Eros yang dikutuksumpahi Ahaseros:
“ternyata aku
hanyalah seorang pengembara”
Kata-kata dan kalimat-kalimat berwayuh arti, membuka pintu selaksa tafsir, memberi sayap-sayap perkasa pada imajinasi dan pikir untuk terbang  ke cakrawala-cakrawala jauh.  Kata-kata dan kalimat-kalimat berwayuh arti ini pun mengajak kita merenungi gejala guna menyelamati hakekat. Barangkali, pada saat ini, puisi menjadi jembatan pelangi yang mempertemukan  makna dan pesan di bumi kehidupan.
Sekali pun puisi berbeda dengan esai atau artikel, apalagi tesis atau skripsi,  tapi jika pengamatanku benar, puisi-puisi Inez agaknya mempunyai suatu pola atau sistematik tertentu.  Mula-mula ia mengetengahkan masalah, kemudian masalah itu ia urai [tentu saja secara pusi] dan akhirnya ia simpulkan. Bagan atau sistematik ini kunamakan semacam piramida terbalik.  Adanya bagan piramida terbalik pada puisi-puisi Inez, menumbuhkan suatu hipotesa pada diriku, bahwa penyair ini agaknya biasa berpikir secara sistematik. Biasa berpikir runtun.  Kebiasaan berpikir runtun, kukira akan membantu penyair lebih cermat memilih kata. Karena kata adalah cerminan pikiran dan perasaan. Yang tidak biasa berpikir runtun, apalagi mengabaikan nalar [logika] akan tercermin pula pada bahasa dan kata-kata yang ia pilih dan gunakan. Selesai tidak pemikiran seseorang terungkap dalam bahasa dan pilihan katanya. Jika hipotesa dan penglihatanku benar, maka kukira, kebiasaan berpikir runtun ini pun merupakan modal penting bagi Inez dalam bersyair lebih jauh.
Selanjutnya saya ingin menyentuh kembali sedikit lagi soal pemilihan kata dan tema yang diolah oleh Inez.
Paris, Januari 2007
————————–
JJ. Kusni
[Bersambung...]

Leave a Reply