Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (5) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [5]
Dengan kesederhanaannya, Inez memulai kepneyairannya secara wajar dan alami. Puisi-puisi Inez merupakan ungkapan langsung dari renungan dan isihatinya. Puisi-puisinya serupa arus yang mengalir dari mataair jiwa dan pikirannya. Barangkali hal ini pulalah yang menyebabkan ia nampak tidak terlalu produktif. Ia berpuisi tanpa target, misalnya harus menulis seribu puisi dalam sekian kurun waktu . Tanpa rencana. Sekali pun, seperti kukatakan di atas, barangkali saja, ia diam-diam terus melakukan latihan-latihan dan percobaan-percobaan dalam berbagai bentuk — tapi tidak ia siarkan dan tidak pula sebagai keniscayaan jumlah yang harus ia penuhi. Penjatahan jumlah puisi yang harus ditulis, kukira mengandung kemungkinan monotonisme dan pengulangan- pengulangan yang tak perlu, sehingga sepuluh puisi yang ditulis, sebenarnya bisa dirangkumpadatkan ke dalam satu sanjak saja. Kemungkinan begini, kudasarkan pada batas bacaan atas teks-teks yang Inez siarkan. Dari teks-teks tersebut, nampak bahwa Inez sadar benar bahwa ia sedang menulis puisi. Menggunakan puisi sebagai sarana pengungkap diri. Kesadaran ini mendorongnya menggulati bentuk. Memperhitungkan cara pengungkapan. Mengindahkan irama, persamaan bunyi, perbandingan dan pilihan kata. Misalnya pada sanjak berikut:

Yang Tertinggal

by inezdikara
rindu yang biru
di bibir malam yang bisu
29 November 2006
Di puisi dua baris ini, saya melihat pergulatan Inez mendapatkan puitisitas, bukan hanya melalui persamaan bunyi pada kata “rindu” dan “biru” serta “bisu”, tetapi juga pada pemilihan kata “rindu”, “biru”, “bibir” yang mengandung huruf-huruf “r” — huruf yang mengandung getar. Getar yang ditimbulkan oleh huruf “r” , barangkali bisa disambungkan pada keinginan penyair menggambarkan betapa sepi dan rindu itu membuat yang sedang didera jadi gemetaran. Sementara huruf “b” pada “bibir” dan bisu” — suatu aliterasi — melukiskan orang yang gemetar karena sepi dan rindu itu berada di suatu ruang pengap. Penuh dengan asap kesumpekan. Sedangkan penggadaan kata “yang”, barangkali dimaksudkan oleh Inez untuk membayangkan, betapa rindu dan sepi itu menggaung jauh berkepanjangan sejauh seluas malam. Pemilihan kata “bibir malam”, menggambarkan di mana yang sedang di dera “rindu” dan sepi itu berada. Yang didera “rindu” belum dikunyah-kunyah, belum dikeremus, tapi kedudukannya tak obah seperti orang yang sedang berada di “bibir” jurang yang dalam. Sedikit saja lagi bergeser maka ia bisa terjungkal ke lembah dalam hanya disambut oleh gaunggema dukanya sendiri.
Dua baris sanjak di atas, mungkin nampaknya sederhana. Tapi kukira, untuk sampai bisa menulis dua baris demikian dari si penulis memerlukan renungan dan pergulatan bentuk yang tak sederhana. Prosesnya mungkin saja menggunakan waktu seminggu bahkan lebih hingga akhirnya menyembur wajar dari hati seperti halnya air mengalir dari sumbernya. Keadaan beginilah yang kusebut sebagai “momentum puitis”. “Momentum puitis” ini jika dilewatkan akan hilang dan barangkali tak akan kembali.
Pergulatan mendapatkan bentuk serta mempertahankan puitisitas ini kembali nampak pada puisi Inez “Di Sepanjang Michigan Avenue”, Winter Song”, dan sanjak-sanjak Inez lainnya.
“daun- daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue”

[Di Sepanjang Michigan Avenue]
Dari larik ini, saya melihat bagaimana mencoba menggunakan sajak tengah untuk menimbulkan dampak emosional dan melalui pelukisan suasana musim gugur. Yang kumaksudkan dengan sanjak tengah adalah adanya “i” pada kata “begitu” dan “i” pada kata “ingin”. Bunyi “i” bagiku menggambarkan suasana kesendirian dan kegamangan. Sajak tengah ini pun kita saya dapatkan juga pada huruf “u” di kata-kata “menyentuh”, “ujung” dan “sepatuku” hingga kata “avenue”. Bunyi yang digaungkan oleh huruf “u”, kukira juga bukan bunyi yang ceria. Sehingga pemilihan kata dengan adanya huruf-huruf tersebut, agaknya Inez mencoba membayangkan suasana hati yang sejajar dengan suasana musim gugur di Michigan Avenue.
Kalau penglihatanku benar, maka dari dua contoh di atas saja, saya menyaksikan pergulatan sadar dan kerja keras Inez dalam mencari dan menciptakan bentuk puitis untuk mengungkapkan diri. Pergulatan sadar dan kerja keras begini, kukira merupakan modal sangat berharga bagi perkembangan lebih lanjut Inez sebagai penyair. ***
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]

Leave a Reply