Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (4) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [4]

Dari segi cara pengungkapan diri, saya dapatkan bahwa Inez menuturkan perasaan dan pikirannya secara sederhana, tanpa bombasme. Apalagi ambisi melakukan suatu pembaruan dalam berpuisi. Kesederhaan Inez mengingatkan saya akan kesederhanaan penyair Ho Chi Minh dari Viêt Nam yang menulis baris-baris berikut:

“bulan memancing syair

tunggu sampai besok

aku sibuk dengan urusan perang”

[Dari kusanjak Ho Chi Minh: Catatan Harian Dalam Penjara”.

Kesederhanaan Inez misalnya nampak dari bait-bait berikut, yang melukiskan suasana musim gugur:

“daun daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue”

[Dari: Di Sepanjang Michigan Avenue]


Sehubungan dengan kesederhanaan ini, saya jadi teringat akan kata-kata alm. penyair Agam Wispi bahwa keindahan, kebenaran dan puitisitas saling berkaitan. Karena itu menjadi sederhana yang puitis itu tidaklah sederhana. Kekuatan kesederhanaan yang puitis akan meningkat jika ia ditopang oleh renungan sehingga meninggalkan permukaan permasalahan. Kekuatan haiku atau puisi-puisi para penyair Dinasti Thang, barangkali terletak pada kesederhanaan ini. Juga terdapat pada penyair tipe Walt Whitman atau Longfellow dari Amerika Serikat, atau Shelley dari Inggris. Tapi dengan kesederhanaan yang bahkan bisa dikatakan “lugu” tanpa ambisi atau pretensi menjadi pelopor pembaharuan, Inez secara wajar mengungkapkan apa yang mengejolak di dalam nuraninya. Sehingga dengan kesederhanaan “lugu” ini, pada puisi-puisi Inez, terdapat suatu kejujuran yang polos. Pretensi menjadi pembaharu atau tidak di dunia perpuisian, agaknya jauh dari pemikiran Inez. Sehingga ia bebas dalam bersyair. Barangkali yang tak lepas dari perhitungan Inez bahwa ia mencoba selalu mendapatkan dan menjaga puitisitas dalam puisi-puisi sederhananya. Karena itu kukatakan bahwa kesederhanaan adalah pengungkapan nurani dan kesimpulan pengalaman secara puitis, seperti yang sejak lama ditunjukkan oleh misalnya pantun atau pepatah-petitih tetua kita:

“ke pulau sama ke pulau

ke pulau menangguk udang

merantau sama merantau

kalau mati mati seorang”

atau pepatah-petitih para tetua kita:

“menepuk air di dulang

tepercik ke muka sendiri”

atau :

“tangan mencencang

bahu memikul”

Pantun dan pepatah-petitih, kukira menjadi langgeng karena sari pengalaman yang tersimpulkan secara sederhana dengan menjaga puitisitas bentuk pengungkapan. Keserdahanaan membuat kesimpulan ini menjadi sangat komunikatif , dan tidak mendiami ruang-ruang gelap — ciri utama dari puisi-puisi lisan dan rakyat. Sifat komunikatif ini membuat puisi tidak terasing dari kehidupan. Tidak menjadi milik sebatas kelompok kecil yang mengeluh jika puisi atau karya-karyanya tidak dipahami sementara mereka , para penyair merasa karya-karya mereka sudah demikian canggih bahkan merasa telah melakukan pembaharuan. Mau komunikatif atau tidak, kukira, memang pilihan masing-masing. Mengenai pilihan, siapa pun tidak bisa menggugat hak dasar ini. Kalau pemahamanku benar, agaknya Inez berkecenderungan memilih puisi-puisi sederhana dan terang, bukan memilih jalan samar dan apalagi gelap. Kesederhanaan yang dicanangkan oleh Agam Wispi hingga bisa menulis sesederhana Ho Chi Minh, Shelley, Longfellow atau pantun serta pepatah-petitih, agaknya memang banyak dimungkinkan oleh kematangan jiwa serta kedalaman renungan. Perenung yang didewasakan oleh badai pengalaman akan bersikap rendah hati, mendalami hakekat peristiwa-peristiwa yang menggebrak hidupnya. Puisi akhirnya langsung lahir dari rahim nurani dan renungan sebagai suatu kesimpulan. Kebenaran yang disimpulkan dari gegap-gempita hidup inilah yang membuat karya-karya tersebut menjadi tahan panas dan dingin waktu. Bentuk pun muncul secara alami tanpa ambisi dan pretensi. Yang menyedihkan, bahwa atas nama modernisasi atau pembaharuan, sering kita menyaksikan para kritikus tidak memahami budaya-budaya lokal yang melatari suatu karya, serta membatasi pertimbangan mereka terhadap suatu karya berdasarkan pengetahuan dan latar pendidikan mereka — yang lebih berorientasi ke Barat. Seakan Barat adalah standar keunggulan dan kebenaran. Jika konstatasi ini benar, maka kritisi sastra kita, apakah bukan menjadi orang asing di negeri sendiri dan secara membuta menterapkan patokan asing atas yang terdapat di negeri sendiri?

Kesederhanaan yang menyatu dengan kebenaran dan puitisitas, kukira, merupakan tanda dari sastra di wilayah negeri yang bernama Indonesia sekarang. Apakah dengan kesederhanaan komunikatif- refleksif yang muncul tiba-tiba dan sering sangat menyentuh dalam puisinya, Inez memang sadar menggunakan cara pengungkapan begini? Jika ia memang sadar melakukannya, kukira, bukan tidak mungkin kemudian kita melihat bahwa Inez bisa melangkah lebih jauh dibandingkan dengan para pendahulunya, misalnya Toety Heraty. Bagiku, pergulatan pikiran akan mendorong seseorang penyair ke pergulatan bentuk. Alasanku: Pergulatan pikiran dan isi pergulatan itu akan mencari cara penuangannya yang khas. Perbedaan dan inovasi tidak usah dicari-cari sehingga mempertontokan diri terkadang sangat bombas. Pembebasan kata atau mantra sebagai suatu penemuan, masih sangat kuragukan. Apalagi mantra itu sebenarnya sudah lama ada dalam di berbagai etnik masyarakat kita. Masalahnya apakah benar kita memahami arti mantra, ataukah para kritisi saja yang kurang paham sehingga mengangkatnya sebagai suatu kesalahpahaman sejarah sastra. Suatu pertanyaan saja. Berbeda dengan Chairil Anwar baik dalam bentuk atau pun isi pemikirannya. Dengan kesederhanaannya, saya melihat Inez memulai kepenyairannya secara wajar dan alami.

Paris, Januari 2007

———— ——— —–

JJ. Kusni

[Bersambung. ..]

Leave a Reply