Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (3) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [3]
Di bidang isi, ide dan wawasan puisi ini, sekali lagi jika menggunakan pemilahan Budi Darma, saya tidak ingin mengatakan sesuatu yang terlalu prematur, kecuali membaca gejala atau tanda-tanda, tentang puisi-puisi Inez , yang dengan rendah hati mengatakan dirinya sebagai pemula. Sekali pun mengaku “sebagai pemula”, Inez sudah memperlihatkan ciri-ciri dirinya dalam bersyair. Baik dalam isi mau pun dalam bentuk. Kerendahan hati adalah jalan lebar bagi seseorang untuk melangkah ke depan yang jauh di luar ukuran dugaan.
Dari segi isi, bagaimana Inez memperlakukan tema-tema olahannya? Menjawab pertanyaan ini, saya mengambil contoh puisi Inez berikut:
SUMBU
tali sumbu hampir habis
terbakar masa
entah apa dimasak
oleh tungku di atasnya
begitu tebal jelaga
adakah tertinggal makna?
[Apsas, 21 Desember 2006]
Melalui puisi enam baris ini, saya melihat usaha yang menggejala dari Inez untuk merenungi sesuatu hingga ke hakekat yang lebih lebih jauh dan dalam dari tema-tema olahannya. Dengan kata menggejala, saya ingin memebedakan dengan suatu ciri, atau belum menjadi corak atau tanda. Tema-tema yang ia pilih, umumnya adalah masalah-masalah sederhana keseharian. Usaha ini barangkali hampir menjadi ciri dari syair-syair Inez. Seandainya Inez meneruskan usaha ini secara sadar, barangkali puisi-puisi Inez akan lebih mendalam dan menjawab pertanyaannya sendiri: “adakah tertinggal makna?” dari baris-baris yang goreskan? “Makna” apa dan untuk siapa? Ketika seorang penyair mulai berbicara sadar tentang “makna”, maka pertanyaannya akan seperti sebuah pinisi melayari samudera luas tanpa dermaga, seperti ombak menggulung menderu menggugat pantai mencari jawab. Seperti sebuah perjalanan yang tak punya sampai. Gejala begini pun, saya lihat misalnya dari puisi Inez di bawah ini:

TANAHKU INGIN HARAKIRI
bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin.
musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyi

tanahku
ingin harakiri.

[Milis Apsas, 02 Desember 2006]
Melalui kata-kata “tanahku/ingin harakiri”, saya menangkap banyak soal mendasar yang diajukan penyair, termasuk masalah kerusakan lingkungan hidup. Jika soal ini dikembangkan lebih lanjut, maka ia akan merambah ke banyak bidang. Karena Inez berbicara menggunakan puisi sebagai bahasa, maka soal-soal mendasar dan urgen ini dia ungkapkan hanya dengan dua baris: “tanahku/ingin harakiri”.
Contoh lain adalah puisi berikut:

Windy City Dalam Kenangan

by inezdikara
terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan
08 November 2006
Renungan-renungan adalah salah satu wahana penyair guna memberikan sumbangan kepada masyarakatnya dalam menuju yang disebut oleh penyair Chile, Pablo Neruda “The Splendid City”, “La Ciudad Espléndida” [Lihat: Pablo Neruda, Toward The Splendid City", The Noonday Press, New York, 1972, 35 hlm].
Dengan istilah “renungan”, saya pun ingin membedakannya dengan masalah keberpihakan. Keberpihakan [engagement, commitment] adalah pilihan masing-masing seperti halnya dengan bertanggungjawab atau tidak. Juga adalah pilihan masing-masing. Dan kukira, tidak seniscayanya siapa pun memaksa seseorang untuk memilih sesuatu di luar kesadarannya. Melalui pilihan masing-masing ini, masing-masing secara langsung menunjukkan apa-siapa diri masing-masing. Mau menjadi seorang sastrawan atau cendekiawan organik atau tidak, juga adalah pilihan dan keputusan serta pertimbangan masing-masing. Adanya macam-macam pilihan ini pun, kulihat sekaligus telah mencerminkan keadaan masyarakat di suatu masa tertentu. Renungan agaknya lebih menjurus ke usaha memahami hakekat hal-ikhwal, sedangkan “engagement” cenderung ke partisanisme. Renungan lebih dekat pada “makna”, sedangkan engagement bertetangga, kalau bukan serumah, dengan ” pesan”. Baik “makna” atau pun “pesan” tetap bernilai sastra jika keduanya menjaga kaidah-kaidah sastra. Puisi akan tetap puisi sejauh ia mempertahankan standar puisi, apa pun “pesan” dan “makna” dikandungnya. Antara “makna” dan “pesan” , bukanlah sesuatu yang mustahil terdapat sebuah jembatan. Barangkali cendekiawan organik, di mana sastrawan termasuk di dalamnya, tergolong orang yang memiliki kemungkinan berfungsi sebagai jembatan antara “makna” dan “pesan” [Bandingkan dengan pendekatan New Historicism in the History of Western Literary Criticism". Lihat: Aram Veeser, "The New Historicisme" in: "The New Historicisml Reader", New York and London, Routledge, 1944].
Tanda-tanda renungan ada kudapatkan pada puisi-puisi Inez, walau pun tidak ajeg, terutama dalam kualitas atau intensitas. Ketidakajegan ini, menimbulkan pertanyaan pada saya: Seberapa jauh Inez melakukan renungan sadar? Di samping itu, pertanyaan lain pun muncul pada diri saya: apakah renungan ini perlu dan diperlukan oleh penyair? Kalau perlu mengapa perlu? Kalau tidak perlu, mengapa tidak perlu? Apakah benar bahwa sastra hanyalah wadah pelampiasan rataptangis dan gundahgulana individual yang lagi dirundung malang karena pata cinta, tanpa perlu memahami untuk apa rataptangis dan gundahgulana ini bagi diri yang bersangkutan itu sendiri , terutama dalam menanggulangi kemelut yang sedang mendera? Contoh dari ketidakajegan ini, kalau pemahamanku benar, ada puisi ini:
Yang Tertinggal
by inezdikara
rindu yang biru
di bibir malam yang bisu
29 November 2006
Barangkali puisi ini pun mempunyai makna sebagai buah renungan tentang rindu dan hakekatnya. Malam yang bisu membiarkan si perindu menggelepar- gelepar sendiri tanpa sudah, seperti seekor ikan terlempar di pantai pasir kencana. Tersiksa sendiri tanpa penyelesaian. Tapi dibandingkan dengan baris-baris Inez “tanahku/ingin harakiri”, kukira pesannya jauh lebih mendalam dan berarti, sekali pun tanpa menyampaikan “pesan” khusus, apalagi seruan. Kecuali pernyataan urgen tentang keadaan “tanahku”. Ketidakajegan, saya anggap hal yang lumrah, seperti halnya tidak semua puisi selalu sama mutu keberhasilannya. Sehingga ketidakajegan bukanlah kelemahan yang terlalu fatal. Tanda-tanda adanya renungan ini, saya kira, bisa menjadi kekuatan bagi Inez untuk mengimbangi tekhnik pengungkapan yang agaknya memang ia gulati secara sadar. Dengan ini saya sampai ke masalah “bentuk”, jika menggunakan istilah dan pemilahan Budi Darma.
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]

Leave a Reply