Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (2) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [2]
Dari segi kuantitatif , hal-hal begini tidak menandai puisi-puisi Inez. Sehingga bisa dipertanyakan: Apakah pertanyaan dan pernyataan seperti ini dilakukan dengan kesadaran atau suatu kebetulan? Jawaban pertanyaan ini, barangkali menyangkut yang saya namakan kesadaran bersastra.
Kesadaran bersastra atau bersastra secara sadar adalah tingkat berikut dari bersastra secara insting, yaitu bersastra “untuk memenuhi dan memuaskan keperluan pribadi”, jika meminjam istilah Gao Xingjian, dalam pidato Nobelnya di depan Akademi Swedia, 7 Desember 2000. Bahwa kemudian sastra insting ini berkembang menjadi sastra sadar, menurut Gao Xingjian, lebih banyak ditentukan oleh perkembangan penulis itu sendiri. Betapa pun juga, dari sastra isting pun, kukira, kita pun masih bisa menangkap keadaan masyarakat zaman penulis tersebut, karena seorang penulis yang paling individualis pun tidak pernah bisa lepas dari masyarakatnya. Ia tetap hidup dalam suatu masyarakat serta zaman tertentu. Mengapa ia bersikap begini atau begitu, termasuk menjadi individualis, acuh tak acuh pada lingkungannya, saya kira, pasti ada sebab dasar sosial dan sejarahnya. Sikap seseorang, apalagi yang bekerja dengan menggunakan bahasa, adalah reaksi langsung atau tidak langsung terhadap lingkungan dan sejarah suatu ketika. Karena itu Peter Sloterdijk, pemikir Jerman kekinian, mengatakan bahwa “tanpa merenungkan hasil-hasil sejarah, maka tidak akan ada filsafat”, tidak akan ada capaian hakiki. [Lihat: Philposophie Magazine, Paris, No. 6, Februari, 2007, hlm-hlm.58-59] . Barangkali, di sinilah letak malangnya satu generasi yang tumbuh di bawah kondisi sejarah yang dijungkirbalikkan, seperti generasi yang lahir dan besar [saya membedakan antara besar dan dewasa] di bawah Orde Baru. Dalam situasi begini, kita dapatkan keadaan apa yang dilukiskan oleh Inez dalam sanjaknya “Tanahku Ingin Harakiri”:
“bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin.
musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyi
tanahku
ingin harakiri”
Bukankah keadaan negeri ini sekarang seperti yang dilukiskan Inez tak obah “tanahku/ingin harakiri”?
Sekali pun berada di tengah-tengah keadaan negeri yang “ingin harakiri” begini , Inez agaknya bukanlah seorang yang pesimis apalagi fatalis, ia masih tidak kehilangan harapan, seperti tertuang di baris-baris puisinya “Senandung Hari” berikut:
“ingin kulipat hari
lalu kubentangkan malam
tempat lelah aku sandarkan
dari panjang perjalanan
lalu aku letakkan pundipundi doa di sisi
berharap malam nanti
Kau datang sebagai pencuri”
“Doa” adalah harapan. Walau pun harapan itu terayun-ayun diantara kecemasan dan ketidakberdayaan serta ketidakpastian. Tapi sulit membayangkan bagaimana orang hidup dan melanjutkan kehidupan jika sudah tanpa harapan?
Hal lain yang menarik perhatianku dari teks suguhan Inez, bahwa ia mulai melihat perntingnya membaca dan mengenal masa silam alias sejarah yang di negeri kita dijungkirbalikkan, yang membuatnya seperti berada di “terowongan bawah tanah/musim dingin”, [Tentu saja, apa yang kukatakan ini adalah suatu tafsiran subyektif atas teks]. Tentang hal ini dalam puisinya “Windy City Dalam Kenangan” , menulis:
“terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan”
Sekali pun berada di tengah situasi seperti “terowongan bawah tanah/musim dingin”, harapan yang menggelora di diri penyair bagaikan “kereta berlari mengejar masa depan”, menolak turut ber“harakiri” , memburu “makna” dari “sumbu” sejarah yang “hampir terbakar habis” hingga angkatannya dan diri penyair tidak lagi “tak lagi berselisih dengan waktu” alias tafsiran sejarah serta pengacauan sejarah.
Karena saya memang tidak mengenal apa-siapa Inez, maka tafsiran ini, tidak lebih dari pandangan sangat subyektif, semata-mata berdasarkan teks yang disajikan penyair. Dengan tafsiran demikian, saya melihat teks sajian Inez, saya bertanya-tanya, apakah teks ini bisa merupakan cerminan pergolakan jiwa suatu angkatan. Angkatan pasca Orba yang tidak kehilangan harapan tapi tidak jelas bagaimana mencapai harapan tersebut. Adanya ketidakjelasan bagaimana mencapai harapan yang diemban di hati ini mengingatkan saya akan sinyalemen Alain Touraine, sosiolog Perancis, pengajar pada l’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales [l'EHESS], Paris, yang mengatakan bahwa sesudah runtuhnya Tembok Berlin, di skala dunia ada suatu kekosongan [la vide, the emptiness]. Kekosongan secara pemikiran. Kosong karena tidak tahu jalan apa yang ditempuh sebagai jalan keluar. Kekosongan dipandang oleh Alain Touraine sebagai situasi sangat berbahaya, karena gampang dijadikan kendaraan oleh manipulasi, sekali pun mengatasnamai suatu alternatif, lebih-lebih lagi jika menggunakan sebutan ini, dan hantam kromo. Kekosongan, menjadikan orang seperti kerbau luka. Tahu dirinya luka dan sakit, lalu menabrak ke sana ke mari. Tembok pun ditabrak sehingga membuat tanduknya patah dan kerbau itu akhirnya roboh sendiri sia-sia. Ini adalah salah satu ujud dari tingkat pengetahuan insting yang belum meningkat ke jenjang kesadaran. Di sini sekali lagi saya melihat perbedaan nyata antara May Swan penulis “Matahari Di Tengah Malam” dan novel “Against the Wind”, yang selain mempunyai harapan juga jelas wawasannya, tanpa usah membandingkannya dengan Solzenitzin, Pramoedya A.Toer, Cak Durasim, Grabriel Garcia Marquez, Mahmoud Darwich, José Sarmago, Gao Xiangjian, Shi Nai’an, dan lain-lain… Siapa pun bisa tidak bisa tidak sepakat dengan ide dan wawasan mereka, tapi mereka sudah meninggalkan taraf sastra insting. Yang tidak bisa meninggalkan fase sastra insting ini, biasanya sering rontok di tengah jalan sebagai penulis.
Jika dihubungkan masalah “kekosongan” ini dengan pergulatan estetisme, saya pun meragukan, apalah masalah estetisme, semurni apa pun ia, bisa dilepaskan dari perburuan ide atau wawasan. Apalagi jika dilihat dari sejarah sastra-seni, termasuk lahirnya sastra lisan dan bentuk-bentuk kesenian di masyarakat-masyarak at dini yang kental akan semangat kebersamaannya. Sekali lagi, saya merasa suatu kekurangan besar karena sama sekali tidak mengenal Inez sebagai penyaji teks, sehingga apa yang saya ajukan ini tidak lebih dari tafsiran subyektif saya, sebatas teks yang disajikan belaka. Dengan mengatakan ini, saya bukan orang yang menganggap tidak perlu mengenal penulis atau penyaji teks, sekali pun teks setelah disiarkan menempuh jalannya sendiri, seperti anak yang lahir, besar dan dewasa menempuh jalan hidupnya sendiri. Tapi betapa pun, pengaruh orangtua yang melahirkan dan membesarkannya akan tidak bisa tidak diindahkan. Karena itu untuk memahami sebuah teks, kurasakan perlunya memahami dan mengenal yang menulis teks tersebut, selain memahami dan mengenal konteks teks itu ditulis. Ini adalah suatu metode pendekatan, pilihan masing-masing dalam memahami teks — suatu subyek debat dalam dunia sastra. ***
Paris, Januari 2007.
———— ——— ——
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (1) oleh JJ Kusni

Jurnal Sorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [1]
Saya sama sekali tidak mengenal apa-siapa Inez Dikara [selanjutnya saya singkat dengan Inez]. Yang saya kenal hanyalah puisi-puisinya yang ia siarkan melalu milis apresiasi-sastra@yahoogroups. com . Itupun sebatas apa yang saya lampirkan menyertai tulisan awam ini. Saya juga tidak tahu sejak kapan dan berapa lama Inez berpuisi. Dengan kalimat-kalimat ini, yang ingin saya katakan bahwa tulisan ini sepenuhnya berdasarkan teks yang saya dapatkan. Teks yang jumlahnya pun sangat terbatas, sehingga boleh jadi tidak bisa mewakili diri Inez sebagai penyair. Dengan bahan-bahan sangat terbatas begini, saya menjadi tidak bisa membaca perkembangan Inez sebagai penyair dari waktu ke waktu. Hanya saja, ketika membaca puisi-puisinya [yang saya juga tidak jelas, apakah ia seorang perempuan atau lelaki, hal yang tidak penting dibandingkan dengan syair-syair itu sendiri! Karena penyair tetap penyair tidak ditentukan oleh jenis kelamin, seperti yang sering kita dapatkan di dunia sastra, lebih-lebih Indonesia, sehingga masalah kelamin penyair ditonjol-tonjolkan, seakan mempunyai arti tersendiri] , saya berhadapan dengan seseorang yang mengesankan bahwa ia sudah bukan pendatang baru di dunia kepenyairan, seperti yang ia tuliskan dalam bait ini:
“daun-daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue”
Bagi orang yang hidup dan pernah tinggal agak lama di negeri empat musim, baris-baris ini cukup lengkap menggambarkan keadaan musim gugur, di mana jalan-jalan yang dilewat ditimbuni oleh dedaunan dan menimbun sepatu semua pejalan hingga ke mata kaki. Lukisan musim gugur dtuturkan oleh Inez dengan bahasa sederhana, gampang dimengerti tapi tidak meningalkan puitisitas. Inilah yang memperkuat dugaan saya bahwa Inez sebenarnya sudah lama bergaul dengan puisi. Bukan hanya satu dua bulan mengungkapkan diri dengan puisi — walau pun barangkali penyiaran puisi-puisinya baru saja ia lakukan. Dugaan begini, ditunjang lagi oleh judul-judul dan isi-isi serta bentuk puisi-puisi Inez [Lihat: Lampiran] yang memperlihatkan bahwa penyair nampak amat biasa menggunkan puisi sebagai sarana pengungkapan diri yang paling akrab. Saya hanya menyesal karena tidak bisa mendapatkan proses perkembangan pertumbuhan Inez bersyair melalui perbandingan sehingga tidak bisa mengetahui pergulatannya menulis. Atau barangkali ia seperti Françoise Sagan yang sekali menulis “Bonjour Tristesse” langsung mendapat pengakuan di dunia sastra Perancis, apalagi ia susuli dengan novel-novel berikutnya. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi pada Inez, jika sebelum menyiarkan tulisan-tulisannya, ia rajin membaca dan menulis serta berlatih. Sehingga apa-apa yang ia siarkan sudah ia tapis cermat. Dugaan ini saya dasarkan karena melihat, Inez bukan seorang yang terlalu produktif, tapi nampak selektif. Sikap selektif dalam menyiarkan tulisan ini nampak pada misalnya Orhan Pamuk atau Toni Morrison. Selektivitas, artinya si penulis lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Sedangkan kuantitas yang dibuntuti oleh kuantitas, kematangan tekhnik, dikerjakan secara diam-diam di ruang kerja mereka. Dengan sikap ini, penulis membuat imbangan antara kuantitas dan kualitas dengan titikberat pada kualitas. Ujud dari tanggungjawabnya sebagai penulis, kesetiaan pada prinsip dirinya dan kesadaran menyiapkan jalan lapang bagi anak kandungnya, yaitu karya-karyanya. Sikap begini juga misalnya terdapat pada May Swan, penulis berbahasa Indonesia dan Inggris yang sekarang tinggal di Singapura. May Swan sangat keras pada dirinya dan karya-karyanya.
Berbeda dengan May Swan yang mengolah masalah-masalah besar dan berlatarbelakangkan sejarah [Lihat: kucerpen "Matahari Di Tengah Malam"], Inez mengolah tema-tema sederhana, bahkan sangat sederhana dan yang menyetuh perasaannya. Berbeda dengan May Swan yang mencoba melihat dan merenungi peristiwa-peristiwa sejarah serta mencoba menangkap hakekat peristiwa, Inez lebih banyak melukiskan kesan-kesan emosionalnya pada masalah-masalah sederhana tanpa kelihatan usahanya mencari yang hakiki. Inez lebih banyak bertutur secara puitik. Misalnya dalam sanjaknya “Di Sepanjang Michigan Avenue” yang eksotik.
Sanjak ini ditutup oleh Inez dengan kata-kata:
“di sepanjang michigan avenue
ada getar yang tertinggal
seransel kenangan letih di pundakmu”
Dari bait ke bait, saya mencoba mencari nilai-nilai mendasar, tapi dengan pengetahuan amat terbatas, saya gagal mendapatkan kegelisahan Inez menggali nilai itu dari suasana musim gugur di Avenue Michigan. Inez berhenti pada lukisan keadaan serta keanekaragaman orang-orang yang dilihatnya sebagai “orang-orang kesepian”. Semua kesepiankah? Tidakkah orang-orang itu terbebani oleh soal-soal lain di luar kesepian? Kalau dugaan saya benar, maka nampak di sini penyair sekali pun berada di Avenue Michigan tapi ia tidak mengenal hakekat masalah Avenue Michigan. Terkesan pada saya bahwa penyair lebih bergulat dengan puitisitas ketimbang puisi secara utuh. Sedangkan permasalahan Avenue Michigan dan masyarakat Michigan, tidak menjadi urusan penyair. Di sinilah aku melihat perbedaan sikap Inez dengan Federico Garcia Lorca ketika ia berada di New York atau Heinrich Böll ketika berkunjung ke Irlandia [untuk mengambil dua contoh saja]. Mengenal keadaan di mana kita sedang berada memang memerlukan usaha sungguh-sungguh. Tidak berarti bahwa ketika berada di suatu tempat, serta-merta kita mengenal tempat itu. Paling-paling yang sederhana dan gampang kita kenal adalah wajah fisik tempat itu tak obah sebagai voyageurs [pengembara, orang yang sedang bepergian] zaman dahoeloe atau para wisatawan yang menulis tentang negeri-negeri asing tapi sesungguhnya pengenalan mereka tentang negeri itu tidak bisa dikatakan padan. Agaknya soal begini, luput dari perhatian penyair. Kutulis masalah ini, tentu saja bukan untuk mematahkan semangat Inez, tapi justru sebaliknya, dan dalam titik [point] ini, saya sebenarnya berbicara secara umum: Bagaimana seorang sastrawan/penyair melihat masalah, menurut pemahamanku. Apalagi saya bisa menyepakati pendapat Gao Xingjian yang mengatakan bahwa “sastrawan adalah manusia biasa, hanya mungkin ia manusia yang lebih peka, bahkan sangat terlalu peka….. Ia bukanlah jurubicara rakyat, juga bukan inkarnasi keadilan; suaranya memang amat lemah, tapi justru di sinilah suara individual itu menjadi lebih autentik” [Lihat:Gao Xingjian, "La Raison D'Êttre De La Littérature", Edition de l'Aube, Paris, Desember 2000, hlm.6]. Di sini, masalahnya bagi saya lalu menjadi apa-bagaimana mencapai autentisitas itu? Apakah bukannya autentisitas itu suatu tuntutan selain kejujuran tapi juga sekaligus kedalaman pengamatan, tanpa usah menggunakan pandangan Todorov tentang peran sastra-seni agar membantu eksistensi hidup kita.
Dari sekian puisi Inez yang kupunyai, persoalan yang saya ajukan di atas, masih kudapatkan samar-samar dari baris-baris:
“tanahku
ingin harakiri”
[Dari: Tanaku Ingin Harakiri]
atau pertanyaan:
“adakah tertinggal makna?”
[Dari: "Sumbu"].
atau:
“dan kita tak lagi berselisih dengan waktu”
[Dari: “Yang Tumpah Di Mangkuk Malam”
Dari segi kuantitatif , hal-hal begini tidak menandai puisi-puisi Inez. Sehingga bisa dipertanyakan: Apakah pertanyaan dan pernyataan seperti ini dilakukan dengan kesadaran atau suatu kebetuman? Jawaban pertanyaan ini, barangkali menyangkut yang saya namakan kesadaran bersastra. Kesadaran bersastra adalah tingkat lanjut dari sastra insting.
Paris, Januari 2007.
———— ——— ——
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]


Lampiran:

Puisi-puisi Inez Dikara


DI SEPANJANG MICHIGAN AVENUE
daun daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue
gerbang sekolah
besi besi dingin
tempat kau selalu menungguku
pusat belanja dan jendela besar toko buku
di sana,
kau dan aku menghitung butir butir hujan yang jatuh
gegas kaki kaki kejar mengejar dengan waktu
riuh suara kendaraan
menambah ramai benak orang orang
tenggelam mereka dalam masing masing pikiran
: orang orang kesepian
di sepanjang michigan avenue
ada getar yang tertinggal
seransel kenangan letih di pundakmu
[Milis Apsas, 26 Januari 2007]


TANAHKU INGIN HARAKIRI
bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin.
musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyi
tanahku
ingin harakiri.
[Milis Apsas, 02 Desember 2006]


Winter Song
dari balik jendela kamar
kulihat pohon pohon berbunga salju
di bawahnya seekor tupai
melompat kian kemari mencari kenari
di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan
angin bertiup kencang mendorong
tubuh para pejalan
begitu gigil baju hangat mereka rapatkan
lalu kulihat ada butir butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku
[Apsas, 27 Januari 2007]


PAGI YANG BERTAMU DENGAN DUA KWATRIN
mentari selalu mencari ibu
kala pagi datang bertamu
dibisikannya pada bunga bunga
agar sabar menunggu
mawar merah dan kana
tumbuh secantik hati ibu
tempat aku berkaca
berharap kutemu wajahku di sana
[Apsas, 13 Desember 2006]


SUMBU
tali sumbu hampir habis
terbakar masa
entah apa dimasak
oleh tungku di atasnya
begitu tebal jelaga
adakah tertinggal makna?
[Apsas, 21 Desember 2006]


YANG TUMPAH DI MANGKUK MALAM
hangat airmata tumpah di mangkuk malam
entah siapa yang hendak meminum sepi
jeda yang tak berisi
tawa anak dan kecipak air
doa berhambur memenuhi udara
pada-Nya kau dan aku mencoba bercerita
tentang kata kata yang terbang tinggi
lalu jatuh di pucuk pucuk batu
terberai dan menyatu kembali dengan ragu
begitu berulang
hingga penantian usai
dan kita tak lagi berselisih dengan waktu
[Apsas, 02 Januari 2007]

Sajak Hasan Aspahani: Pagi Itu Rambutnya Indah Sekali

/1/
WAKTU dia tidur, rerambutnya berkaca di cermin hias,
kepada sisir mereka minta disentuh: dirapikan.

Setelah banyak keinginan dicoba, rerambutnya belum
juga merasa menemukan model yang paling sempurna.

“Sebaiknya kita kembali saja. Menjadi rambut yang
berombak dan menurut padanya. Toh, dia juga tak
pernah ingin kita mencoba berbagai warna dan gaya.”

/2/
WAKTU bangun tidur, dia berkaca di cermin hiasnya.
Dia sentuh rerambutnya dengan sisir kesayangan. Pagi
itu dia merasa rambutnya indah sekali. “Ya, ya. memang
indah sekali,” kata sisir mengangguk, mengiyakannya.

(sajak Mas Hasan untukku)

Senyum Bunda (oleh Rio Gunawan)

: Inez Dikara

di sudut dapur
dua semut bertengkar berebut butir gula
yang bunda jatuhkan tanpa sengaja
tapi pertengkaran itu kini reda
dua semut terpana oleh senyum bunda
:bunda manismu asli

Sepatu Cinderella (oleh Mas Dedy T Riyadi)

: inez dikara

1/
siapa telah tinggalkan duka?
sedang aku terlalu ragu
untuk memunggutnya

2/
pengharapan apa yang pantas
dibingkai di kaca kaca yang getas?

retaknya jelas terpantul
dari mata sang bulan
yang terlambat muncul