Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (7) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [7]
Saya tidak tahu, sejak kapan Inez mulai menulis puisi. Saya tidak mempunyai dokumen yang lengkap tentang hal ini. Hanya sekali lagi dari bahan-bahan yang saya miliki, nampak bahwa Inez sudah biasa menggunakan puisi sebagai sarana pengungkap diri. Bisa saja, selain Inez memang lama menulis, bisa juga di samping menulis, Inez pun biasa membaca puisi-puisi dari berbagai sumber. Sehingga dengan acuan-acuan itu, ia mempunyai suatu gambaran bagaimana berpuisi. Jika benar dugaan ini, maka dugaan ini  menunjukkan arti penting membaca serta mendapatkan acuan-acuan luas bagi perkembangan diri seorang penyair. Ia juga memperlihatkan bahwa bersandar pada yang disebut bakat saja tidak memadai untuk menjadi penyair “berkaliber” .  Apalagi jika kita sepakat bahwa puisi selain bergelut dengan permasalah tekhnik pengungkapan, ia pun sesungguhnya menggulati soal-soal wawasan, masyarakat dan kehidupan seutuhnya.  Kalau seorang penyair berbicara tentang dirinya sendiri, tidak jarang pembicaraan yang seakan tentang diri sendiri itu sesungguhnya bukanlah bersifat narsistik tetapi lebih bersifat medium atau perantara atau jalaran untuk melukiskan keadaan masyarakat masa hidupnya, baik langsung atau pun tidak langsung. Agar mampu mencerminkan keadaan yang tak terlalu jauh dari kenyataan serta bisa melakukan suatu analisa padan, maka penyair akan sangat baik jika melengkapi dengan suatu metode berpikir serta analisa, mempelajari secara dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sosiologi, sejarah, geografi, psikhologi, antropologi, fisika, kimia, komunikasi, tatabahasa, seksologi, dan lain-lain… .   Pandangan begini, pada tahun 1960-an di Indonesia, pernah dirumuskan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra], dalam kata-kata: “tahu segala tentang sesuatu, tahu sesuatu tentang segala” dan “manusia bersegi banyak”. Makin seorang penyair melengkapi diri secara pengetahuan dan wawasan, makin karya-karyanya patut diperhitungkan tanpa menuntut diperhatikan. Makin pula ia mempunyai syarat untuk  berdiri selangkah di depan perkembangan peristiwa serta mempunyai harapan dalam memberikan  sumbangan bagi pemanusiawian manusia, kehidupan dan masyarakat — yang kuanggap sebagai mimpi universal. Dari segi tujuan, tujuan ini barangkali memberi ciri universal pada sastra. Sementara egoisme dan mencari pengejaran nama akhirnya  bukan menjadi target. Karena nama dan bernama, termasuk masalah diperhitungkan masyarakat adalah hasil dan akibat dari sebab pekerjaan serta usaha. Ketenaran bisa mempunyai  macam-macam arti. Di dalamnya ada ketenaran promosi perdagangan berpedoman pada uang, tapi di samping itu ada pula ketenaran karena pengaruh-pengaruh ide yang diketengahkan, tanpa meniadakan unsur bisnis dari suatu karya. Ketenaran pertama kupandang tidak memberikan apa-apa bagi pemanusiaan manusia, kehidupan dan masyarakat karena pada galibnya penulis tipe ini mencoba melawan kenyataan bahwa dirinya adalah bagian dari kebersamaan hidup bermasyarakat  serta lebih menjadikan diri sebagai mataair segala kegiatan narsistis. Narsisme tidak segan menjadikan diri sebagai budak kapital alias hamba sahaya dari uang sang raja. Manusia dan pemanusiaan manusia ditempatkan oleh para narsis pada urutan nomor terakhir. Salah satu ujud dari hal ini adalah eksploatasi seks di dalam sastra serta cara menulis dan melihat masalah seks. Eksploatasi seks serta kata-kata yang berbau “lendir”,  agaknya juga sudah tidak asing di dunia sastra Indonesia, termasuk di dalam puisi. Penggunaan kata-kata “setubuh”, “vagina”, “sperma” , “penis”, “jumbut”, dan kata-kata lain sejenis tidak jarang kita dapatkan. Bahkan saya pernah mendengar adanya genre sastra yang disebut “sastra wangi”. Adanya arus sastra yang mengeksploatasi soal seks begini, beberapa tahun lalu, telah mendorong sebuah universitas di Yogyakarta untuk membahasnya secara serius dalam seminar sehari. Saya sendiri tidak menginginkan pelarangan terhadap arus sastra model begini, sesuai dengan prinsip “biar bunga mekar bersama seribu aliran bersaing suara”. Berangkat dari prinsip ”bunga” atau kebhinekaan ini dan prinsip percaya pada pembaca yang berdaulat, sekaligus untuk menumbuhkembangkan apresiasi sastra, untuk menghadapi keadaan begini saya kira peranan kritik sastra akan menjadi sangat penting. Berkembangnya kritik sastra, bukan tidak mungkin, akan berperan meningkatkan taraf kualitas sastra itu sendiri.
Berdasarkan  sejumlah puisi Inez yang berhasil kukumpulkan selama ini, nampak bahwa Inez tidak terbawa oleh arus “sastra seks” ini.  Boleh jadi sample yang kugunakan tidak padan sehingga konstatasiku pun menjadi keliru. Dari sejumlah sanjak-sanjak Inez yang bisa kuhimpun, masalah yang banyak direnungi oleh Inez adalah soal “ibu”nya. Misalnya dalam sanjaknya “Winter Song”:
“di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan”

atau dalam puisinya “Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin”

mentari selalu mencari ibu
kala pagi datang bertamu
dibisikannya pada bunga bunga
agar sabar menunggu

mawar merah dan kana
tumbuh secantik hati ibu
tempat aku berkaca
berharap kutemu wajahku d

i sana
[Apsas, 13 Desember 2006]
Dari puisi “Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin” ini nampak pada Inez bahwa “ibu” sebagai lambang “kecantikan” . Tentu “kecantikan” dalam arti luas.  Dan “kecantikan” inilah yang selalu diburu, dirindui  serta diharapkan oleh penyair.
Untuk mengungkapkan diri dengan kesadaran bahwa ia dibatasi oleh kekayaan kosakata bahasa Indonesia, Inez tidak mempunyai keraguan menggunakan kata-kata baru pinjaman dari kosakaga bahasa lain, seperti “harakiri”, “rotasi”, “avenue”, “winter”, “song” [kukira, Inez memilih kata "song" dari pada menggunakan "nyanyian", tentu dengan maksud tertentu, misalnya mendapatkan irama kalimat serta kepantasan kata menemani kata "winter"]. Penggunaan kata-kata pinjaman begini, termasuk pembentukan kata atau penciptaan kata-kata baru, bisa dipertanggungjawabk an dari segi adanya “kebebasan penyair”. Dari segi pengembangan bahasa Indonesia, barangkali merupakan cara memperkaya kosakata bahasa, sebagai sumbangan penyair pada bahasa. Dalam usaha ini dan memudahkan diri menulis serta membebaskan diri dari keterbatasan kosakata, Anjar, novelis dari Bandung, selain meminjam kosakata asing, juga secara sadar menggali kosakata-kosakata lama. Untuk itu Anjar dengan tekun membuka kamus-kamus. Di Perancis usaha menghidupkan kosakata yang hampir hilang ini dilakukan secara sadar pula oleh Bernard Pivot,  budayawan yang mendapat bintang jasa Legion d’Honneur dari pemerintah atas jasanya memelihara dan mengembangkan bahasa Perancis. Bernard Pivot memandang kosakata sebagai batang-batang pohon di hutan tropika. Setiap pohon harus dijaga dan dilindungi, ujar Pivot dalam bukunya “Menyelamatkan Seratus Kata Yang Hampir Hilang” [Gallimard, Paris, 2006].  Dalam sejarah sastra Indonesia, terutama pada tahun  1960an, Lekra pernah mendorong pengembangan bahasa Indonesia melalui pengangkatan kosakata-kosakata bahasa lokal. Menurut pandangan Lekra,  “bahasa lokal dan bahasa Indonesia mempunyai kecenderungan saling mendekati dan saling mengisi”. Di dalam konteks ini, usaha Ajip Rosidi dalam mengembangkan sastra daerah melalui sistem Hadiah Rancage, merupakan usaha berharga. Sama berharganya dengan konsep Halim HD dkk, tentang “sastra-seni kepulauan” sebagai politik pembangunan budaya Indonesia.  Sastra lokal adalah bagian dari sastra-seni Indonesia. Sebab bagiku yang dimaksudkan dengan sastra Indonesia bukan hanya terdiri dari sastra berbahasa Indonesia, tetapi juga semua karya sasatra yang dihasilkan  dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lokal Indonesia. Benar, bahwa dengan perkembangan tekhnologi yang melaju, dunia kita menjadi “desa dunia” yang kecil saja, tapi mengapa pertama-tama berorientasi ke luar, jika kosakata lokal masih cukup padan mengungkapkan  ide dan perasaan guna memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Barangkali, masalahnya terletak pada pengenalan kita akan budaya lokal kita sendiri. Apalagi dengan adanya sistem pendidikan yang menjurus ke corak Amerika sehingga berdampak lahirnya suatu kompleks tertentu [entah terselubung atau tidak] dan keterasingan diri di tanahair sendiri. Jika menggunakan kosakata daerah dan bukan bahasa Inggris, terasa si pemakai bahasa merasa taraf dan prestisenya turun.  Dari segi ini, apa yang dilakukan oleh Federico Garcia Lorca  sangat menarik. Lorca berangkat dari puisi orang-orang Gitana dan Andalusia yang indah. Bahkan Victor Hugo dalam karyanya “Si Bongkok Dari Notre Dame” berangkat dari permasalahan kaum Gitana juga. Hugo menggantikan para hulubalang [chevaliers] dengan Asmaralda, tokoh Gitana dan Si Bongkok, sebagaimana Molière dalam ceritanya “Si Buruk Muka dan Si Cantik”. Yang ingin kukatakan dengan uraian di atas bahwa sastra lokal bisa memperkaya dan menyuburkan serta kian memberi warna unik pada kreativitas sastra-seni kita, tanpa menutup pintu pada dunia luar.  Menghargai dan memperhatikan keunikan inilah maka penerbit Actes Sud, Paris, tahun ini telah menerbitkan karya Kunzang Choden, seorang perempuan pengarang asal Bhutan: “Le Cercle du Karma” [Siklus Karma, 430 hlm. ].
Sekarang, saya sampai ke masalah terakhir: pengamatan dan tema. 
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (6) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [6]
Yang ajeg terdapat pada puisi-puisi Inez adalah pengangkatan faktor alam sebagai perbandingan. Sehingga gampang diindrakan. Pengindraan menjadi lebih gampang lagi, karena umumnya perbandingan-perbandingan itu dilukiskan secara runtun. Dari puisi-puisi Inez yang kumuliki, jarang kudapatkan ada loncatan mendadak dalam pelukisan serta perbandingan. Loncatan mendadak yang mempersonakan terdapat pada saat Inez menutup puisinya dengan suatu renungan kesimpulan. Misalnya pada puisi berikut :
Winter Song 
dari balik jendela kamar
kulihat pohon pohon berbunga salju
di bawahnya seekor tupai
melompat kian kemari mencari kenari

di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakan

angin bertiup kencang mendorong
tubuh para pejalan
begitu gigil baju hangat mereka rapatkan
lalu kulihat ada butir butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku

[Apsas, 27 Januari 2007]
Dari baik pertama hingga ketiga, Inez melukiskan keadaan musim dingin secara runtun. Tanpa dadakan. Dadakan itu terjadi ketika Inez menutup puisinya secara liris:
“lalu kulihat ada butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku”
Keadaan di atas juga misalnya terdapat pada puisi berikut:
Windy City Dalam Kenangan
 by  inezdikara
terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan
08 November 2006
“kereta belari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan”
adalah kalimat-kalimat kesimpulan dan renungan. Kata-kata bersayap atau berwayuh arti, jika menggunakan istilah alm.  Prof. Djojodiguno, pengajar sosiologi dan hukum pada Universitas  Gadjahmada di tahun 60-an. Penutupan puisi dengan suatu kesimpulan renungan dengan kalimat-kalimat berwayuh arti, agaknya sering dilakukan dilakukan oleh Inez. Berwayuh arti, barangkali adalah ciri dan kekuatan suatu puisi, seperti kata-kata Paul Elouard, penyair Perancis, dalam “La Vie Immédiate”:
“kekuatan cinta
penaka raksasa tanpa raga”
atau kata-kata Chairil Anwar  yang mengingatkan kita pada nasib Sysiphus, bahwa:
“hidup hanyalah menunda kekalahan” 
atau baris-baris Ramadhan KH yang seakan paralel dengan nasib Eros yang dikutuksumpahi Ahaseros:
“ternyata aku
hanyalah seorang pengembara”
Kata-kata dan kalimat-kalimat berwayuh arti, membuka pintu selaksa tafsir, memberi sayap-sayap perkasa pada imajinasi dan pikir untuk terbang  ke cakrawala-cakrawala jauh.  Kata-kata dan kalimat-kalimat berwayuh arti ini pun mengajak kita merenungi gejala guna menyelamati hakekat. Barangkali, pada saat ini, puisi menjadi jembatan pelangi yang mempertemukan  makna dan pesan di bumi kehidupan.
Sekali pun puisi berbeda dengan esai atau artikel, apalagi tesis atau skripsi,  tapi jika pengamatanku benar, puisi-puisi Inez agaknya mempunyai suatu pola atau sistematik tertentu.  Mula-mula ia mengetengahkan masalah, kemudian masalah itu ia urai [tentu saja secara pusi] dan akhirnya ia simpulkan. Bagan atau sistematik ini kunamakan semacam piramida terbalik.  Adanya bagan piramida terbalik pada puisi-puisi Inez, menumbuhkan suatu hipotesa pada diriku, bahwa penyair ini agaknya biasa berpikir secara sistematik. Biasa berpikir runtun.  Kebiasaan berpikir runtun, kukira akan membantu penyair lebih cermat memilih kata. Karena kata adalah cerminan pikiran dan perasaan. Yang tidak biasa berpikir runtun, apalagi mengabaikan nalar [logika] akan tercermin pula pada bahasa dan kata-kata yang ia pilih dan gunakan. Selesai tidak pemikiran seseorang terungkap dalam bahasa dan pilihan katanya. Jika hipotesa dan penglihatanku benar, maka kukira, kebiasaan berpikir runtun ini pun merupakan modal penting bagi Inez dalam bersyair lebih jauh.
Selanjutnya saya ingin menyentuh kembali sedikit lagi soal pemilihan kata dan tema yang diolah oleh Inez.
Paris, Januari 2007
————————–
JJ. Kusni
[Bersambung...]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (5) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [5]
Dengan kesederhanaannya, Inez memulai kepneyairannya secara wajar dan alami. Puisi-puisi Inez merupakan ungkapan langsung dari renungan dan isihatinya. Puisi-puisinya serupa arus yang mengalir dari mataair jiwa dan pikirannya. Barangkali hal ini pulalah yang menyebabkan ia nampak tidak terlalu produktif. Ia berpuisi tanpa target, misalnya harus menulis seribu puisi dalam sekian kurun waktu . Tanpa rencana. Sekali pun, seperti kukatakan di atas, barangkali saja, ia diam-diam terus melakukan latihan-latihan dan percobaan-percobaan dalam berbagai bentuk — tapi tidak ia siarkan dan tidak pula sebagai keniscayaan jumlah yang harus ia penuhi. Penjatahan jumlah puisi yang harus ditulis, kukira mengandung kemungkinan monotonisme dan pengulangan- pengulangan yang tak perlu, sehingga sepuluh puisi yang ditulis, sebenarnya bisa dirangkumpadatkan ke dalam satu sanjak saja. Kemungkinan begini, kudasarkan pada batas bacaan atas teks-teks yang Inez siarkan. Dari teks-teks tersebut, nampak bahwa Inez sadar benar bahwa ia sedang menulis puisi. Menggunakan puisi sebagai sarana pengungkap diri. Kesadaran ini mendorongnya menggulati bentuk. Memperhitungkan cara pengungkapan. Mengindahkan irama, persamaan bunyi, perbandingan dan pilihan kata. Misalnya pada sanjak berikut:

Yang Tertinggal

by inezdikara
rindu yang biru
di bibir malam yang bisu
29 November 2006
Di puisi dua baris ini, saya melihat pergulatan Inez mendapatkan puitisitas, bukan hanya melalui persamaan bunyi pada kata “rindu” dan “biru” serta “bisu”, tetapi juga pada pemilihan kata “rindu”, “biru”, “bibir” yang mengandung huruf-huruf “r” — huruf yang mengandung getar. Getar yang ditimbulkan oleh huruf “r” , barangkali bisa disambungkan pada keinginan penyair menggambarkan betapa sepi dan rindu itu membuat yang sedang didera jadi gemetaran. Sementara huruf “b” pada “bibir” dan bisu” — suatu aliterasi — melukiskan orang yang gemetar karena sepi dan rindu itu berada di suatu ruang pengap. Penuh dengan asap kesumpekan. Sedangkan penggadaan kata “yang”, barangkali dimaksudkan oleh Inez untuk membayangkan, betapa rindu dan sepi itu menggaung jauh berkepanjangan sejauh seluas malam. Pemilihan kata “bibir malam”, menggambarkan di mana yang sedang di dera “rindu” dan sepi itu berada. Yang didera “rindu” belum dikunyah-kunyah, belum dikeremus, tapi kedudukannya tak obah seperti orang yang sedang berada di “bibir” jurang yang dalam. Sedikit saja lagi bergeser maka ia bisa terjungkal ke lembah dalam hanya disambut oleh gaunggema dukanya sendiri.
Dua baris sanjak di atas, mungkin nampaknya sederhana. Tapi kukira, untuk sampai bisa menulis dua baris demikian dari si penulis memerlukan renungan dan pergulatan bentuk yang tak sederhana. Prosesnya mungkin saja menggunakan waktu seminggu bahkan lebih hingga akhirnya menyembur wajar dari hati seperti halnya air mengalir dari sumbernya. Keadaan beginilah yang kusebut sebagai “momentum puitis”. “Momentum puitis” ini jika dilewatkan akan hilang dan barangkali tak akan kembali.
Pergulatan mendapatkan bentuk serta mempertahankan puitisitas ini kembali nampak pada puisi Inez “Di Sepanjang Michigan Avenue”, Winter Song”, dan sanjak-sanjak Inez lainnya.
“daun- daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue”

[Di Sepanjang Michigan Avenue]
Dari larik ini, saya melihat bagaimana mencoba menggunakan sajak tengah untuk menimbulkan dampak emosional dan melalui pelukisan suasana musim gugur. Yang kumaksudkan dengan sanjak tengah adalah adanya “i” pada kata “begitu” dan “i” pada kata “ingin”. Bunyi “i” bagiku menggambarkan suasana kesendirian dan kegamangan. Sajak tengah ini pun kita saya dapatkan juga pada huruf “u” di kata-kata “menyentuh”, “ujung” dan “sepatuku” hingga kata “avenue”. Bunyi yang digaungkan oleh huruf “u”, kukira juga bukan bunyi yang ceria. Sehingga pemilihan kata dengan adanya huruf-huruf tersebut, agaknya Inez mencoba membayangkan suasana hati yang sejajar dengan suasana musim gugur di Michigan Avenue.
Kalau penglihatanku benar, maka dari dua contoh di atas saja, saya menyaksikan pergulatan sadar dan kerja keras Inez dalam mencari dan menciptakan bentuk puitis untuk mengungkapkan diri. Pergulatan sadar dan kerja keras begini, kukira merupakan modal sangat berharga bagi perkembangan lebih lanjut Inez sebagai penyair. ***
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (4) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [4]

Dari segi cara pengungkapan diri, saya dapatkan bahwa Inez menuturkan perasaan dan pikirannya secara sederhana, tanpa bombasme. Apalagi ambisi melakukan suatu pembaruan dalam berpuisi. Kesederhaan Inez mengingatkan saya akan kesederhanaan penyair Ho Chi Minh dari Viêt Nam yang menulis baris-baris berikut:

“bulan memancing syair

tunggu sampai besok

aku sibuk dengan urusan perang”

[Dari kusanjak Ho Chi Minh: Catatan Harian Dalam Penjara”.

Kesederhanaan Inez misalnya nampak dari bait-bait berikut, yang melukiskan suasana musim gugur:

“daun daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue”

[Dari: Di Sepanjang Michigan Avenue]


Sehubungan dengan kesederhanaan ini, saya jadi teringat akan kata-kata alm. penyair Agam Wispi bahwa keindahan, kebenaran dan puitisitas saling berkaitan. Karena itu menjadi sederhana yang puitis itu tidaklah sederhana. Kekuatan kesederhanaan yang puitis akan meningkat jika ia ditopang oleh renungan sehingga meninggalkan permukaan permasalahan. Kekuatan haiku atau puisi-puisi para penyair Dinasti Thang, barangkali terletak pada kesederhanaan ini. Juga terdapat pada penyair tipe Walt Whitman atau Longfellow dari Amerika Serikat, atau Shelley dari Inggris. Tapi dengan kesederhanaan yang bahkan bisa dikatakan “lugu” tanpa ambisi atau pretensi menjadi pelopor pembaharuan, Inez secara wajar mengungkapkan apa yang mengejolak di dalam nuraninya. Sehingga dengan kesederhanaan “lugu” ini, pada puisi-puisi Inez, terdapat suatu kejujuran yang polos. Pretensi menjadi pembaharu atau tidak di dunia perpuisian, agaknya jauh dari pemikiran Inez. Sehingga ia bebas dalam bersyair. Barangkali yang tak lepas dari perhitungan Inez bahwa ia mencoba selalu mendapatkan dan menjaga puitisitas dalam puisi-puisi sederhananya. Karena itu kukatakan bahwa kesederhanaan adalah pengungkapan nurani dan kesimpulan pengalaman secara puitis, seperti yang sejak lama ditunjukkan oleh misalnya pantun atau pepatah-petitih tetua kita:

“ke pulau sama ke pulau

ke pulau menangguk udang

merantau sama merantau

kalau mati mati seorang”

atau pepatah-petitih para tetua kita:

“menepuk air di dulang

tepercik ke muka sendiri”

atau :

“tangan mencencang

bahu memikul”

Pantun dan pepatah-petitih, kukira menjadi langgeng karena sari pengalaman yang tersimpulkan secara sederhana dengan menjaga puitisitas bentuk pengungkapan. Keserdahanaan membuat kesimpulan ini menjadi sangat komunikatif , dan tidak mendiami ruang-ruang gelap — ciri utama dari puisi-puisi lisan dan rakyat. Sifat komunikatif ini membuat puisi tidak terasing dari kehidupan. Tidak menjadi milik sebatas kelompok kecil yang mengeluh jika puisi atau karya-karyanya tidak dipahami sementara mereka , para penyair merasa karya-karya mereka sudah demikian canggih bahkan merasa telah melakukan pembaharuan. Mau komunikatif atau tidak, kukira, memang pilihan masing-masing. Mengenai pilihan, siapa pun tidak bisa menggugat hak dasar ini. Kalau pemahamanku benar, agaknya Inez berkecenderungan memilih puisi-puisi sederhana dan terang, bukan memilih jalan samar dan apalagi gelap. Kesederhanaan yang dicanangkan oleh Agam Wispi hingga bisa menulis sesederhana Ho Chi Minh, Shelley, Longfellow atau pantun serta pepatah-petitih, agaknya memang banyak dimungkinkan oleh kematangan jiwa serta kedalaman renungan. Perenung yang didewasakan oleh badai pengalaman akan bersikap rendah hati, mendalami hakekat peristiwa-peristiwa yang menggebrak hidupnya. Puisi akhirnya langsung lahir dari rahim nurani dan renungan sebagai suatu kesimpulan. Kebenaran yang disimpulkan dari gegap-gempita hidup inilah yang membuat karya-karya tersebut menjadi tahan panas dan dingin waktu. Bentuk pun muncul secara alami tanpa ambisi dan pretensi. Yang menyedihkan, bahwa atas nama modernisasi atau pembaharuan, sering kita menyaksikan para kritikus tidak memahami budaya-budaya lokal yang melatari suatu karya, serta membatasi pertimbangan mereka terhadap suatu karya berdasarkan pengetahuan dan latar pendidikan mereka — yang lebih berorientasi ke Barat. Seakan Barat adalah standar keunggulan dan kebenaran. Jika konstatasi ini benar, maka kritisi sastra kita, apakah bukan menjadi orang asing di negeri sendiri dan secara membuta menterapkan patokan asing atas yang terdapat di negeri sendiri?

Kesederhanaan yang menyatu dengan kebenaran dan puitisitas, kukira, merupakan tanda dari sastra di wilayah negeri yang bernama Indonesia sekarang. Apakah dengan kesederhanaan komunikatif- refleksif yang muncul tiba-tiba dan sering sangat menyentuh dalam puisinya, Inez memang sadar menggunakan cara pengungkapan begini? Jika ia memang sadar melakukannya, kukira, bukan tidak mungkin kemudian kita melihat bahwa Inez bisa melangkah lebih jauh dibandingkan dengan para pendahulunya, misalnya Toety Heraty. Bagiku, pergulatan pikiran akan mendorong seseorang penyair ke pergulatan bentuk. Alasanku: Pergulatan pikiran dan isi pergulatan itu akan mencari cara penuangannya yang khas. Perbedaan dan inovasi tidak usah dicari-cari sehingga mempertontokan diri terkadang sangat bombas. Pembebasan kata atau mantra sebagai suatu penemuan, masih sangat kuragukan. Apalagi mantra itu sebenarnya sudah lama ada dalam di berbagai etnik masyarakat kita. Masalahnya apakah benar kita memahami arti mantra, ataukah para kritisi saja yang kurang paham sehingga mengangkatnya sebagai suatu kesalahpahaman sejarah sastra. Suatu pertanyaan saja. Berbeda dengan Chairil Anwar baik dalam bentuk atau pun isi pemikirannya. Dengan kesederhanaannya, saya melihat Inez memulai kepenyairannya secara wajar dan alami.

Paris, Januari 2007

———— ——— —–

JJ. Kusni

[Bersambung. ..]

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (3) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:
MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [3]
Di bidang isi, ide dan wawasan puisi ini, sekali lagi jika menggunakan pemilahan Budi Darma, saya tidak ingin mengatakan sesuatu yang terlalu prematur, kecuali membaca gejala atau tanda-tanda, tentang puisi-puisi Inez , yang dengan rendah hati mengatakan dirinya sebagai pemula. Sekali pun mengaku “sebagai pemula”, Inez sudah memperlihatkan ciri-ciri dirinya dalam bersyair. Baik dalam isi mau pun dalam bentuk. Kerendahan hati adalah jalan lebar bagi seseorang untuk melangkah ke depan yang jauh di luar ukuran dugaan.
Dari segi isi, bagaimana Inez memperlakukan tema-tema olahannya? Menjawab pertanyaan ini, saya mengambil contoh puisi Inez berikut:
SUMBU
tali sumbu hampir habis
terbakar masa
entah apa dimasak
oleh tungku di atasnya
begitu tebal jelaga
adakah tertinggal makna?
[Apsas, 21 Desember 2006]
Melalui puisi enam baris ini, saya melihat usaha yang menggejala dari Inez untuk merenungi sesuatu hingga ke hakekat yang lebih lebih jauh dan dalam dari tema-tema olahannya. Dengan kata menggejala, saya ingin memebedakan dengan suatu ciri, atau belum menjadi corak atau tanda. Tema-tema yang ia pilih, umumnya adalah masalah-masalah sederhana keseharian. Usaha ini barangkali hampir menjadi ciri dari syair-syair Inez. Seandainya Inez meneruskan usaha ini secara sadar, barangkali puisi-puisi Inez akan lebih mendalam dan menjawab pertanyaannya sendiri: “adakah tertinggal makna?” dari baris-baris yang goreskan? “Makna” apa dan untuk siapa? Ketika seorang penyair mulai berbicara sadar tentang “makna”, maka pertanyaannya akan seperti sebuah pinisi melayari samudera luas tanpa dermaga, seperti ombak menggulung menderu menggugat pantai mencari jawab. Seperti sebuah perjalanan yang tak punya sampai. Gejala begini pun, saya lihat misalnya dari puisi Inez di bawah ini:

TANAHKU INGIN HARAKIRI
bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin.
musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyi

tanahku
ingin harakiri.

[Milis Apsas, 02 Desember 2006]
Melalui kata-kata “tanahku/ingin harakiri”, saya menangkap banyak soal mendasar yang diajukan penyair, termasuk masalah kerusakan lingkungan hidup. Jika soal ini dikembangkan lebih lanjut, maka ia akan merambah ke banyak bidang. Karena Inez berbicara menggunakan puisi sebagai bahasa, maka soal-soal mendasar dan urgen ini dia ungkapkan hanya dengan dua baris: “tanahku/ingin harakiri”.
Contoh lain adalah puisi berikut:

Windy City Dalam Kenangan

by inezdikara
terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan
08 November 2006
Renungan-renungan adalah salah satu wahana penyair guna memberikan sumbangan kepada masyarakatnya dalam menuju yang disebut oleh penyair Chile, Pablo Neruda “The Splendid City”, “La Ciudad Espléndida” [Lihat: Pablo Neruda, Toward The Splendid City", The Noonday Press, New York, 1972, 35 hlm].
Dengan istilah “renungan”, saya pun ingin membedakannya dengan masalah keberpihakan. Keberpihakan [engagement, commitment] adalah pilihan masing-masing seperti halnya dengan bertanggungjawab atau tidak. Juga adalah pilihan masing-masing. Dan kukira, tidak seniscayanya siapa pun memaksa seseorang untuk memilih sesuatu di luar kesadarannya. Melalui pilihan masing-masing ini, masing-masing secara langsung menunjukkan apa-siapa diri masing-masing. Mau menjadi seorang sastrawan atau cendekiawan organik atau tidak, juga adalah pilihan dan keputusan serta pertimbangan masing-masing. Adanya macam-macam pilihan ini pun, kulihat sekaligus telah mencerminkan keadaan masyarakat di suatu masa tertentu. Renungan agaknya lebih menjurus ke usaha memahami hakekat hal-ikhwal, sedangkan “engagement” cenderung ke partisanisme. Renungan lebih dekat pada “makna”, sedangkan engagement bertetangga, kalau bukan serumah, dengan ” pesan”. Baik “makna” atau pun “pesan” tetap bernilai sastra jika keduanya menjaga kaidah-kaidah sastra. Puisi akan tetap puisi sejauh ia mempertahankan standar puisi, apa pun “pesan” dan “makna” dikandungnya. Antara “makna” dan “pesan” , bukanlah sesuatu yang mustahil terdapat sebuah jembatan. Barangkali cendekiawan organik, di mana sastrawan termasuk di dalamnya, tergolong orang yang memiliki kemungkinan berfungsi sebagai jembatan antara “makna” dan “pesan” [Bandingkan dengan pendekatan New Historicism in the History of Western Literary Criticism". Lihat: Aram Veeser, "The New Historicisme" in: "The New Historicisml Reader", New York and London, Routledge, 1944].
Tanda-tanda renungan ada kudapatkan pada puisi-puisi Inez, walau pun tidak ajeg, terutama dalam kualitas atau intensitas. Ketidakajegan ini, menimbulkan pertanyaan pada saya: Seberapa jauh Inez melakukan renungan sadar? Di samping itu, pertanyaan lain pun muncul pada diri saya: apakah renungan ini perlu dan diperlukan oleh penyair? Kalau perlu mengapa perlu? Kalau tidak perlu, mengapa tidak perlu? Apakah benar bahwa sastra hanyalah wadah pelampiasan rataptangis dan gundahgulana individual yang lagi dirundung malang karena pata cinta, tanpa perlu memahami untuk apa rataptangis dan gundahgulana ini bagi diri yang bersangkutan itu sendiri , terutama dalam menanggulangi kemelut yang sedang mendera? Contoh dari ketidakajegan ini, kalau pemahamanku benar, ada puisi ini:
Yang Tertinggal
by inezdikara
rindu yang biru
di bibir malam yang bisu
29 November 2006
Barangkali puisi ini pun mempunyai makna sebagai buah renungan tentang rindu dan hakekatnya. Malam yang bisu membiarkan si perindu menggelepar- gelepar sendiri tanpa sudah, seperti seekor ikan terlempar di pantai pasir kencana. Tersiksa sendiri tanpa penyelesaian. Tapi dibandingkan dengan baris-baris Inez “tanahku/ingin harakiri”, kukira pesannya jauh lebih mendalam dan berarti, sekali pun tanpa menyampaikan “pesan” khusus, apalagi seruan. Kecuali pernyataan urgen tentang keadaan “tanahku”. Ketidakajegan, saya anggap hal yang lumrah, seperti halnya tidak semua puisi selalu sama mutu keberhasilannya. Sehingga ketidakajegan bukanlah kelemahan yang terlalu fatal. Tanda-tanda adanya renungan ini, saya kira, bisa menjadi kekuatan bagi Inez untuk mengimbangi tekhnik pengungkapan yang agaknya memang ia gulati secara sadar. Dengan ini saya sampai ke masalah “bentuk”, jika menggunakan istilah dan pemilahan Budi Darma.
Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]