Sajak Gunawan Maryanto: yang selalu terjadi di hari minggu

:inez dikara

ia mengacungkan kuas itu persis ke mukaku
mungkin bertanya atau hanya menggerutu:
apa aku berusaha menghapus jejak di dinding
sebagaimana dulu kerap kumatikan lampu
untuk mengakhiri pertunjukannya
tapi nyatanya ia justru bertanya,
di mana kausimpan album kita
yang dulu ada di meja itu?

aku hanya memegang dadaku
tak menunjuk sesuatu, selain rasa sakitku

lalu ia menempelkan telinga
ke televisi. entah merekam apa
kau dengar detak jantungku?

kubenamkan wajahku ke dalam bantal
dalam-dalam. jadi bulan-bulanan ingatan

ceritaku, anakku, tak pernah berakhir dalam sebuah botol.
layaknya hujan, ia menjelma selokan yang melintas di bawah jendela kamarmu,
menyaru kabut di kaca rumahmu.

meski kadang berhenti menjadi kursi bagi tidurmu yang tak nyenyak

ia tertawa, keras dan menggelikan. juga mengerikan
luar biasa, ia bisa dengan cepat menggulung ingatan
aku mesti berlama-lama menunggu,
memilih waktu dengan jitu
: ini bukan sekadar mencuci kenangan
atau memasaknya dengan cara lain

sudahlah,
kami lantas membelah sepi;
kendaraan meluncur kesetanan
tak perlu mengerling di tiap tikungan
atau menguras senyuman
mereka toh telah menutup daun pintunya
begitu sepi yang tengah kauhayati itu
: menjadi dan susah dimengerti

jogjakarta, 2008

Ruang Istirah dalam Sajak Inez Dikara oleh Al-Muzzammil

Kita banyak menemukan penyair yang lihai bersajak pendek, namun sering kali terjungkal dalam guratan sajak-sajak panjang. Sebaliknya pun begitu.

Menulis sebuah sajak pendek lebih mudah ketimbang membuat yang panjang, inilah kesalahan yang telah lama kaprah dalam benak masyarakat awam. Sajak pendek bagaimanapun memiliki sisi-sisi yang tak dapat diabaikan. Menuliskannya tak berarti lepas dari bahaya. Salah-salah, penyair dapat terjebak dalam kedangkalan berbahasa. Secara gamblang saya berpendapat, kekuatan sajak panjang ada pada narasi, sedang kekuatan sajak pendek terletak dalam susunan kontemplasi. Sekali lagi, kalimat yang baru saja saya sampaikan tadi adalah sebuah pendapat yang belum layak dijadikan patokan.

Dalam ranah persajakan kontemporer indonesia, cukup ramai nama-nama penyair yang dikenal terampil menggunakan majas dan matra dalam berbagai metode, guna mencipta sajak-sajak pendek yang gurih. Beberapa, seperti Joko Pinurbo, gemar menggunakan ironi-ironi segar. Sementara Ook Nugroho atau Raudhal Tanjung Banua misalnya, aktif mencipta kesan-kesan metafisik. Di lini terakhir, segelintir penyair lainnya masih belum bosan mengolah tema-tema lama. Lanskap.

Inez dikara adalah salah satu dari segelintir itu. Sajak-sajaknya kebanyakan berawal atas kekaguman terhadap situasi alam sekitar. Saya memang belum sempat mewawancarainya secara langsung, tapi kesan itu acap saya tangkap lewat beberapa sajaknya.

Misalnya satu sajak di bawah ini:

sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan

malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan

(Sogan Village, Inez Dikara)

Rasakan usaha sang penyair memindahkan suasana malam yang visual dalam sepotong sajak yang literal. Penyair benar-benar bicara soal galeri di sudut kota, bukan yang lain. Tentang sesuatu, bukan seseorang. Sebuah sajak pendek yang kembali pada fitrahnya; tidak antroposentris, melainkan kosmosentris.

sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan

Tak perlu bertanya, sajak ini tentang ‘kota’ mana. Sebab selanjutnya, ‘gending jawa’ telah memberitahukan pembaca tempatnya. ‘Galeri’ kemudian menyempitkan mata pembaca sebelum liar meraba-raba. Semakin sempit ketika Inez menyajikan ‘kursi-kursi’, ‘halaman’, berikut ‘lampu-lampu’ lengkap dengan ‘kurungan’-nya.

Sekarang, pembaca tinggal memilih, benda mana yang ingin disentuh. Saya pribadi akan memilih kursi sebagai perlambang rasa nyaman, tempat perenungan, atau wahana istirah yang damai. Ingin memilih lampu-lampu yang redup pun tak mengapa, meski ia terlihat suram. Jelasnya, inez membebaskan pembaca. Inez menghadirkan segala yang pernah tampak di matanya.

Lantas, di mana letak kontemplasi sajak ini? Simak lanjutannya:

malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan

Anda telah duduk? Sudah merasa nyaman dengan kesunyian? Dengan keremangan? Sekarang waktunya bersulang bersama malam. Malam yang dahaga. Malam yang haus akan ingatan. Apapun warna ingatan itu. Silahkan duduk dan merenung-renung sendiri. Gali kembali sumur ingatan anda sedalam-dalamnya. Sekarang, bagilah kenangan dan ingatan itu dengan malam. Malam yang dahaga.

Alih-alih memunculkan sebuah kontemplasi penting dalam sajak, Inez malah mengajak pembaca berkontemplasi lebih dalam. Bukan sesuatu yang disodorkannya matang-matang, tapi sebuah jalan untuk mencapai titik puncak perenungan. Itulah salah satu fungsi sajak atau puisi. Sebuah sajak mestinya rendah hati. Tidak sok berilmu dan menggurui (atau membodohi) pembacanya. Dengan mengikuti gaya inez bercerita lewat sajak, kita terdorong untuk merenungkan sesuatu melalui jalur yang sudah dibangun. Semuanya, termasuk para pemalas yang apriori.

Tak perlu saya berkoar-koar banyak soal rapihnya struktur fisik sajak ini. Seakan sengaja, semua benda-benda kongkret diletakkan larik per larik pada bait pertama, /1/ galeri, /2/ gending jawa, /3/ kursi-kursi, /4/ halaman, /5/ lampu-lampu. Lantas menumpuk kesan malam yang bersinestesia dengan indera lidah (dahaga) pada bait kedua. Dengan bentuk seperti ini, pembaca benar-benar diberikan jeda untuk setelahnya merenung lagi lebih dalam.

Jelasnya, sajak-sajak inez bukan sebuah pergulatan yang melelahkan, melainkan peristirahatan yang menenangkan. Tak perlu berpikir rumit untuk mencerna sajak-sajaknya. Cukup merenunglah di suasana paling nyaman. Lebih dalam.

(selengkapnya tentang Al- Muzzammil dapat dilihat di http://kuasajak.blogspot.com/)

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (10-selesai) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [10]

Bertele-tele sudah ocehan ini, yang tentu saja bukan suatu kritik, ulasan atau pun resensi, tapi lebih bersifat “berbincang-bincang” tentang kesan subyektif, setelah membaca puisi-puisi Inez yang berhasil kuhimpun, sambil melirik ke kanan-ke kiri puisi-puisi lain. Ketika menulis perbincangan ini, saya mencoba merenungi kata-kata Jean Bollack, philolog dan filosof Perancis yang banyak mempelajari penulis-penulis Yunani seperti Empdocle, Horaclitus, Epicurus, Parmanidus dan …. juga tentang penyair Paul Celan. Berkata Jean Bollack, semacam menyimpulkan pengalamannya: “… teks adalah suatu masalah sentral. Ketika membacanya kita bisa dengan gampang terjerumus oleh hal-hal semu, diganggu oleh penyimpangan-penyimpangan. Karena itu pada setiap pekerjaan [baca: pengkajian -- JJK], saya senantiasa membiasakan diri untuk berdialog dengan suatu tradisi: Sebelum memulainya, harus terlebih dahulu mengenal penulis yang kita mau tulis. Harus mengkaji sang pengarang tersebut dengan bertanya: Apa yang mau ia katakan? Dan mengapa ia berkata demikian?” [Lihat: Le Monde Livre, Paris, 02 Februari 2007].

Barangkali kata-kata Bollack ini mau mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya, untuk menulis tentang seorang sastrawan/penyair, ia mengawali kegiatannya dengan mengenal para sastrawan tersebut sebagai langkah awal mengenal “teks” yang ia sebut sebagai “masalah sentral”. “Agar memahami apa yang mau dikatakan oleh sang sastrawan/penyair, mengapa ia berkata demikian”. Sebagai contoh Jean Bollack menuturkan pengalamannya saat menulis empat jilid buku tentang penyair Paul Celan. “Saya memang mengenal baik Paul Celan dan saya membacanya selagi ia masih hidup… Tapi, terusterang, saya lama tidak memahaminya. Lalu saya berkata pada diri saya, mengapa saya tidak melakukan usaha ke arah itu sebagaimana yang saya lakukan terhadap sastrawan-sastrawan Yunani Kuno? Kemudian, selang sepuluh tahun, setelah Celan meninggal, saya mulai belajar membaca Celan lagi”. “Saya berketetapan hati untuk mempelajarinya lebih teliti, karena agaknya pada penulis ini terdapat suatu bahasa di dalam bahasa. Saya juga mempelajari ungkapan-ungkapan yang dia ciptakan. Saya mempelajari Celan selama dua puluh tahun. Tapi ingin juga saya katakan, bahwa seandainya saya tidak mempelajari penyair-penyair lama seakan-akan mereka itu adalah penyair-penyair kekinian, rasanya saya tak akan mungkin melihat tempat mereka dalam sejarah. Demikian juga terhadap Celan” [Ibid]. Jika cara kerja Jean Bollack ini bisa disebut sebagai suatu metode, maka apa yang kulakukan ketika membaca Inez sangatlah jauh dari metode demikian karena itu kukatakan tulisan ini hanyalah kesan subyektif dan perbincangan yang kemudian kucantumkan sebagai sebuah “jurnal seorang awam sastra. Lebih merepotkan lagi, karena proses Inez sebagai penyair masih jauh dari selesai. Apalagi berdasarkan catatan di bawah puluhan puisinya, tertanda tahun 2006 sebagai tahun paling awal. Karena itu pula, saya mendapat kesulitan besar untuk membuat suatu kesimpulan, kecuali membatasi diri pada pembacaan gejala. Hanya saya merasa beruntung karena tulisan ini tidak lebih dari sebuah “jurnal”. Metode Bolllac pun tidak bisa saya terapkan. Jika benar bahwa Inez baru mulai bersyair pada tahun 2006, dalam perjalanan panjangnya “mengembarai sebuah dunia” , jika menggunakan istilah Inez sendiri, apabila ia tidak jera dan cepat lelah serta tidak tergesa-gesa, berdasarkan apa yang saya baca, bukan tidak mungkin ia ditunggu esok kepenyairan yang bercahaya. Sekali pun ia juga tak punya pretensi macam-macam dalam berpuisi, kecuali mengungkapkan diri. Perjalanan panjang “di sebuah dunia” [ in a world], sekali lagi istilah yang ia gunakan, akan membuat Inez menjadi dirinya sendiri. Menemukan dirinya sendiri sebagai penyair. “Menjadi lain” dalam pengungkapan, jika meminjam istilah almarhum penyair asal Aceh, Agam Wispi. “Menjadi lain” yang wajar serta alami tentu saja. Menjadi diri sendiri, saya kira, adalah suatu keniscayaan. Karena jalan epigon agaknya suatu jalan macet ke depan. Epigon tak pernah melebihi yang ditiru. Kerja keras tak mengenal lelah dari Jean- Bollack selama 40 tahun lebih memperlihatkan suatu teladan sehingga ia menemukan metode sendiri. Dengan kerja keras menggunakan metode pendekatannya, Bollack antara lain sudah menerbitkan karya-karyanya tentang Jean Beaufret [1955], Denis O’Brien [1987], Marcel Conche [1996], Barbara Cassin [ 2998], A.H. Coxon [1986], Sumbangan Reinhardt Tahun 1916, Pelajaran Dari Heidgger, dan lain-lain…

Sekali pun banyak syair sudah ditulis, tapi kukira, kehidupan tidak pernah kelebihan syair dan penyair. Apalagi penyair yang seperti dikatakan Inez, ingin mengajak “kita terbangun dari tidur yang teramat panjang” yang “kejar mengejar dengan waktu” , memburu “makna”, seperti “kereta berlari mengejar masa depan” di “tanahairku/ ingin harakiri”.***

Paris, Januari 2007
———— ——— – —-
JJ. Kusni

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (9) oleh JJ Kusni

Jurnal Seorang Apsasian:

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [9]

Perihal tema yang diolah oleh Inez, seperti saya tuturkan di atas, adalah masalah-masalah keseharian yang dekat dengan dirinya. Kecintaannya kepada sang Ibu, masalah dapur, yang mungkin dikarenakan ia  suka masak-memasak, pemandangan alam dan musim Chicago di mana ia pernah tinggal dan belajar selama bertahun-tahun, perjalanannya di dalam metro [kereta di bawah tanah] serta kenangan-kenangannya. Bagi saya sendiri,  karena dipengaruhi oleh nasehat Rendra semasa remajaku, saya tidak pernah membatasi diri dengan tema. Maksudku tema apa pun bisa diangkat dan diolah. Tinggal bagaimana kita menggarap tema itu. Dalam mengolahnya, seorang penulis akan sangat dipengaruhi oleh pola pikir dan pandangan hidupnya. Dengan pandangan hidup inilah si penulis mengolah tema-tema yang ia angkat.  Karena penyair berkarya ditemani oleh imajinasinya, maka apa yang ia tulis belum tentu suatu kenyataan yang benar-benar ada walau pun imajinasi itu berkembang dan dikembangkan atas dasar kenyataan lingkungan di mana ia hidup ditambah dengan acuan-acuan melalui bacaan dan berbagai sumber lainnya. Dengan imajinasi beginilah, sambil membayangkan suatu kemungkinan, kukira Karl May  menulis, Jules Verne menulis karya-karya mereka. Jika menggunakan lukisan Lu Sin, pengarang Tiongkok pada tahun 1930an, tokoh-tokoh yang ia gambarkan kakinya berasal dari Nanking, kepalanya dari Beijing, tangannya ia pungut dari Shanghai. Lalu ia gabungkan dan melahirkan tokohnya sendiri sesuai dengan pandangan hidup dan apa tujuannya menulis. Artinya, imajinasi itu mempunyai dasar sosial atau kenyataannya. Karena itu,  karya sastra bisa menjadi salah satu sumber penuntun penelitian bagi para ilmuwan sosial untuk memahami keadaan masyarakat pada suatu zaman.  Keadaan begini sering dikatakan bahwa “sastra adalah cerminan atau anak zaman”.  Perkembangan lebih lanjut dari pandangan ini, para sejarawan  bahkan menganggap cerita rakyat, legenda merupakan salah satu sumber sejarah. Cerita Dracula atau  Frankenstein pun sebenarnya ditulis tidak lepas dari keadaan sejarah pada waktu itu. Yang lebih sederhana adalah filem Charles Chaplin seperti “Sang Diktator” yang dengan tajam mengkritik Hitler.  Tidak berbeda halnya dengan Marquis de Sade yang umum dikenal secara dangkal sebagai penulis erotik. Padahal jika diusut secara  lebih jauh, Sade dengan karya-karyanya mempunyai maksud tertentu yang tersembunyi.  Sade mengutuk  kerakusan dan keangkuhan kekuasaan yang menimbulkan malapetaka pada orang lain [lihat: Geoffrey Gorer, "The Life and Ideas of the Marquis de Sade", Panther Books Ltd, London, 1934, 203 hlm].

Pemilihan tema, pemilihan masalah yang diangkat dan diolah, saya sendiri menganggapnya sebagai suatu pilihan bersikap yang bukan kebetulan. Lepas dari pada bagaimana si penulis mengolah tema  tersebut.  Barangkali bisa diambil suatu analogi: Ketika seorang juru potret membidik suatu obyek, tentu pengambilan obyek itu dibarengi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu. Yang menarik dari puisi-puisi Inez, ia tidak berhenti pada pemotretan keadaan, tapi mencoba mencari makna. Keadaan masyarakat yang mengundahkannya karena ketiadaan kepastian hukum,  ia lukiskan misalnya dalam kata-kata:
terowongan bawah tanah
musim dingin

[Dari: Windy City Dalam Kenangan"]

Tentu saja ini adalah penafsiranku atas sebuah puisi yang umumnya berwayuh arti.  Bahwa seandainya Inez tidak menulis dengan maksud demikian, tentu saja bisa saja terjadi. Tapi ketika puisi disiarkan ia sudah dilepaskan kehadapan pembaca yang berdaulat. Sehingga bisa saja terjadi maksud penyair berbeda dengan pemahaman pembaca.  Pembaca yang berdaulat tidak niscaya mengikuti apa yang dimaksudkan penyair. Penyair, kiranya sudah kehilangan  kewenangan mendikte pembaca mengenai tafsiran tulisannya.  Kritik, resensi dalam hal ini pun paralel dengan kedaulatan pembaca. Memahami kritik sebagai keniscayaan memahami alur pikir penyair atau penulis, dan memandang penulis sebagai sejenis “dewa” tak bercela, tidak sepenuhnya bisa diterima. Memahami adalah satu soal, tapi setuju dan tidak setuju adalah soal lain. Benar dan tidak benar lebih lain lagi.

Jika dalam konteks film, Garin Nugroho pernah berkata, “nilailah sebuah karya berdasarkan pretensi pembuatnya”, pertanyaan saya:  Apa penonton tidak berhak berpendapat dan niscaya memahami  si pembuat filem? Apakah filem Arifin C Noer, G30S/PKI” tidak boleh dikritik, semata-mata karena  alasan harus “berdasarkan pretensi pembuatnya”? [baca:Arifin C. Noer. Mengenai filem ini saya pernah bicara langsung pada Arifin dan Jajang ketika mereka di Paris ]. Pendapat seperti ini terkesan pada saya, seakan menyirat adanya keinginan memahami pembuat filem dan atau penulis, dan mengelak kebebasan serta kedaulatan pembaca dan penonton. Apa gerangan  nama dan artinya sikap begini?! Lalu diapakan dan di mana tempat kritik serta atau resensi? Apakah kritik dan resensi hanya diminta untuk memuja-muji belaka? Apa bedanya pandangan begini dengan pembungkaman kritik dan resensi? “Pretensi” dan “dampak”, apalagi penafsiran, bisa mempunyai jarak besar. Nama tidak menjamin makna. Penafsiran merupakan bagian dari kedaulatan pembaca dan penonton. Mengapa kedaulatan ini harus “berdasarkan pretensi pembuatnya”? Inikah yang disebut apresiasi?

Sehubungan dengan masalah ini, saya menghargai sikap Inez yang tanpa “pretensi” dalam bersyair. Membiarkan pembaca syairnya menilai puisi-puisinya. Barangkali sikap inilah yang sekaligus  membebaskan Inez dari segala beban psikhologis dan membuka pintu ke jalan maju lebih jauh. Nama agaknya bukan menjadi tujuan Inez, karena puisi baginya  merupakan sarana pengungkap diri dan berlayar sadar di samudera sastra.***

Paris, Januari 2007
———— ——— —–
JJ. Kusni
[Bersambung. ..]


Lampiran:
Puisi-puisi Inez Dikara

1. Di Sepanjang Michigan Avenue

daun daun begitu ingin
menyentuh ujung sepatuku
di sepanjang michigan avenue gerbang sekolah
besi besi dingin
tempat kau selalu menungguku
pusat belanja dan jendela besar toko buku
di sana,
kau dan aku menghitung butir butir hujan yang jatuhgegas
kaki kaki kejar mengejar dengan waktu
riuh suara kendaraan
menambah ramai benak orang orang
tenggelam mereka dalam masing masing pikiran
: orang orang kesepiandi sepanjang michigan avenue
ada getar yang tertinggal
seransel kenangan letih di pundakmu

[Milis Apsas, 26 Januari 2007]

2.Tanahku Ingin Harakiri

bumi bagai berhenti berotasi
hingga musimmusim menjadi abadi
matahari, teriknya membakar dada
di belahan yang lain
hati mati. membeku. dingin. musim di tanahku abadi
di sana angin berhenti bernyanyi
daun daun kaku
burung burung sakit
dada pohon sunyitanahku
ingin harakiri.

[Milis Apsas, 02 Desember 2006]

3. Winter Song

dari balik jendela kamar
kulihat pohon pohon berbunga salju
di bawahnya seekor tupai
melompat kian kemari mencari kenari
di ujung jalan kulihat kepul asap
cerobong sebuah rumah
ingatkanku akan dapur ibu
riuh suara sendok di meja makan
serta doa yang dibacakanangin bertiup kencang mendorong
tubuh para pejalan
begitu gigil baju hangat mereka rapatkan
lalu kulihat ada butir butir salju leleh
di jendela kamarku
mengalir jauh bermuara di sudut mataku

[Apsas, 27 Januari 2007]

4. Pagi Yang Bertamu Dengan Dua Kwatrin

mentari selalu mencari ibu
kala pagi datang bertamu
dibisikannya pada bunga bunga
agar sabar menunggu mawar merah dan kana
tumbuh secantik hati ibu
tempat aku berkaca
berharap kutemu wajahku di sana

[Apsas, 13 Desember 2006]

5. Sumbu

tali sumbu hampir habis
terbakar masa
entah apa dimasak
oleh tungku di atasnya
begitu tebal jelaga
adakah tertinggal makna?

[Apsas, 21 Desember 2006]

6. Yang Tumpah Di Mangkuk Malam

hangat airmata tumpah di mangkuk malam
entah siapa yang hendak meminum sepi
jeda yang tak berisi
tawa anak dan kecipak airdoa berhambur memenuhi udara
pada-Nya kau dan aku mencoba bercerita
tentang kata kata yang terbang tinggi
lalu jatuh di pucuk pucuk batu
terberai dan menyatu kembali dengan ragu
begitu berulang
hingga penantian usai
dan kita tak lagi berselisih dengan waktu

[Apsas, 02 Januari 2007]

7. Yang Tertinggal

rindu yang biru
di bibir malam yang bisu

29 November 2006

8. Senandung Hari

ingin kulipat hari
lalu kubentangkan malam
tempat lelah aku sandarkan
dari panjang perjalanan
lalu aku letakkan pundipundi doa di sisi
berharap malam nanti
Kau datang sebagai pencuri

27 November 2006

9.Yang Tertinggal di Kursi Kereta

laju kereta di sepanjang rel dua kota
kau dan aku pernah ada di dalamnya
mencoreti diari dengan banyak rencana
hingga peluit berbunyi di akhir perhentian
dan kita terbangun dari tidur yang teramat panjang
(tertinggal di kursi
lembar lembar diari menunduk
basah dengan airmata)

22 November 2006

 10. Windy City Dalam Kenangan

terowongan bawah tanah
musim dingin
kereta berlari mengejar masa depan
aku duduk bersandar di kursi paling belakang
agar dekat dengan yang aku tinggalkan

08 November 2006

11. Musim Di Dadamu

hanya ada satu musim di dadamu
aku bangun tenda dan berpiknik di sana sepanjang hari
lalu aku tinggalkan remah remah roti sebagai tanda
agar bisa kau kunjungi aku bila musim hatiku berganti

07 November 2006

Membaca Puisi-Puisi Inez Dikara (8) oleh JJ Kusni

MEMBACA PUISI-PUISI INEZ DIKARA [8]

Sekarang, saya sampai ke masalah terakhir: pengamatan dan tema. Ketika memperhatikan puisi-puisi Inez, nampak bahwa penyair, [yang kukira di hari-hari mendatang dinanti oleh sekian kemungkinan asalkan ia bisa bertahan di jalan panjang perjalanan kepenyairan], akrab dengan alam, keluarga — terutama ibunya, soal-soal keseharian seperti dapur, sendok-garpu, dan soal-soal sederhana yang luput dari perhatian. Soal-soal sederhana dan umum inilah yang agaknya banyak diangkat oleh Inez sebagai tema olahan. Pada kemampuan menyerap nilai hakiki dari hal-hal keseharian, sederhana  dan umum dikenal oleh semua orang, justru terletak keunggulan penyair. Memberi yang biasa, umum dan keseharian itu, suatu makna universal. Dengan mengangkat tema-tema ini, saya melihat sekali lagi dan lagi-lagi kesederhanaan Inez. Kesederhanaan tanpa bombasme dan ambisi berkelebihan tanpa niat membuat suatu gebrakan apalagi yang disebut inovasi atau pembaharuan.  Ia bersyair secara alami sesuai suara nurani sambil tanpa lalai menggulati pencapaian puitisitas. Soal dapur, sendok, garpu, meja makan, pemandangan alam yang diangkatnya ke dalam puisi, selain barangkali karena ia memang termasuk seorang yang suka masak, mengingatkan saya pada anjuran Rendra ketika kami serumah di Yogya pada masa remaja Yogyaku. Rendra pada waktu itu menasehati saya agar mengamati segala sesuatu, memperhatikan dengan indra segala apa saja dengan penuh ketelitian. Pengamatan ini, ujar Rendra, pada suatu saat akan muncul dengan sendirinya dan berguna ketika kita menulis sesuatu. Membantu kita melengkapi pelukisan imajinasi kita, memperkaya metafora alias perbandingan-perbandingan yang perlu. Misalnya: Jika ada seorang perempuan lewat di depanmu, amatilah dia secermat mungkin. Bagaimana gincu dan bibirnya, tubuhnya, tatanan rambutnya, dan sebagainya. Amati meja, kursi, sendok, garpu, batu, sungai, air yang mengalir, warna langit dan sebagainya… Amati, amati, amati segalanya dengan teliti, di samping berlatih, berlatih, mencoba dan mencoba dalam segala macam bentuk perpuisian untuk mematangkan serta meningkatkan taraf tekhnik berpuisi, adalah inti nasehat Rendra yang selalu kuingat sampai sekarang. Puisi  yang puisi tidak lain dari hasil kerja keras tak kenal lelah. Pengamatan dan hasil pengamatan cermat ini akhirnya mengendap di ingatan kita diam-diam dan menjadi bagian dari diri kita sehingga pada suatu ketika, saat kita menulis, ia akan muncul secara alami. Hal inilah yang kemudian yang kunamakan sebagai kesadaran berpuisi dari segi tekhnik. Karena tekhnik berpuisi tentu berbeda dengan tekhnik berpidato, tekhnik menulis artikel, esai atau cerpen. Puisi seniscayanya tetap puisi, jika menggunakan istilah penyair Amarzan Ismail Hamid dari Majalah Tempo, Jakarta ketika berbicara tentang alm. penyair Agam Wispi di dalam Majalah Medium, Jakarta.
Ketika Inez berbicara tentang sendok, garpu, meja makan, pemandangan alam musim dingin,  musim gugur di Chicago di mana ia pernah bertahun-tahun tinggal, gejala “memperhatikan segala sesuatu dengan cermat” ini, sempat kutangkap pada Inez [Lihat: Lampiran puisi-puisi Inez di tulisan terdahulu]. Masalahnya: Apakah pengamatan ini dilakukan dengan sadar atau masih bertingkat naluri? Pertanyaan yang hanya Inez saja bisa menjawabnya dengan pasti. Apa yang kutulis ini pun, sama sekali bukan suatu nasehat, tapi lebih bersifat penuturan pengalaman dari seniorku dalam perjalan mereka atau dia untuk mengungkapkan diri menggunakan puisi tanpa perduli apakah ia akan menjadi penyair, diakui sebagai penyair atau tidak. Yang masih dan melekat dalam di ingatanku adalah pernyataan Rendra di Gampingan kepadaku di depan Mbak Soenarti alm. bahwa “mengungkapkan diri adalah hak dasar anak manusia”. Karena itu Mbak Ken Zuraida dan Rendra sangat marah ketika mengetahui dari teman-teman Ikatan Sastrawan Indonesia, Kalimantan Tengah di Palangka Raya,  bahwa di akhir masa kerjaku di Palangka Raya, Kalteng, kampung kelahiranku, aku sempat dilarang berbicara di depan publik, dicekal untuk menulis dan bahkan memberi makalah di seminar-seminar publik. Kemarahan besar Rendra dan Mbak Ken ini, mereka ungkapkan dalam suatu percakapan telpon jarak jauh Paris-Jakarta. Pelarangan begini, kupahami sebagai kekuatan kata dan sastra. Kata yang membuat Cak Durasim, dibunuh oleh fasis Jepang dan sekarang di Turki, Orhan Pamuk diancam kematian. Kata dan pena yang sangat ditakuti oleh Napoleon Bonaparte. Kata dan sastra hadap-hadapan dengan ajal. Bertarung dengan ajal. Tanda bahwa sastra adalah sebuah republik berdaulat di mana para warganya bebas berpikir dan menyetiai kebebasan berpikir ini. Cara para pengguna kata memainkan peran pengawasan sosial dan tanggungjawab kemanusiaannya. Sastra adalah sebuah dunia yang tak pernah usai dijelajahi karena ia seluas kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang selalu menyimpan misteri, buhul kemelut tak usai diurai. Starting point, point de part, dermaga keberangkatan Inez ketika melauti dunia puisi, adalah dermaga yang mengena. Ini pun kalau pengamatanku atas puisi-puisinya yang berhasil kuhimpun, benar dan apakah Inez benar-benar mau menjadi penyair atau sebatas suatu keisengan mengisi waktu senggang di antara kesibukan-kesibukan lainnya. Keisengan akhirnya berujung dengan ketenggalaman dan kelenyapan tanpa gaung dan gema seperti yang dikatakan oleh Chairil Anwar: “aku mati iseng sendiri”.
Paris, Januari 2007
————————–
JJ. Kusni
[Bersambung...]