Sebuah Kapal dan Mercusuar

terkadang kau biarkan saja
ke arah mana kakimu
seperti seonggok kapal
yang menutup telinganya
dari teriakan mercusuar
hingga arah membuka semua mata baginya
: laut dangkal berkarang terjal
—sesuatu yang disembunyikan malam

kau hanya berusaha menggerakkan
sesuatu yang telah ditanam
saat pertama tubuhmu penuh
sepenuh kitab pertama yang dituliskan
—satu-satunya kitab dengan neraca di ujung jalan

penetapan membasahi sekujur tubuhmu
dan jalan-jalan
riuh suara-suara saling bertabrakan
ada yang diam-diam menyelinap
meniup-niupkan–mencoreng
ada yang sepakat dengan yang kau pertahankan

seperti sebuah kapal terombang-ambing
di tengah laut
di tengah kabut kedua lututmu
bergerak maju menghantam pedas ombak
sesekali kau mencuri pandang ke arah rumah terang
“turunlah, cahaya, turunlah.
berumahlah engkau di tubuhku
agar terang. agar lapang menakar kejadian.”


Jembatan yang Lahir dari Bibirmu

saat pertama aku dilahirkan, dari sepasang bibirmu mengalir  potongan-potongan papan yang kemudian tersusun menjadi sebuah  jembatan yang menghubungkan antara dua masa, dan kanak-kanak  telingaku. ibarat sebuah cerita dan palu yang sewaktu-waktu siap  dijatuhkan. merangkai usia dengan sederet pagar dan benih dosa-dosa.

di tubuh bumi yang tampak kian compang camping, aku tumbuh  dewasa. kau mulai kehilangan daya dan aku semakin menajam—melenting—hinggap di mana-mana. juga tak sengaja diterbangkan  oleh angin yang memaksaku ikut bersamanya. ujung-ujung jariku  kerap mencari ujung-ujung jarimu. peredam getar dan anak panah  yang meluncur seperti diperintahkan. kau mulai kehilangan daya  dan hujan membuatku gemetar. cahaya meredup di ujung malam. di  pucuk kedua jalan, kita memadu badan. menata getar di ribuan  bilah papan.


Setelahnya, di Sebuah Teras

untuk g

sore telah lepas
menyerpih ia di atas tuts tuts
mesin ketikku
seperti remah-remah roti
menunggu sekelompok merpati
kubereskan meja dan kubersihkan
sisa-sisa kegaduhan semalam
dan beribu-ribu jam yang telah lalu

jari-jariku luka–berdarah
juga telapak tanganku
begitu tajam yang ingin kugenggam
sedang yang remah, terlepas sudah
dengan apa kutuliskan esok
sedang sesaat serambi terasa kosong

di antara angka-angka itu
aku ingin berhenti sejenak
menutup telinga dari suara-suara
yang hendak menjemput
dan memaksaku pergi
aku ingin diam. sesaat diam.
memasuki lubang-lubang kecil
di tubuh malam
dan mencair di keheningannya


12 Oktober

bersandarlah padaku
pada kulit yang belajar darimu
bagaimana menyentuh
dan meredam
ombak-ombak kecil
yang menghempas dinding-dinding
jantung

di tepi matamu, ibu, matahari meredup
jalanan sepi dan jalur-jalur kereta
kehilangan suara nyaring peluitnya
bantalan-bantalan kayu tergolek
ditinggalkan roda-roda besi yang
dulu kerap mengguncangnya

perjalanan tak lagi menyakiti pecah
tapak-tapak kakimu
di mana aku berumah dan mengabadikan
cahaya yang berlepasan dari langkah-langkahmu

dinding-dinding bergetar di dadamu yang lapang
rapatkan baju hangatmu, ibu
mendekatlah, selalu. biarkan aku
meminum airmatamu

2009

Monolog Pagi

ramainya kesunyian malam
kerap membuatku terjaga
angka-angka tumpah melampaui
batas-batas almanakmu
makin sempit tempatku fana
sedang tak banyak yang kubawa
di saku baju
lubang yang kujahit
acap kali melonggarkan ikatannya
hingga tercecer yang sudah
remah-remah itu

tetapi pagi mengoleskan rasa yang berbeda
wanginya menghambur di ruang tamu
mengendap di secangkir kopi
dan bising koran pagi
jarum jam dan sikat gigi kembali berpesta
meski tak sepenuhnya, kurasa tubuh
seperti berjalan sia-sia

2009