Dentang Lonceng yang Mengingatkan

pertunjukan di dalam panggung kaca menelan habis jam meja dan susu rendah lemak di kamarmu. udara terpolusi keberangan yang terkunci. tak bisu. ia ada. hanya terpaku ditekan pegas dadamu–yang kian terlatih menjinakkan radang. para pelaku di pementasan cerita memakai banyak peran. awalnya serupa sekelompok pengayom bijak, di mana para jelata menggantungkan pundi-pundi keadilan; menunggu kabar baik dari medan perang (begitu kata mereka kepada yang mereka sebut pahlawan). matahari jatuh dan bulan menggantikan. panggung tak juga purna. para pelaku berganti peran lalu saling menyebut diri binatang (padahal kau ingin orang-orang itu tahu, bahwa sebagai hewan pun mereka tak punya tempat. hewan tak pernah berpura-pura. tak ada yang disembunyikan).

dentang lonceng jam jangkung di ruang tamu mengingatkanmu akan penunjuk waktu baru di pergelangan tangan. kau bangkit untuk menyiapkan panggungmu sendiri. kau bakar lagi jiwa dengan doa dan butir-butir kecemasan. juga beribu aksara sebagai penerang jalan. di sepanjang kepergian, takkan kau biarkan awan hitam pemanggul hujan memadamkan. mengalahkan.

Posted at 6pm on 01/20/10 | No Comments » | Filed Under: Garden of Poems
Tags:

Sebuah Kapal dan Mercusuar

terkadang kau membiarkan saja ke arah mana kakimu ingin menceburkan dirinya. seonggok kapal yang menutup telinganya dari teriakan mercusuar hingga arah membuka semua mata baginya. laut dangkal berkarang terjal. sesuatu yang disembunyikan malam. kau hanya berusaha menggerakkan ketetapan. sesuatu yang telah ditanam saat pertama tubuhmu penuh. sepenuh kitab pertama yang dituliskan. satu-satunya kitab dengan neraca di penghujung jalan.

penetapan membasahi sekujur tubuhmu dan jalan-jalan. riuh suara-suara saling bertabrakan. ada yang diam-diam menyelinap meniup-niupkan–mencoreng. ada yang sepakat dengan yang kau pertahankan. sebuah kapal terombang-ambing di tengah laut menantang. di tengah kabut kedua lututmu bergerak maju menghantam pedas ombak. sesekali kau mencuri pandang ke arah rumah terang. turunlah kirana turunlah. berumahlah engkau di kelima indera dan kalbu. agar terang. agar lapang menakar kejadian yang ditimpakan.

Posted at 6pm on 11/23/09 | 2 comments | Filed Under: Garden of Poems
Tags: