Cerita dari Langit Retak

langit retak, jatuh, dan berserak di genangan air matamu. dengan sabar kaupunguti satu-satu lalu kau tata kembali di helai kain yang setia menyimpan suara-suara. dulu seorang perempuan pernah menyulamkan cerita, berakhir entah di mana. selembar kain itu sudah terlalu akrab dengan gema yang tak sampai ke mana-mana.

dibukanya kotak kecil di bawah tempat tidurnya. ia jumput sinar malu-malu yang berada di sana. ia sapukan di sehelai kain sebagai mata—sinarnya senantiasa tembus menerabas duka di dadanya.

kau bahkan tak tahu hendak menyulam cerita apa. tapi hatimu selalu penuh kata-kata

Ia Sebatang Pohon

aku tak mau mengganggunya
biarkan emosinya mengalir kencang
dan habis di dada seseorang
hingga ia tertidur kembali, tenang

ia adalah sebatang pohon
menyembunyikan kisah yang tak pernah selesai
menyimpan surat-surat yang tak pernah sampai
jari-jarinya ramping menggenggam daun-daun

tak ada yang tahu sampai kapan
ia bertahan dan kapan
daun-daun itu kembali ia jatuhkan


Seekor Kupu-kupu Kehilangan Sepasang Bahu

kala yang bising membawanya pada sebuah taman. bangku kayu panjang. sepasang kaca mata, lembar halaman komik yang tertinggal, serta jejak jari-jari seseorang. di kejauhan, sebuah gedung tua membagi jalan menjadi dua. matanya kerap menanti dari arah mana sosok yang pernah ia kenal itu mengunjunginya lagi.

kala yang asing membawanya pada sebuah tepi. hamparan rumput. sepasang kacamata, lembar halaman komik yang tertinggal, serta kupu-kupu yang beterbangan. di ujung jalan, sebuah gedung tua membagi kenangannya. matanya bergetar seperti sepasang sayap kupu-kupu itu.

jarak menumbuhkan banyak pertanda. demikian terang awalnya lalu menjelma titik-titik. semacam hujan. semakin sulit dibaca. bintang melukis langit yang sama. di sana mereka kerap berjumpa. gemuruh awan basahi bangku tua di taman itu. seekor kupu-kupu kehilangan sepasang bahu.


Dentang Lonceng Jam

pertunjukan di dalam panggung kaca
menelan habis jam meja
dan susu rendah lemak di kamarmu
udara mampat oleh berang
terpaku ditekan pegas dadamu
—yang kian terlatih menjinakkan radang

ada banyak peran di sana
ada sekelompok pengayom bijak,
di mana jelata menggantungkan keadilan
menunggu kabar baik dari medan perang
hingga matahari jatuh
dan bulan menggantikan
panggung tak juga purna
para pelaku berganti peran
lalu saling menyebut diri binatang

dentang lonceng jam jangkung di ruang tamu
mengingatkanmu akan penunjuk waktu baru
di pergelangan tanganmu
kau bangkit menyiapkan panggungmu sendiri
takkan kau biarkan
awan hitam pemanggul hujan memadamkan
mengalahkan

Sketsa

paviliun, di ruang rendah cahaya itu, kau menelan waktu demi waktu yang terhidang di meja penuh buku. di mana di antaranya terselip selembar sketsa roman muka yang tak pernah puas menggambarkan dirinya. mungkin karena ia selalu merasa ada yang belum selesai. berliter tinta telah habis. serupa darah, ia tergenang di banyak kenangan. peperangan demi peperangan. kehilangan demi kehilangan.

tiga pohon asam di halaman depan yang kau tanam berpuluh tahun lalu, kini telah tinggi. sepulang dari kerja kau selalu berhenti sejenak dan menatap ke pucuk-pucuk mereka; begitu rindang meneduhkan. diajarkannya padamu kesabaran, agar tak tumbuh tergesa-gesa. sebab hidup semestinya perkara menyempurnakan dari waktu ke waktu. tapi musim tak pernah satu. tak setia. atau datang tak pada tempatnya. bulan meninggi. kau rebahkan diri seraya menatap kembali sketsa wajah yang mungkin tak akan pernah selesai. meletakkannya hati-hati di dadamu. membawanya jauh-jauh ke dalam mimpi.