Sketsa
paviliun, di ruang rendah cahaya itu, kau menelan waktu demi waktu yang terhidang di meja penuh buku. di mana di antaranya terselip selembar sketsa roman muka yang tak pernah puas menggambarkan dirinya. mungkin karena ia selalu merasa ada yang belum selesai. berliter tinta telah habis. serupa darah, ia tergenang di banyak kenangan. peperangan demi peperangan. kehilangan demi kehilangan.
tiga pohon asam di halaman depan yang kau tanam berpuluh tahun lalu, kini telah tinggi. sepulang dari kerja kau selalu berhenti sejenak dan menatap ke pucuk-pucuk mereka; begitu rindang meneduhkan. diajarkannya padamu kesabaran, agar tak tumbuh tergesa-gesa. sebab hidup semestinya perkara menyempurnakan dari waktu ke waktu. tapi musim tak pernah satu. tak setia. atau datang tak pada tempatnya. bulan meninggi. kau rebahkan diri seraya menatap kembali sketsa wajah yang mungkin tak akan pernah selesai. meletakkannya hati-hati di dadamu. membawanya jauh-jauh ke dalam mimpi.
Dentang Lonceng yang Mengingatkan
pertunjukan di dalam panggung kaca menelan habis jam meja dan susu rendah lemak di kamarmu. udara terpolusi keberangan yang terkunci. tak bisu. ia ada. hanya terpaku ditekan pegas dadamu–yang kian terlatih menjinakkan radang. para pelaku di pementasan cerita memakai banyak peran. awalnya serupa sekelompok pengayom bijak, di mana para jelata menggantungkan pundi-pundi keadilan; menunggu kabar baik dari medan perang (begitu kata mereka kepada yang mereka sebut pahlawan). matahari jatuh dan bulan menggantikan. panggung tak juga purna. para pelaku berganti peran lalu saling menyebut diri binatang (padahal kau ingin orang-orang itu tahu, bahwa sebagai hewan pun mereka tak punya tempat. hewan tak pernah berpura-pura. tak ada yang disembunyikan).
dentang lonceng jam jangkung di ruang tamu mengingatkanmu akan penunjuk waktu baru di pergelangan tangan. kau bangkit untuk menyiapkan panggungmu sendiri. kau bakar lagi jiwa dengan doa dan butir-butir kecemasan. juga beribu aksara sebagai penerang jalan. di sepanjang kepergian, takkan kau biarkan awan hitam pemanggul hujan memadamkan. mengalahkan.